Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter67


__ADS_3

6 bulan berlalu


Menjalani peranan masing-masing dalam rumah tangga. Menikmati setiap momen kebahagiaan yang membuat keduanya ga sedikitpun menyianyiakan waktu. Perjalanan rumah tangga muda yang ga sedikit menjalani cobaan. Apalagi diawal pernikahan mereka. Keduanya sama-sama menyadari dan berusaha saling dalam setiap keadaan.


Kesibukan Rizon dalam menjalankan perusahaan yang semakin berkembang. Nina juga sedang merintis usaha kulinernya yang lagi rame-ramenya. Dalam waktu beberapa bulan berhasil menjadi kuliner kekinian yang disukai banyak kalangan.


Waktu bertemu menjadi sangat-sangat terbatas.


"Sayang, dank hari ini pulang agak telat ya. Ga usah ditunggu, adek istirahat aja duluan. Ingat jangan lupa makan ya..." Rizon pamit setelah menyelesaikan sarapannya.


Nina mengubah panggilannya bukan "kak" tapi "dank" yang mempunyai arti yang sama. Merasa lebih manja dia dengan panggilan itu selain panggilan-panggilan manis lainnya.


"Iya sayang... Dank juga jangan lewatkan jam makannya ya. Jaga kesehatan, jangan terlalu diforsir ya..."


"Iya sayangku..."


"Hati-hati ya..."


Rizon mengecup lembut bibir dan kening Nina sebelum dia berangkat menuju aktivitas yang lumayan padat. Ritual wajib sebelum keduanya dipisahkan oleh pekerjaan mereka masing-masing.


"Daghhh..." lambaian tangan yang mengantarkan suaminya berangkat.


"Auuugghhh..." Sakit diperut terasa sangat menusuk. Dengan sekuat tenaga Nina menuju dalam rumah. Keringat mulai menetes padahal badannya terasa dingin.


Menahan sakit, Nina merebahkan tubuhnya sofa.


Bukan sekali dua kali sakit yang sama menyerangnya tiba-tiba. Tapi seminggu terahir ini sakit itu lebih sering datang. Dengan istirahat sebentar biasanya akan hilang sendirinya.


Sambil menarik nafas dalam dan menghembuskannya sedikit memberikan rasa nyaman dan sakitnya berkurang.


Pelan dia berjalan, meraih gelas berisi air diatas meja makan. Sambil duduk sakitnya masih terasa. Sudah dipastikan hari ini Nina akan istirahat dirumah.

__ADS_1


***


Malam semakin larut, jam sudah menunjukkan diangka 23.45, terdengar suara gerbang dibuka dan mesin mobil yang memasuki garasi. Yah, itu pasti Rizon.


Tapi sakit diperut masih enggan untuk hilang. Rizon sudah memasuki kamar sebelum dia menyambutnya.


"Sudah pulang dank..." ucapku tanpa beranjak dari berbaringku.


Rizon mendekat dengan senyum dan duduk ditepi ranjang, melepaskan kecupan hangat dikening sang istri.


"Tidurlah, dank mau mandi dulu..."


"Iya, adek tunggu disini..."ucapku


"Adek sudah makan?"


"Udah dank, dank sudah makan apa belum?"


Nina menatap punggung suaminya yang menjauh dan hilang dibalik pintu kamar mandi.


Suara gemercik air terdengar artinya lelaki itu sedang menyegarkan diri setelah seharian dengan kesibukan pekerjaannya.


Wajah segar dengan rambut yang basah keluar dari kamar mandi. Sambil mengeringkan rambutnya dengan handuk dia meraih pakaian yang sudah disiapkan Nina sebelumnya.


Setelahnya Rizon naik ketas ranjang dimana Nina masih berbaring dengan selimut menutupi batas dadanya. Rizon masih menyandarkan tubuhnya disandaran ranjang yang cukup besar.


"Gimana meeting hari ini sayang?" Tanya Nina sembari memindahkan kepalanya dipaha lelakinya itu. Sambil tersenyum Rizon membelai lembut rambutnya dan memberikan kecupan lembut dibibirnya.


"Cukup alot, tapi ahirnya mencapai kesepakatan juga..."


"Kamu pasti capek banget ya?"

__ADS_1


"Sampai dirumah capeknya sudah hilang sayang..."


"Emang bisa???"


"Sangat bisa, penawar capek dank ada dirumah soalnya..."


Lelaki itu sedikit menggombal istrinya. Masih dengan wajah cerianya Nina mengkerucutkan bibirnya membuat Rizon semakin gemas.


"Adek gimana kerjaannya?"


"Hhmmm...Adek tadi dirumah aja dank. Tiba-tiba perut adek sakit banget..."


Rizon terkejut mendengar kalimat istrinya.


"Kenapa ga telpon dank? kalo terjadi apa-apa sama adek gimana? kal..." kalimatnya terputus. Nina mengecup lembut membungkam bibir yang masih saja nyerocos kuatir.


"Sekarang adek baik-baik aja kan..." kata Nina dengan santainya.


"Sayang, jangan diulangi lagi ya. Dank ga mau terjadi hal buruk dengan adek." Suara Rizon melembut sembari membelai wajah tak berdosa dihadapannya.


"Besok kita kedokter..." ucapnya tegas dan tangannya sudah memberi kode jika tidak untuk dibantah dan tidak ada negosiasi.


***


Setelah menyegarkan diri dengan mandi air hangat Rizon ikut berbaring disamping Nina yang masih belum tertidur. Posisi tidur ternyaman adalah berada dipelukan lelaki kesayangannya itu, dengan dada bidangnya sebagai bantalan.


"I love you sayang..." Ucap Rizon mengecup lembut kening sang istri


"I love you more honey..."


Dalam dekapan yang mendamaikan, membawa Nina tertidur menuju keindahan alam mimpi.

__ADS_1


Malam semakin larut, lelah fisik membuat Rizon tak butuh waktu lama untuk berlayar kealam mimpi yang indah.


__ADS_2