Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Mujizat terindah


__ADS_3

Sudah hampir 30 menitan Rizon menerima telpon, dan ternyata itu dari adiknya Caca. Pembicaraan yang cukup serius sampai-sampai Rizon tidak menyadari kehadiranku.


"Oke Ca...besok kita bicarakan lagi yah... kamu hati-hati" tutupnya mengahiri pembicaraan


"Telpon Caca nanyain ibu" jelasnya tanpa kuminta


Dia duduk disampingku masih dengan segala beban dalam hatinya.


"Kakak sudah kasi tau Caca, besok dia akan pulang" dia memberitahuku.


Aku hanya diam belum bisa mengeluarkan sepatah katapun.


"Kakak benar-benar minta maaf dek...adek ikut menanggung beban kakak...kalo adek sangat berat jangan ragu untuk bilang TIDAK...kakak bisa mengerti"


Menangis, hanya itu yang bisa aku ungkapkan. Pria itu membawaku kedalam pelukannya. Tangisku pun pecah sejadi-jadinya. Dia hanya membiarkan air mataku membasahi kaos abu yang dia kenakan.


"Menangislah sepuasnya kalo itu bisa membuat hati adek lega"


"Adek..." panggilnya setelah tangisku mereda. Dan akupun hanya mendonggak menatapnya.


"Kakak sayang banget sama adek, jangan menangis kayak tadi lagi yahh... kakak benar-benar pilu mendengarnya... rasanya kakak jadi orang paling jahat membuat adek sesedih ini"


"Adek juga sayang sama kakak... adek juga bingung dan sedih melihat kakak menaggung beban seberat ini." Ucapku kembali mewek.


"Udah sayang, plisss jangan menangis lagi" bujuknya


***


Malam semakin larut, aku benar-benar tidak sadar menagis sampai tertidur. Rizon tertidur sambil bersandar di sofa, sedangkan aku tertidur di pangkuannya.


"Kak, pindah ke kamar gih tidurnya" pelan aku membagunkannya.


Sementara jam sudah menunjukkan pukul 3 dini hari.


Perutku terasa lapar. Penghuninya sudah berontak. Dari pagi tak terisi sebiji nasi pun.


Aku membuka kulkas, berharap ada maknan didalamnya. Ternyata harapan harus pupus, semua masih dalam keadaan mentah. Aku melirik ada mie instan di rak atas. Baru aja mau mengambilnya Rizon sudah berdiri di sampingku. Lumayan membuatku terkejut.


"Adek lapar... dikulkas hanya ada makanan belum jadi" jelasku


"Jangan makan mie instan dek, kondisi perut adek lagi kosong banget. Kakak buatin makanan yah"


Ucapnya seraya mengeluarkan beberapa bahan masakan dari dalam kulkas.


"Adek duduk dan tunggu...kita buat yang simple aja...Just 20 menit."


"Adek bantu" ujarku menawarkan bantuan

__ADS_1


"Adek duduk aja, entar jadi lama"


Aku hanya memandangi tangannya bergerak dengan lincah memotong daging ayam, ada bawang bombai, cabai dan entah apalagi. Yang pasti aromanya sedap serasa memenuhi ruangan.


Dan benar kurang dari 20 menit masakannya sudah jadi.


Rizon menyiapkan 2 piring yang di atasnya sudah ada cepolan nasi.


"Yang lapar kan adek, kok malah kakak yang semangat mau makan?" Candaku


"Kakak juga lapar sayang."


"Hhmmmm...lumayan..." ujarku memuji hasil racikan tangannya.


Pagi itu memberikan hawa baru. Sambil makan senyum aku suka dari seorang Rizon seolah kembali setelah beberapa terahir ini menghilang. Malam itu kami seperti orang yang melepaskan beban berat yang sangat berat. Terutama aku, menangis sepuasnya memberikan rasa lega. Meski kini mataku terlihat bengkak.


***


Masih memikirkan kata-kata Rizon yang mana ini adalah keputusan sekali seumur hidup membuatku ga bisa memejamkan mata disisa subuh yang belum menunjukkan terang. Kegelapan masih menyelimuti.


Aku hanya mondar mandir berjalan di halaman. Depan rumah sampai ke gerbang dan kembali lagi. Entah sudah berapa kali.


"Adek... siapan yukkk, kita kerumah sakit sekarang" teriaknya dari teras rumah.


Aku yang mendengar teriakanya, berjalan menuju dimana dia masih berdiri menungguku.


***


"Gimana keadaan ibu yah?" Rizon langsung bertanya


"Kalo kondisinya stabil, hari ini akan di pindah keruang rawat inap." Jelasnya


"Ayah pulang dulu, buat istrahat yah"


"Gimana-gimana cepat kabarin ayah ya. Ayah pake taksi aja" ucapnya meninggalkan kami dengan nada kuatir.


Rizon masuk keruangan yang serba putih dan hanya satu orang yang boleh masuk menjenguknya. Karena namanya juga ICU.


***


Rizon mendekati ranjang dimana ibunya masih berbaring lemah.


"Gimana perasaan ibu saat ini" ucapnya pelan


"Ibu bersyukur masih bisa membuka mata nak. Nina ada dimana?" tanyanya pada Rizon


"Ada diluar bu... nanti dank suruh masuk ya"

__ADS_1


"kasian dia harus melihat semua ini.." ucapnya lirih


"Ibu mau bertemu Nina.." pintanya yang langsung di iakan oleh Rizon yang beranjak keluar ruangan.


"Ibu mau adek kedalam"


Tanpa merespon ucapan Rizon aku melangkah menemui wanita yang terbaring tak berdaya itu.


"Ibu..."ucapku tak bisa menahan air mataku yang keburu tumpah.


Menggenggam tangannya, menatap wajah sendu yang mengharapkan kehidupan.


"Ibu harus cepat sembuh ya... Nina sedih melihat ibu seperti ini... kalo ibu sudah sembuh, Nina janji akan memenuhi apa yang menjadi harapan ibu... Tapi Nina ga mau dalam kondisi ibu sakit begini..." seketika kata-kata itu mengalir terucap dari bibirku.


Ibu yang mengerti arah ucapanku memberikan senyumannya yang yang sangat khas.


"Trimakasih sayang... mendengarnya saja ibu sudah bahagia, apalagi menyaksikannya.. Ibu akan sembuh nak, ibu akan menyiapkan yang terbaik." Ucapnya mulai bersemangat.


Entah apa yang sudah aku ucapkan hanya mengalir begitu saja. Yang ada dalam benakku hanya ingin melihatnya tersenyum dan memiliki semangat untuk sembuh.


Aku meninggalkan ruangan itu ketika meyakinkan ibu sudah tertidur. Tampak Rizon menungguku diluar ruangan dengan wajah gusar.


"Ibu kenapa dek" menyerbuku dengan pertanyaan ingin tau


"Ibu udah tertidur." Jawabku membuatnya lega.


Hanya duduk sambil sesekali bercerita ringan. Sambil menunggu jam dokter memeriksa keadaan ibu.


***


Ayah yang terlihat sudah lebih segar dan pastinya dia bolos minta ijin tidak masuk kantor. Dia tidak akan bisa bekerja dengan tenang bila kondisi ibu tidak baik seperti sekarang ini. Cinta kedua benar-benar diuji. Kesetiaan ayah patut di banggakan. Karena dalam setiap keadaan selalu setia mendampingi ibu.


Dokter yang baru keluar dari ruangan menghampiri kami dengan senyum yang sangat mengembang.


"Gimana keadaan istri saya dok???" Seru ayah kuatir


"Sebenarnya ini diluar nalar kami team medis pak. Keajaiban itu benar-benar ada. Kondisi bu Miranti normal. Saya sudah melakukan double cek dan hasilnya sama, normal. Cuma hanya butuh istirahat untuk memulihkan tenaganya. Rasanya tidak perlu dirawat inap, karena untuk istirahat dirumah bisa lebih nyaman. Yang penting kondisi ini harus di jaga. Jangan buat beban yang terlalu berat membuatnya stres berlebihan" jelas dokter membuat kami semua tercengang.


Bahagia sudah pasti dengan penjelasan dokter. Sangat bersyukur Tuhan berikan keajaiban bagi ibu.


Rizon yang mendengar berita bahagia itu langsung menghubungi Caca yang pasti sudah dalam perjalanan. Langsung dia mengambil ponsel dan menghubungi adiknya itu, yang tak lama tersambung.


" Ca, kamu tunggu di rumah aja ya..ga perlu ke rumah sakit. ibu sudah di ijinkan pulang. Ini ayah lagi mengurus administrasinya.,"


"Kok bisa??"


"Pokoknya kamu lagsung pulang kerumah aja ya. Tunggu di rumah aja" pesannya pada Caca yang senang tapi juga bingung sembari menutup telpon.

__ADS_1


Kepulangan ibu adalah anugrah dan mujizat dari Tuhan. Tapi awal pergumulanku dimulai.


__ADS_2