
Beberapa hari dikota Manna, dirumah kakeknya yang sudah tampak sangat keriput, menikmati hari-hari yang masih bebas dari tugas.
Pagi yang sudah menginjak siang, Theo baru terbangun dari mimpi malamnya. Rumah sangat sepi. Tak terlihat wajah kakek maupun Prisa disana.
"Masih jam segini pada kemana penghuni rumah ini?" Ujar Theo sembari membuka kulkas dan mengambil sebotol air dingin.
Glek glek glek...
Satu botol 600 ml diteguknya sampai kandas.
"Minum air kok maraton" Suara Prisa menyadarkan Theo yang masih berdiri didepan kulkas.
"Kalo minum air tuh duduk, ga baik sambil berdiri gitu" ucap Prisa
"Emang urusan apa? Mau berdiri, mau jongkok, mau tidur suka-suka saya dong" Theo
"Ya wes kalo dikasi tau ga mau tau." Prisa cuek seraya meninggalkan Theo
"Apaan sie. Dasar cewek aneh. Kayak jelangkung aja, datang tak diundang pulang tak diantar" gerutu Theo
"Ehhh kamu, tunggu dulu" Teriak Theo menghalangi langkah Prisa
"Kenapa???" Balas gadis itu tanpa menoleh
__ADS_1
"Kakek dimana?" tanya Theo
"Kamu cucunya bukan sie? Kakek sendiri menghilang dari rumah ga tau."
"Apa susahnya kalo ditanya jawab sesuai yang ditanyakan" Theo mulai kesal dengan sikap Prisa yang selalu membalas bertanya dengan pertanyaan.
"Maaf saya harus pergi..."
"Ehhh kamu, saya belum selesai. Dasar cewek aneh bin ajaib" gerutunya sambil menuju kamar
Gadis itu tanpa basa basi meninggalkan rumah dengan wajah kesal dengan cara bicara Theo yang dia rasa terlalu sombong dan tidak ramah.
Niat yang hanya ingin mengambil kartu berobat kakek berujung kesal karena bertemu dengan Theo.
***
"Heii kamu..."Sapa Theo yang baru saja pulang
"Maaf, saya punya nama" balas Prisa ketus
"Iya saya tau. Mau pulang sekarang?" tanyanya berusaha ramah. Tapi diluar harapannya gadis itu malah diam sibuk memakai helm dan menghidupkan motornya
Lagi-lagi Theo mendapat sikap ketus Prisa.
__ADS_1
"Aneh benar benar cewek aneh" kesalnya sepeninggalan Prisa
Theo mamasuki rumah yang selalu sepi itu. Menghampiri kakek yang sedang rebahan dikamarnya.
"Baru pulang Theo?" Sapa kakek
"Iya kek, tadi Theo mampir ke rumah tante. Mumpung masih di sini. Ohh iya kek, besok Theo akan pulang, biar bisa persiapan mulai kerja."
"Iya, kerja yang benar. Liat perjuangan papa kamu membuat perusahaannya sebesar sekarang. Kakek harap kamu bisa mengikuti jejak papa kamu. Tapi ingat jangan gila kerja dan hanya mikirin perusahaan. Mikirin diri sendiri juga wajib ya"
"Kakek ada-ada aja. Fokus kerja ya harus benar-benar fokus lah"
"Maksud kakek jangan seperti papa kamu. Gila kerja sampai tidak memikirkan dirinya sendiri. Sudah begitu lama mama kamu meninggal tapi papa kamu masih terlalu larut dalam kesendiriannya. Rasanya Nina juga tidak akan marah, dan kamu tidak akan melarang jika papa kamu menikah lagi"
"Theo tidak pernah melarang kek kalo papa menikah lagi. Bahkan kalo itu bisa terwujud Theo sangat senang. Papa tidak larut dalam bayang-bayang mama. Papa bisa berbagi beban"
"Tapi papa kamu susah untuk diajak bicara soal itu Theo. Mama kamu sangat berharga baginya. Bukan hanya bagi papa kamu, bagi semua keluarga kita. Mama kamu banyak memberikan kebahagiaan atas rumah ini. Mama kamu banyak berkorban demi rumah ini. Salah satu yang dia korbankan adalah masa mudanya, cita-citanya..."
Theo dengan serius mendengar cerita sang kakek. Memang benar ucapan kakek soal papa yang sampai saat ini sangat menikmati kesendiriannya. Rasanya cintanya pada sang mama tidak dapat digantikan oleh hati manapun. Bahkan dirinya sendiri tidak mampu mendapatkan hati itu.
Seumur hidupnya ini kali pertama kakek banyak cerita tentang sosok mama yang dari cerita kakek adalah wanita yang sangat luar biasa.
Kisah seorang Nina Agatha yang banyak dikenang oleh banyak orang, oleh keluarganya yang sangat mencintai wanita itu.
__ADS_1
Tapi sayang, waktu tak berpihak padanya yang sudah kehilangan sang mama disaat dirinya baru saja menghirup udara dunia.
THE END