Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Cinta yang salah


__ADS_3

Kakiku rasanyanya ga bisa digerakkan. Rasa nyut-nyut yang makin tak tertahankan. Mungkin karena terlalu lama duduk. Rizon yang melihat usahaku ingin berjalan langsung meninggalkan pekerjaannya.


"adek mau kemana?"


"mau rebahan dikamar aja kak. siapa tau bisa tertidur."


"jangan digendong, bantu jalan aja" tolakku ketika dia dengan sigapnya mau menggendongku. Tapi penolakkanku ga dihiraukan olehnya. Dia hanya menatapku dengan mata sendunya.


"istirahat ya... sebentar kakak beresin kerjaannya sedikit lagi" serunya mengecup keningku.


Semenjak ibu ga ada, Rizon tampak sibuk dengan urusan usaha yang sebelumnya ibu yang urus. Terkadang kasian melihatnya yang harus membagi waktu antara kuliah dan pekerjaan. Membuatnya menjadi sosok yang sibuk nyaris tanpa waktu untuk dirinya sendiri. Bahkan terkadang bersamaku tapi dia sibuk dengan aktivitasnya sendiri.


Mataku yang mulai terasa mengantuk, disegarkan kembali dengan suara sepeda motor yang memasuki halaman rumah.


"siapa yang datang udah malam begini?" fikirku melirik jam yang sudah 08.15"


Suara yang tak asing bagiku. Tapi untuk apa dia datang dan sendiri lagi.


"aku bawakan makanan Zon..." terdengar suara obrolan mereka karena pintu kamar ga terkunci rapat. Sambil menutup mataku aku berusaha mendengar apa yang dibicarakan. Meski tak terdengar begitu jelas.


"ini udah malam, ngapain kamu kemari???"


"emang ga boleh? dulu juga sering kemari ga pernah ngomong gitu. lagian kamu juga sendirian di rumah" ucapnya tanpa mengetahui keberadaanku.


"Ayuuu, kenapa kamu seperti ini? Dari awal aku udah bilang sama kamu, kita cuma temenan ga bisa lebih. Lagian sekarang aku sudah menikah, jangan buat salah paham pada istriku" jelas Rizon dengan nada tertahan.


"kamu menikahinya cuma karena ibumu, sekarang ibumu udah ga ada..."


"pllllakkkk..." tangan Rizon begitu ringannya ketika Ayu menyangkut pautkan ibunya.


"Pukul yang lebih keras Zon, tapi perasaanku ga bisa di rubah. Aku benar-benar mencintaimu. Aku bisa gila melihat kamu bersama Nina. Tolong pahami perasaanku"


"benar-benar kau perempuan gila"


Perdebatan yang hanya terdengar samar. Suara tamparan diiringi dengan tangisan memaksaku untuk bangkit. Dengan terseok aku berusaha melangkah keluar dari kamar.


"kak ayuuu..." seruku membuatnya kaget dengan keberadaanku


Rizon yang melihatku menahan sakit kakiku, menghampiriku dan memberiku topangan. Tapi aku tidak ingin ditopang.


"selama ini kakak baik sama Nina artinya apa? Kalian ada hubungan apa? Ada hal yang Nina ga tau kah?"


"Sayang... kakak akan jelasin, ini semua ga seperti yang kamu lihat."


"berarti dulu kak Ayu sering datang kerumah ini? berarti sudah dari dulu kalian sering berdua-duan dirumah ini" ucapku mulai terisak menahan kekesalan.


"adekkk...dengarkan kakak..."Rizon masih membujukku


"Ternyata hanya karena ibu..." lirihku menahan sedih.


"adekkk... tolong jangan bawa emosi dulu. Kakak akan jelaskan." suaranya memohon dan memelukku. Dengan menahan rasa sakit aku berusaha melepas pelukannya.


Ayu masih terus bicara membuat Rizon semakin marah dan membuatku juga kesal diselimuti rasa bingung.

__ADS_1


"sedalam itukah perasaanya pada suamiku"


***


Tidur dalam kesal, itulah yang terjadi. Masih dengan air mata yang masih terus saja tidak mau berhenti. Rizon yang berbaring disampingku memandang langit-langit kamar dengan tatapan kosong.


"Sayang..." serunya sembari memelukku dari belakang.


Aku yang masih merasakan pelukan itu memejamkan mata berpura-pura sudah tidur lelap.


"Cinta kakak cuma satu buat adek. Tak ada wanita lain kecuali kamu. adek satu-satunya wanita yang ada dihatiku. Jangan diam seperti ini, itu lebih membuat kakak terluka."


Aku merasakan tetesan air matanya dikepalaku. Tapi tak membuatku bergeming sedikitpun, padahal dalam hatiku yang terdalam aku merasakan cintanya yang tulus. Kecupan lembut dikepalaku menunjukkan kasih sayangnya yang begitu besar.


Aku terbangun, tapi tak menemukan Rizon disampingku. Pelan aku melangkah keluar kamar. Tidak mungkin dia sudah berangkat masih pagi-pagi sekali. Matahari aja belum muncul.


Aku menatap punggungnya yang sedang duduk dimeja makan dengan laptopnya.


Meja itu memang multifungsi selain menjadi meja makan.


Tanpa menyapanya aku mengambil segelas air dan meneguknya sampai habis.


"Pagi sayang..." suaranya sudah ada dibelakangku. Morning kiss yang mendarat dibibirku ketika aku berbalik hanya lewat tanpa balasan.


"kakak siapkan sarapan ya..." ucapnya mulai sibuk menyiapkan, seakan sudah melupakan kejadian tadi malam.


"ga usah sok manis kak, ga usah pura-pura" ucapku ketus membuatnya menghentikan aktifitasnya dan duduk didepanku.


"Harus gimana lagi kakak menjelaskan" Rizon mulai frustasi.


Tanpa perduli aku masuk kekamar, masih meninggalkan Rizon dengan segala kegalauannya, menyiapkan diri untuk berangkat kekampus.


***


Ojol yang aku pesan lewat aplikasi sudah menungguku didepan rumah. Pelan aku melangkahkan kaki yang terbalut perban. Dia yang masih memakai handuk menghampiri pak ojol yang menerima uang dan meninggalkan rumah sebelum aku sampai.


"ngapain pesan ojek segala..." ujarnya kesal seraya masuk kedalam rumah.


"iiissshhhh..." kesalku


Tak lama dia sudah selesai dan hanya dengan kaos oblong dan celana pendek.


"ini mau kekampus atau mau shopping" gerutuku


"kakak hari ini ga ada kuliah sayang, hari ini kakak siap jadi driver adek." balasnya yang mendengar aku menggerutu.


Masuk kedalam mobil dan hanya menatap keluar. Masih kebawa dengan kekesalanku tadi malam.


"selesai kuliah jam berapa dek?"


"nanti bisa pulang sendiri, ga usah repot-repot." ketusku yang hanya dibalas senyuman darinya.


"Emang perempuan lain dimulut lain dihati" gumamnya pada diri sendiri menatapku yang bersusah payah berjalan menuju kelas digedung jurusan.

__ADS_1


Ada waktu dua jam kedepan sampai kuliah Nina selesai. Rizon memutar stir menuju salah satu handphone shop. Karena baru ada waktu untuk keluar mengganti ponselnya yang rusak. Dipintu dia sudah disambut Wawan sahabatnya yang punya counter.


"heeii broww...apa kabar, lama ga main kesini..." sapa Wawan ramah.


"Turut berduka atas meninggalnya ibu kamu ya..."


"makasiii bro..."


"dengar-dengar katanya dirimu sudah merried???" ujarnya memastikan gosip yang didengarnya


"begitulah..."


"gilaaa curi start dia... Gadis mana yang sudah mencuri hatimu? apakah anak pejabat itu? atau yang mana niihhh?" Wawan terus saja menggoda.


"kapan-kapan aku ajak kemari..."


Sambil ngobrol sambil Wawan menunjukkan beberapa ponsel terbaru padanya. Sambil bicara bisnis jalan terus.


"berantem ama bini sampai ponsel rusak?" goda Wawan


"ga lahhh...pas terima telpon malam ibuku meninggal. hapenya terjun bebas dan pas kena lcd banget. Hancur sudah, mati seketika."


"ooo gitu... "Wawan tidak membahas lebih lanjut.


Setelah melihat beberapa ahirnya Rizon memutuskan pilihannya. Memasukkan simcard dan nomornya ahirnya aktif kembali. Membayar dan Rizon kembali menuju gedung jurusan. Halaman parkiran tampak sepi. Setelah parkir dengan aman, Rizon mengambil ponselnya dan menghubungi Nina. Panggilan berdering, tapi tidak ada jawaban.


"mungkin masih di kelas" fikirnya


R-b : adek, kk udah di parkiran ya... chat kk kl sudah selesai


Pesan terkirim tapi belum juga dibaca. Sambil mendengarkan musik dengan headset dia menunggu Nina yang belum juga nongol.


"seharusnya kan jam kuliah sudah selesai..." fikirnya.


Mencoba menghubungi ponsel Nina tapi tetap hasilnya nihil tanpa jawaban.


Rizon beralih ke nomor Endah. dan tak lama diangkat.


"hallooo kak, tumben nelpon.."


"kamu lagi dimana?" tanya Rizon


"Endah lagi sama Hery niee.. emang kenapa kak?"


"berarti udah selesai jam kuliah ya..."


"udah...sekitar satu jam yang lalu..."


"Nina ga angkat telpon..."seru Rizon


"tadi Endah tinggal masih digedung jurusan. katanya mau tunggu kakak... makanya Endah tinggal..." jelas Endah membuatnya mulai berfikir


Sudah satu jam yang lalu artinya dia nunggu lumayan lama. Dan mulai membuatnya bingung disaat seperti ini ponsel Nina ga bisa dihubungi. Itu membuatnya benar-benar harus berfikir keras.

__ADS_1


__ADS_2