Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Kucing-kucingan kesal


__ADS_3

Perlahan kubuka mata, rasanya berat sekali. Entah sudah berapa jam aku tetidur dan jam sudah menunjukkan pukul 6. "Tumben pada sepi, pada kemana nie orang-orang?"


Hanya ada mami yang lagi nonton tv.


"Mi, pada kemana kok sepi??"


" Tadi bilangnya Endah sama Fitri mau ke pantai"


"Kok ga ngajak sie!!! Kesalku


"Tadi maunya mereka ngajak Nina, tapi kasian kayaknya kecapean. Mami bilang biarin aja"


Aku mengerti setelah mami jelasin sembari duduk disampingnya ikutan nonton.


"Kemarin malam jadi diantar pulang sama sie kakak?" Maksud mami kak Rizon


"Jadi mi... dah hampir jam 12 baru pulang"


"Iyaaa ga papa, lagian kan mami tau ada acara. Sesekali ga papa kok."


"Makan dulu gihhh, mami bikin puding tuhhh ada di kulkas..."


"Bentar aja mi, masih malas mau makan, capek minggu ini benar-benar kerasa."


Ingat mau telpon balik ahirnya aku kembali ke kamarku. Meraih handphone dan membuka beberapa chat dan membalasnya. Ada 14 panggilan tak terjawab dan itu cuma dari satu orang "kak Rizon"


Selain itu ada chat nya juga.


R-b : kakak telpon yahhh


R-b : masih sibuk yahh???


R-b : kalo emang ga niat mau telpon balik ga usah janji mau nelpon balik๐Ÿ™๐Ÿ™๐Ÿ™


R-b : ya dah gpp, selamat istirahat


R-b : semua centang dua tapi ga ada yang dibaca๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ๐Ÿ˜ฅ

__ADS_1


R-b : adekkkkkk


Rentetan pesan langsung membuatku merasa bersalah.


sedikit ragu aku menekan tanda call...


"Tuuuutttt" baru berdering satu kali panggilan langsung di angkat yang artinya handphone sedang ON lagi dipegang.


"Hallloooo"


"Halloo" balas dari seberang dan suara perempuan.


Spontan aku mengahiri panggilan. "Kak Ayu" aku langsung mengingat nama itu.


"Mungkin mereka sudah baikan" fikirku


***


Sampai sudah lebih jam 10 malam, masih ga ada chat ataupun telpon dari kak Rizon, tapi aku ragu buat ngabarin, takutnya mengganggu.


Hanya diam di kamar seperti kebiasaanku semasa masih di rumah. Sepertinya kamar adalah tempat terbaik bagiku, tempat paling nyaman. Dan kalau sudah di kamar aku bisa melupakan segala hal persoalan di luar sana.


"Belum Ndah, kenapa??? Ucapku sembari membukakan pintu.


"Aku boleh tidur di sini??"ucapnya langsung rebahan sebelum aku mengijinkannya.


"Bolehhh"


"Aku ga bisa tidur" curhatnya


"Cowok aku di Dumai barusan nelpon. Bukannya kangen-kangenan ehhh malah berantam." lanjutnya antara sedih dan kesal


"Namanya juga jarak jauh, berat cemburunya" aku menimpali ucapannya.


"Sebelum kesini, aku juga baru putus sama cowok aku. Soalnya pertimbangan jarak jauh berat. Ahirnya kami memilih untuk putus baik-baik dan kita tetap temenan baik. Biar ga ada yang merasa bersalah atau yang tersakiti. Tohhh kalo emang jodoh ga aka kemana." Aku ikutan curhat jadinya.


"Ga rela Na, perjuangan bisa jadian sama cowok aku tuh berat. Giliran udah jadian malah dapat kuliah jauh gini."

__ADS_1


"Iklasin aja, kalo emang jodoh pasti nanti ketemu juga. Nikmati yang ada di depan mata aja Ndah."


Banyak cerita ngawur ngidul sampai tak terasa udah larut.


Ada sisi lain dari seorang Endah yang ceria, yang bawel dan yang terlalu percaya diri, ternyata memiliki hati yang lembut cenderung rapuh. Tapi sikap luarnya berusaha menutupi kekurangannya itu.


"Btw, laper euy..." serunya tiba-tiba


"Sama" balasku sambil beranjak duduk


"Masih ada ga yah jual makanan jam segini???"


Pelan-pelan kami berdua keluar rumah sambil melirik kiri kanan memperhatikan dagang yang masih buka. Emang rejeki anak sholeh, tepat beberapa ratus meter abang jualan martabak masih on mencari rejeki.


"Mau rasa apa Na??"


"Keju susu kismis boleh..."


"Boleh juga tuhhh, beli 1 buat berdua aja yah"


"Iya lahh, kebanyakan entar juga malah ga habis, kasian"


***


Udara malam itu dingin luar biasa. Beberapa kali aku mengusap-usap lenganku menghilangkan rasa dingin. Dan ga lebih 10 menit ahirnya pesanan datang. Dan tanpa menunda setelah membayar kami pun pulang.


Baru nyampe handphoneku tumben ada chat masuk di tengah malam.


R-b : jam segini belum tidur, tapi ga nelp balik juga. Chat dari tadi ga satu pun dibalas.


"Hhhuuffhhh" desahku langsung memencet tombol call menyadari mungkin tadi dia melihat kami lagi beli martabak.


"Tut tuttt tuttt" telpon diriject


Dengan sedikit kesal aku melempar handphone ke kasur dengan sembarangan.


***

__ADS_1


Perut yang semakin lapar mengalahkan segalanya. Sambil nyomot sepotong martabak aku mengambil gelas yang artinya ingin membuat sesuatu yang hangat. Dan pilihan jatuh ke segelas teh panas.


Untung saja besok hari minggu, jadi mau bangun jam berapa pun aman.


__ADS_2