Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Pulang bersyarat


__ADS_3

Kebahagiaan yang tak terlukiskan disaat dokter mengatakan jika istri terkasih sudah diperbolehkan untuk pulang, meski belum 100% kondisinya sembuh. Seminggu sekali Nina harus terapi, dan segala macam pemeriksaan.


Melangkahkan kaki dengan perasaan asing meski bersama suami dan adik iparnya sendiri. Dia percaya hanya karna akta nikah yang memlbenarkan jika mereka adalah suami istri, hanya karena Caca adalah adiknya Rizon maka dia mempercayai kalau dia adalah iparnya. Sungguh kondisi yang sangat menyedihkan, tak satupun ingatannya tentang hubungan dan orang-orang sekitarnya. Bahkan siapa dirinya pun masih dalam tanda tanya.


"Kita pulang sekarang sayang..." ucap Rizon penuh semangat setelah menyelesaikan administrasi.


"Pulang???"


Tanpa menunggu respon Nina, Rizon mengangkatnya kekursi roda yang barusan dibawanya. Kakinya yang mengalami patah membuatnya tak bisa berjalan sendiri. Pemasangan pen dikakinya membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa berjalan normal seperti biasa. Itu pun jika berhasil. Jangankan berjalan, berdiri saja dia tak mampu.


Tiba-tiba Nina meneteskan air mata, isaknya sangat memilukan. Dia menatap kakinya sendiri.


"Kenapa aku jadi seperti ini? Tidak ada gunanya aku hidup dengan kondisi seperti ini"


"Sayang, jangan bicara seperti itu. Kakak ada buat kamu. Kakak akan menjadi kakimu kemanapun kamu mau melangkah" Rizon memeluk erat Nina yang sangat rapuh. Berusaha memberikan kekuatan. Tampak disudut matanya menunjukkan kesedihannya, tapi buru-buru dia menyekanya, tak ingin kesedihannya dilihat sang istri.

__ADS_1


Pelahan dia berjongkok didepan Nina. Digenggamnya erat tangan itu. Mata keduanya saling bertemu.


"Jangan pernah merasa adek sendirian. Kakak ada buat kamu. Kita akan lalui ini bersama-sama." Ucap Rizon penuh penekanan.


Nina memeluk lelaki dedepannya dengan menumpahkan tangisnya yang pecah. Dengan belaian lembut dirambutnya membuatnya sedikit merasa tenang.


***


Perlahan mobil memasuki kawasan perumahan dan berbelok disalah satu rumah minimalis modern yang tak lain adalah rumah mereka. Nina masih dalam ribuan pertanyaan. Tapi dia hanya memendamnya sendiri dengan segala keadaan yang membuatnya bingung dengan situasi yang semua asing baginya.


"Ini adalah rumah kita sayang... Dulu setelah menikah adek ga langsung tinggal disini. Beberapa bulan adek masih tinggal dikosan. Ehh iya, nanti kakak akan ajak kekosan kamu yang dulu." Rizon menjelaskan dengan pelan.


Mengajaknya menunjukkan tiap sisi rumah yang sebenarnya banyak memberikan kenangan namun semua hilang dari ingatannya.


Setelah menunjukkan sisi rumah Rizon mengajaknya menuju kamar. Karena Nina harus istirahat.

__ADS_1


Dengan perlahan Rizon membaringkan tubuh mungil itu diatas ranjang. Mata sendu Nina menyapukan pandangan keliling kamar. Banyak foto-foto terpajang menghiasi setiap sudut kamar. Satu titik matanya berhenti pada figura berukuran besar.


"Itu foto saat pernikahan kita."Jelas Rizon sebelum diminta


"Ibu???"


"Iya sayang, tapi sekarang ibu sudah tidak bersama kita lagi. Ibu sudah meninggal"


Mata sendunya kini sudah digenangi air yang siap tumpah.


"Kenapa aku ga ingat satu pun kak?" Nina mulai sedikit frustasi.


Tangan kekar Rizon meraihnya kedalam pelukannya. Berusaha mengalirkan kekuatan.


"Jangan dipaksakan sayang. Pelan-pelan pasti akan mengingat semuanya. Kakak ada buat kamu."

__ADS_1


Lelah berfikir membuat Nina tertidur. Rizon menarik selimut menutupi tubuhnya. Dengan senyum dibelainya dengan lembut wajah yang sudah terlelap.


"Semua akan baik-baik saja sayang. Kita aka lewati masa-masa sulit ini bersama." lirihnya mengulang kalimat yang sudah pernah dilontarkannya.


__ADS_2