
Rasa bersalah semakin menimpa Rizon saat dokter menjelaskan keadaan Nina saat ini.
"Akibat benturan yang sangat keras pada kepalanya, ada pendarahan di otaknya. Akibatnya fungsi otak melemah, sehingga pasien tidak bisa memberikan respon terhadap bunyi atau rasa, yang mengakibatkan aktivitas dalam otak menurun. Dengan kata lain cedera otak."
"Artinya dok?"
" Yaghhh... berdoa saja agar dia bisa cepat siuman. Semoga semangat dalam dirinya kuat untuk sembuh. Hanya itu harapan satu-satunya. Sambil kita pantau perkembangan berikutnya..."
Serasa petir menggelegar mendengar penjelasan dari dokter. Saat ini Nina dalam keadaan KOMA. Entah kapan dia akan membuka mata, masih dalam waktu yang belum bisa dipastikan. Dan kata-kata sedikit harapan itu sangat membuat Rizon terpukul.
Dipandanginya wajah pucat yang terbaring lemah dihadapannya. Tak kuasa menahan tangis penyesalan. Seorang Rizon ternyata memiliki sisi lemah dan bisa menangis sejadi-jadinya, sembari mengumpat dirinya sendiri.
Teman-teman dekat Rizon yang juga dekat dengan Nina berdatangan memberikan semangat pada sahabat mereka. Benar-benar dihantui rasa bersalah yang sangat dalam.
3 bulan kemudian...
"sayang... bangunlah!!! Mau sampai kapan adek akan tertidur. Kakak sangat merindukanmu. Bangunlah sayang, jangan seperti ini. Ayo kita pulang ke rumah..." suara Rizon bergetar putus asa.
Kembali air mata itu menetes. Kondisi Rizon sangat memprihatinkan. Breoknya tumbuh tak beraturan, matanya sayu menunjukkan tak ada semangat hidup. Kesehariannya tak terawat. Usahanya lebih sering dilimpahkan pada asistennya. Lebih sering menemani Nina yang entah kapan akan terbangun dari hibernasinya.
"Dank..." suara dibelakang serta sentuhan dipundaknya membuatnya tersadar.
"Makan dulu... jangan menyiksa diri dank. Semua sudah terjadi. Kamu mau disaat Nina terbangun melihat kondisi dank memprihatinkan seperti ini?" Caca memberi kakaknya semangat
Tak ada jawaban, Rizon kembali menatap istri terkasihnya. Hanya bisa memandangnya.
***
__ADS_1
Tanpa lelah Rizon mengajak Nina berinteraksi dengan berbicara layaknya orang lagi ngobrol. Meski endingnya selalu menyisakan sesak bagi Rizon sendiri.
Dipintu masuk tampak sosok Ayu datang dengan pandangan tak percaya dengan apa yang dilihatnya. Nina yang terbaring tak berdaya, sementara Rizon dengan kondisi tak terawat.
"3 bulan membuatnya berubah ga karuan seperti ini" batin Ayu
"Rizon..." panggilnya pelan tapi cukup membuat lelaki itu menoleh
"Untuk apa kamu kemari?" suaranya tak bersahabat
"kamu senang sekarang melihat kondisi saat ini?"
"Rizon..."
"Tidak perlu mengasihani kami Ayu. Ini yang kamu harapkan. Sudah cukup kamu selalu memberi masalah dengan kelakuan kamu yang selalu memicu pertengkaran antara aku dan Nina. Kamu hebat, kamu sukses"
"Aku ga menyalahkan kamu. Sebelum aku menyalahkanmu mending sekarang kamu pergi. Tinggalkan tempat ini."
Ayu yang shock dengan sikap Rizon memilih melangkahkan kakinya meninggalkan ruangan itu sambil menangis.
Kedua tagannya meremas rambutnnya sendiri, menahan kekesalan.
Seketika Rizon menatap Nina sambil menggenggam erat tangannya. Ada air bening disudut matanya.
"Dalam tidur panjangmu pun kamu bersedih sayang. Maafkan kakak" bisiknya sembari menghapus lembut sudut mata Nina.
Dokter memasuki ruangan membuat Rizon bangkit dari duduknya.
__ADS_1
"Dok, apa orang yang sedang koma itu bisa menangis?" tanyanya antusias
"Itu salah satu respon yang baik pak. Kapan itu terjadi?"
"Barusan dok. Tadi ada teman yang punya hubungan yang kurang baik datang menjenguk. Saya sempat ribut kecil dengannya. Saat teman saya pulang, disudut mata istri saya ada air, seperti orang sedang menangis."
"Itu bagus pak. Sering-sering ajak cerita. Mungkin hal-hal yang sering buat dia senang. Mudah-mudahan itu bisa membantu." Jelas dokter sambil melanjutkan memeriksa kondisi Nina.
"Sejauh ini kondisinya stabil pak. Semoga lekas ada keajaiban ya. Sambil berusaha kita sama-sama berdoa untuk yang terbaik."
Setelah memeriksa keadaan Nina, dokter meninggalkan ruangan diantar oleh Rizon sampai didepan pintu.
Caca datang dengan tentengan makanan ditangannya. Dia yakin pasti kakaknya itu melewatkan makan siang lagi.
"Dank... ini kamu makan dulu. Biar Caca yang tungguin Nina, masih ada waktu sebelum ganti shift."
"Dank makan nanti aja Ca. Masih belum lapar"
Jawaban klise yang pasti akan menjadi alasannya.
"Mau sampai kapan kamu menyiksa diri dank?"
"Ca...!!!"
"Nina ga mungkin akan sembuh seketika dengan kamu menyiksa diri seperti ini. Malahan dia akan sedih saat bangun dari komanya dengan keadaan memprihatinkan seperti ini. Sadar satu hal dank, dia bisa bangun kapan pun. Aku harap jangan terlarut seperti ini. Bersikaplah positif." ucap Caca dengan nada sedikit tinggi
Rizon memndengarkan ucapan Caca yang banyak benarnya. Dia harus berubah, dia harus semagat untuk Nina. Dia sadar Nina akan bisa sadar kapan saja dan dia ga mau kondisi memprihatinkan akan menjadi pandangan pertamanya. Yahhh, dia harus bersiap. Dengan keyakinan jika istri tercintanya akan segera pulang kerumah.
__ADS_1