Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Dilarang Baper


__ADS_3

Aku ga tau Endah sengaja atau bagaimana. Belum jam 6 dia sudah berangkat meninggalkanku dijemput oleh salah satu teman satu kelompoknya. Alasannya ga bisa ngajak aku karena dijemput pakai sepeda motor. Padahal acara baru dimulai pukul 7. Sedikit kesal juga "ga setia kawan" gumamku kesal.


Aku masih dikamar ketika Fitri nongol di depan pintu.


"Masuk Fit..."


"Kok Endak udah berangkat kamunya belum?" Tanyanya memastikan.


" biarin deh" balasku singkat sedikit kesal.


"Lagian acaranya baru jam 7 kan?" Fitri memastikan


"Iya Fit...ga papa kok. Nanti naik angkot aja"


Sambil aku sedikit dandan masih sambil ngobrol bersama Fitri yang sikapnya lebih dewasa dibandingkan dengan Endah yang kekanak kanakan. Rambutku yang panjang sengaja aku biarkan terurai. Hanya menjepit poni kearah atas kepala.


"Ttiiinnn..." suara klakson mobil berhenti di depan pagar. Fitri yang melongok keluar pintu memanggilku.


"Siapa tuh? Tamunya mami" ujarnya


"Mungkin" balasku asal sambil melanjutkan merapikan rambutku.


Fitri dengan inisiatif masuk kerumah mami untuk memanggilnya.


" masuk dulu nak, Nina lagi siapan tuh"


Aku yang mendengar namaku disebut menoleh keluar pintu dan lagiii "dduggghh" tiba-tiba jantungku berubah irama semakin kencang.


" dia benar- benar jemput" fikirku yang memang lupa.


"Pasti lupa ya kalo dah janjian" ledek Fitri mulai ikut menggodaku.


"Apaan sieee..." seraya bangkit mengambil tas dan mengunci pintu kamar.


"Brangkat sekarang kak?" Basa basiku berusaha biasa aja dan dibalas dengan senyuman sembari beranjak dari duduknya.


"Mami brangkat yahhh" pamitku seraya meraih tangannya buat salim


"Nanti pulangnya saya yang tanggung jawab bu..." ucapnya membuat mami tersenyum lebar...


Tanpa menunggu godaan semakin menjadi aku berjalan mengikuti langkah kak Rizon yang membukakan pintu buatku.


"Tuhan, sadarkan aku..." gumamku dalam hati.


Sambil membenarkan duduknya kakak yang baik hati itu tersenyum kearahku penuh makna...

__ADS_1


"Cantik..." pujinya tiba-tiba


Aku pun merasa wajahku panas dengan pujian itu.


"Makasi..."


"Jalan sekarang yaghhh" tanyanya seolah minta ijin...


"Sekarang lah kak, masa besok..."


"Hhheee..."


Dia pun mejalankan mobilnya perlahan. Benar-benar santai. Bisa-bisa bebek aja bisa nyalib.


Dalam perjalanan ga banyak yang kami bicarakan. Pertanyaan-pertanyaannya hanya kujawab singkat "ya" or "tidak"


Dia lebih banyak bercerita yang tidak ada respon cerita balik dariku.


Kesannya garing, tapi aku benar-benar ga bisa banyak bicara.


Yang ada dibenakku hanya "takut baper"


***


Benar-benar jauh dari bayangan ospek yang sebelumnya aku fikirkan. Malam ini benar-benar malam kebersamaan. Dimana semua tampak sama, artinya tidak ada batasan antara kakak kelas dan kami mahasiswa baru.Semua berbaur, saling bercerita berbagi pengalaman. Pandangan yang indah menyambut hari-hariku sebagai mahasiswi baru jurusan peternakan.


"udah ada kak" balasku sembari menunjukkan box makanan yang isinya sudah setengah.


"boleh duduk di sini" pintanya sopan


dan aku hanya mengikan tanda setuju.


"gimana acara tadi siang?" Tanyanya sok akrab


"lumayan seru kak. dan ga terasa kalo udah sore aja" balasku


"Biasanya anak peternakan itu suka bikin cara ngumpul-ngumpul gini. Meski acara murah meriah, sekedar bakar jagung... kayak silaturahmi lahhh... jadi rata-rata meski berbeda angkatan tuhh udah saling kenal.


Karena kita tuh saling membutuhkan, jadi akrab dengan kakak kelas itu banyak untungnya. Sama juga kakak kelas ke adik kelasnya. Istilahnya Simbiosis mutualisme lah. Saling menguntungkan"


Jelas kak Andar panjang lebar.


Berbeda terhadap kak Rizon, terhadap kakak yang satu ini aku bisa banyak bercerita entah kemana mana ceritanya bisa saling nyambung.


Pembahasan demi pembahasan tanpa disadari melewatkan malam yang cukup dingin.

__ADS_1


Aku menatap sekelilingku yang masih dengan cengkrama satu sama lain. Berbagai ekspresi yang ditunjukkan. Sampai ketika mataku terhenti di salah satu sisi tepatnya di depanku yang hanya terhalang api unggun yang masih menyala.


sosok yang hampir membuatku baper sedang asik bercanda ria sambil sesekali tangannya mengambil makanan yang dipegang oleh kak Ayu.


"Sedekat itukah mereka?" Fikirku dalam hati...


Tapi seketika aku disadarkan gigitan binatang kecil yang ga lain adalah semut.


"Semut aja ngerti kalo kamu ga boleh baper" gumamku mengingatkan dalam hati.


***


Seperti janjinya pada mami, kalo dia yang bertanggung jawab untuk mengantarku pulang ke kosan, dan dia menepati janji itu.


"kakak antar pulang sekarang???" serunya menghampiriku yang masih duduk bersebelahan dengan kak Andar. Tatapannya berbeda sambil dia menyapa kak Andar, lebih tepatnya ada tatapan kurang suka.


"sekarang???" balasku seraya berdiri membersihkan dedaunan kering yang menempel di celanaku.


Sebenarnya aku enggan pulang bersamanya, tapi mengingat ini sudah malam dan kalo lewat jalan pintas yang biasa kami lewati dengan berjalan kaki pasti gelap luar biasa dan satu hal dia sudah berjanji pada mami.


Aku mengikuti langkahnya menuju parkiran yang tidak jauh dari tempat dimana acara tadi berlangsung.


Tanpa banyak bicara aku langsung masuk ke mobil saat dia sudah membukakan pintu.


"trimakasi" ucapku tanpa ada balasan darinya dan berlari kecil menuju kursi kemudi.


Perjalanan hening sehening-heningnya. Tatapannya lurus kedepan fokus memegang kemudi, begitu juga aku yang hanya menatap kesamping mengalihkan pandaganku tanpa sepatah katapun.


Entah apa yang terjadi, aku pun ga mengerti. "apakah dia mengantarku ada masalah dengan kak Ayu??? atau hanya sekedar memenuhi janjinya pada mami.


Benar-benar tanpa sepatah katapun, ahirnya sampai di kosan. Tanpa menunggu dia membuka pintu, aku keluar dan tak lupa mengucapkan terimaksih.


"makasi banyak kak udah nganterin pulang"


Dia hanya menatapku dengan tatapan dingin, membuatku ga mengerti.


Saat aku membuka gerbang dia masih belum beranjak dan membuatku menoleh kembali.


Pandanganku bertemu yang semakin membuat ku kacau.


"Ada apa dengannya?"


" Aku masuk dulu ya kak, trimaksi untuk tumpangannya..."ucapku seraya mengunci gerbang.


Sekitar 10 menitan baru aku dengar suara mesin mobil meninggalkan depan kosanku, yang artinya 10 menitan dia masih berdiam di depan.

__ADS_1


"Ada apa dengannya, kok jadi aneh" fikiranku masih mengganggu.


Dengan hati yang galau dan badan yang lelah kuputuskan untuk melupakan segala masalah untuk sejenak. "Tidur" pilihan yang tepat.


__ADS_2