Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Kejujuran sang suami


__ADS_3

"susahnya kalo sudah ngambek, ponselnya benar-benar disimpan" kesal Rizon pada diri sendiri.


Sudah menghubungi teman-teman dekatnya, mencari ke kosan, kerumah bahkan ke pantai tempat biasa dia kalo lagi banyak fikiran sudah didatanginya. Tapi hasilnya nihil. Dengan kondisi kaki yang sakit rasanya ga mungkin Nina pergi jauh.


R-b : kamu lagi dmn dek???


Berusaha mengirimkan pesan baru, meskipun pesan lama belum dibaca.


Rizon memarkirkan mobil di jalanan yang sering dilalui Nina ketika berjalan kaki menuju pergi dan pulang kampus. Berharap akan menemukan istrinya yang sedang marah padanya.


Satu jam dan bahkan sudah hampir dua jam dia menunggu tak kunjung bertemu juga. Sudah hampir sore, pukul 3 yang panasnya serasa jam 12 tepat. Wajah Rizon sudah tampak memerah, keringat sudah mulai.


membasahi kaos yang dikenakannya karena panasnya hari yang luar biasa.


Frustasi sambil menahan lapar dan haus karena belum makan dan minum apapun dari pagi. Sarapan pagi yang gagal keburu Nina ngambek.


***


Aku masih betah diperpustakaan tempat favorit yang Rizon tidak sadari. Membaca terkadang membuatku lupa waktu dan yang pasti bisa mengalihkan segala permasalahan yang sedang aku alami.


Melihat ponselku yang banyak panggilan tak terjawab, serta pesan. Jam yang sudah menunjukkan sore membuatku memilih memesan ojek sebelum perpustakaan tutup. 10 menit berlalu, ojek yang aku pesan sudah menunggu didepan perpus. Aku beranjak dengan malas menuju pulang dan pastinya akan membuat otakku ruwet lagi.


Setibanya dikosan aku langsung membersihkan diri, mengganti pakaian dan membaringkan tubuhku yang lelah. Perutku mulai berontak karena belum mendapatkan makanan dari pagi tadi.


Membuka setiap pesan Rizon yang masih entah dimana.


Me : maaf kak, adek udah dikosan


Membalas pesan yang langsung dibaca oleh Rizon. Yang artinya dia siaga memegang ponselnya.


Tapi anehnya sudah hampir setengah jam Rizon belum juga datang.


"lagi apa dia? tumben ga langsung datang... diluar kebiasaannya." lirihku pada diri sendiri.


Perut laparku sudah tidak bisa diajak kompromi. Niatku menunggunya sebelum memesan makan aku kubur dalam-dalam.


"kenapa sepanjang hari ngeselin ya!!!" marah-marah pada diriku sendiri sembari menutup pintu kamar dan malah berbaring dan menutup mata untuk tidur.


Tak sadar mata tertutup tapi hatiku ingin menangis, air mataku pun meraja lela membasahi bantal. Kembali mengingat wajah Ayu dan segala ucapannya. Fikiranku mulai tak terkendali.


***


Pintu kamar diketuk disaat mataku sudah mulai berat. Kaki yang sakit membuatku menjadi lambat untuk bergerak.


"ini kakak dek, buka pintunya..." seru Rizon didepan pintu yang terkunci.


"Pulanglah, aku mau sendiri..." balasku dengan berat hati.


"Kakak akan pulang, tapi adek harus makan dulu... kakak ga akan pulang sebelum adek makan..."

__ADS_1


"aku sudah makan..." ucapku berbohong


"jangan menyiksa diri dengan segala kemarahan dek..."


Lama tak ada suara, dan Rizon masih menungguku keluar. Duduk memandangi keluar pagar dengan tatapan kosong.


"Nina belum pulang kak???" suara Endah terdengar baru datang.


"udah, kayaknya lagi tidur... makanya kakak tunggu dia bangun aja. kasian tadi malam ga bisa tidur kakinya sakit." jelasnya berbohong


Endah yang melihat kebohongan dimata Rizon mengetuk pintu kamarku.


"Biarin dia bangun sendiri aja Ndah, kasian kalo dibangunin kepalanya bisa sakit..." ujarnya menghalangi Endah.


"kakak titip ini aja ya... nanti kakak balik lagi" Rizon sengaja meninggalkan kosan Nina agar dia mau keluar dari kamarnya.


Endah yang bingung menerima bungkusan yang ga lain adalah makanan untuk Nina.


Rizon meninggalkan kosan dengan perasaan sangat kecewa. Seharian dipenuhi rasa kuatir dan pada ahirnya masih menelan kekecewaan.


***


Dalam kesalku, aku merindukan suamiku. Setelah dia pulang aku benar-benar memikirkan apa yang sebenarnya terjadi.


"aku terlalu egois dan terlalu kekanakan. Aku terlalu membesarkan masalah" batinku dalam hati


Dengan ragu aku meraih ponselku.


Panggilan sibuk...


beberapa kali mencoba "telpon yang anda tuju sedang sibuk"


Me & R-b : kok telponnya sibuk terus???


Aku tersenyum membaca pesan yang sama seperti yang aku kirimkan. Dari tadi panggilan ketemu diudara. Sama-sama menghubungi yang jadinya ga nyambung.


Me : maafin adek...


R-b : kakak minta maaf ya...jangan marah lagi...kita bicarakan kesalahpahaman ini...


love u sayang...😘😘😘


Me : love u too...😘😘😘


Meski masih ada sisa-sisa kekesalan, aku berusaha menata hatiku. Memberikan ruang maaf, karena ga sepenuhnya ini kesalahan Rizon.


R-b : kk masih dikantor , ada urusan...


sebentar kk k tempat adek... jangan lupa makan ya...obatnya jagan sampai ga diminum ya...

__ADS_1


Aku memang menunggunya, tapi chat itu menandakan dia sedang sibuk dan aku ga mau membuanya terburu-buru.


Me : adek capek, mau tidur dulu...


kk jangan lupa makan ya...


good night😘😘🙏🙏🙏


Ucapan selamat tidurku berharap dia lebih santai melakukan pekerjaannya.


***


Niat untuk tidur lebih awal ternyata ga segampang mengucapkannya. Rasa kantukku hilang, padahal sudah mematikan lampu. Perasaan masih bercampur aduk dengan semua permasalahan yang ada.


Kembali menghidupkan lampu, membuka laptop sambil mengerjakan makalah yang sebenarnya masih untuk minggu depan. Suara mobil yang sangat tidak asing bagiku berhenti didepan menghentikan ketikan jemariku. Padahal aku sudah memintanya untuk tidak datang.


"kok belum tidur..." suaranya mendamaikan hatiku yang sedang kacau.


Aku hanya bisa nyengir menaggapi ucapannya.


"Sudah kakak duga adek ga akan bisa tidur secepat itu..."


Tanpa aku suruh dia masuk dengan tas laptop dan beberapa map ditangannya. Menaruhnya diatas meja dan langsung menuju kamar mandi.


Keluar dengan wajah yang masih basah. Rizon mengeringkannya dengan tissue seraya duduk disampingku.


"Masih sakit???" tanyanya pada luka kakiku


"Udah ga begitu sakit..."


"besok sore kita kedokter, buat cek lagi"


Aku hanya mengangguk mengiakan.


Dia menyandarkan punggungnya di tempat tidur. Terlihat jelas hari yang melelahkan baginya.


"Tadi sepulang kuliah adek kemana???" tanyanya datar


"ga kemana-mana... emang apa peduli kakak?" emosiku mulai naik


"plis jangan kayak gini dek... semarah-marahnya adek sama kakak jangan pernah mengabaikan kasi tau adek dimana... kalo emang adek ga mau bertemu, kakak ga akan maksa. Tapi tolong jangan buat kakak seperti orang gila nyariin adek..."


Aku hanya bisa menatap lantai mendengarkan omongannya yang panjang lebar. Menumpahkan segala unek-unek dihatinya.


"Ayu itu bukan siapa-siapa bagi kakak. Sekarang cuma adek, ga akan pernah ada yang lain...Tolong percaya sama kakak"


"kakak ga tau dan ga mau tau soal perasaan Ayu, karena kakak ga pernah memberi harapan apa-apa... Pertemuan kakak hanya sebatas teman satu kelas, dia maen kerumah juga karena ada tugas bersama. Dan kakak ga pernah berdua-duan sama dia" jelasnya tanpa kuminta.


"kalo adek masih ga yakin, kakak akan ajak Ayu. Kita bicarakan sama-sama" tegasnya

__ADS_1


Bibir tak bisa berucap, itu yang saat ini terjadi. Tapi entah mengapa hatiku terlalu sakit mengetahui ada gadis lain yang sedang memikirkannya.


"Apa benar aku terlalu egois???"


__ADS_2