Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter58


__ADS_3

Hari berlalu, minggu, bahkan sudah melewati beberapa bulan Rizon menjalani kehidupan. Menjadi suami plus perawat pribadi bagi istrinya yang saat ini masih dalam keadaan lumpuh dan ingatan yang masih terbatas.


Guratan kelelahan terpancar dari wajahnya yang tak dapat dibohongi. Belum lagi urusan pekerjaan yang menuntutnya lebih.


Seperti beberapa hari kedepan dia harus meninggalkan kota Bengkulu untuk perjalanan bisnisnya ke Bali. Berat meninggalkan sang istri yang masih dalam keadaan terbatas dalam melakukan aktivitas.


"Ada apa kak, kok tampak bingung gitu? Ada masalah?" Selidikku penuh tanya


"Beberapa hari kedepan kakak ada pertemuan dengan beberapa perusahaan batu bara di Bali dek. Akan ada tender proyek besar. Tapi kakak harus ninggalin adek. Kakakk bingung."


"Kenapa harus bingung sayang?"


"Siapa yang akan nemanin adek?"


"Emang berapa lama kakak disana?"


"Bisa 4 atau 5 hari sayang..."


"eemmm... Atau adek ke Manna aja. Kan kata kakak dirumah ada mbok Inah, ada ayah juga. Atau mbok Inahnya minta tolong kesini gimana?"


Rizon mulai berfikir menimbang-nimbang usul dari istrinya.


"Boleh juga... sebentar kakak coba telpon ayah dulu..."


Rizon mengambil benda pipih persegi panjangnya. "Ayah" nama yang berada pada ututan paling atas. Tak lama menunggu panggilan tersambung...


"Hallo yah... gimana kabarnya?"


"Iya dank, ayah baik... gimana kabar menantu ayah???"


"Baik yah..."


"Yah, lusa dank mau berangkat ke Bali, cuma bingung Nina siapa yang nemenin dirumah. lumayan 4 atau 5 hari disana. Enakan mana ya kalo mbok Inah yang minta tolong kesini atau dank anterin Nina pulang ke Manna ya?"


"Coba tanya mbok Inah dulu ya..."


"Inah, nie ada dank, ngomong sama dia dulu gihh..." terdengar suara ayah


"*Hallo dank..."

__ADS_1


"mbok Inah, dank mau minta tolong. Bisa ga nemenin Nina, soalnya dank ada kerjaan keluar kota atau Nina saya antar pulang, tapi mbok Inah temenin nginepin..."


"Ga papa mbok Inah aja yang datang dank. kasian kondisi non Nina perjalanan jauh."


"Beneran ga papa mbok???"


"Iya ga papa dank..."


Ponsel kembali lagi ke ayah.


"Katanya mbok Inah bisa Yah. Kalo ga ada halangan besok pagi dank jemput ya..."


"Biar supir yang antar mbok Inah dank, kasian kamu harus ninggalin Nina. Pulang pergi dalam sehari lumayan loh. Mana kamu mau perjalanan jauh."


"Ya udah yah, makasi sebelumnya. Dank tutup telponnya ya...da ayahhh"


Panggilan berahir, dengan senyum Rizon bernafas lega.


"Mbok Inah yang akan kemari sayang. Ayah bilang diantar sama supir aja biar ga bolak-balik" Jelas Rizon bersemangat


"Tapi kakak tetap ga tenang ninggalin adek"


"Kakak ga ada adek harus janji harus nurut loh ya sama mbok Inah. Istirahat yang cukup. Obatnya jangan ogah-ogahan minumnya. Nanti kakak pulang kakak akan cek ya"


"Siap bozzz..."


Melihatku dengan tangan menghormat membuatnya gemas mengacak rambutku. Pelukan hangatnya kembali aku rasakan begitu menggetarkan hati. Ciuman dipucuk kepalaku terasa mendamaikan.


"Makasi kakak buat rasa sayang kamu buat adek..." lirihku masih dalam pelukannya.


"Jangan selalu berterimakasih pada kakak. Hidup kakak adalah adek sendiri. Tanpa adek, kakak bukan apa-apa. Setelah ingatan adek kembali kakak harap kita akan selalu seperti ini. Kita mulai dari awal semuanya..."


"Apa ada hal yang tidak baik yang terjadi kak?"


"Bisa dibilang seperti itu." Rizon berjongkok dihadapanku.


"Boleh adek tau???"


"Sebenarnya bukan hal terlalu penting dek. Tapi kadang-kadang itu yang jadi masalah. Mungkin saat itu emosi kakak terlalu tinggi. Kakak menganggap adek ga mau mengerti jadinya kita sering bertengkar untuk hal-hal sepele. Tapi kakak sangat bersyukur, adek masih bertahan meski dalam keadaan sulit. Dan ada satu orang yang selalu berusaha memecah hubungan kita. Padahal sebelumnya dia tidak seperti itu. Setelah kita menikah kakak juga bingung kenapa kakak menjadi satu obsesi baginya."

__ADS_1


"Siapa dia kak?"


"Namanya Ayu, dia teman satu kelas kakak dulu..."


Aku terdiam mendengar segala penuturannya. Berusaha mengeja dan mengingat nama itu.


"Adek mau bertemu sama Ayu boleh?"


Rizon sedikit terkejut mendengar permintaanku. Tampak wajah itu menunjukkan raut yang tidak suka.


"Ga boleh. Kakak ga akan ijinkan..."


"Kenapa kak? Siapa tau bertemu dengannya adek bisa mengingat sesuatu. Adek pernah baca cara mengembalikan ingatan itu bukan hanya hal-hal yang baik saja..."


"Tapi tetap kakak ga mau ambil resiko."


"Kakak ga mau ingatan adek kembali???"


"Bukan begitu sayang, oke okeee... tapi bukan dalam waktu dekat. Kakak akan cari waktu yang tepat."


"Janji ya???"


"Iya sayang...."


"Btw, kita siapan ya. Nanti malam kita akan ke nikahan Doni & Nissa" ucal Rizon mengalihkan pembicaraan.


"Adek tinggal aja ya. Adek malu, masa kondangan pake kursi roda..."


"Kakak siap gendong kok..."


"Isshhh apaan sieee..."


"Adek juga harus berinteraksi dengan orang luar sayang."


"Beneran kakak ga malu dengan kondisi adek?"


"Punya istri cantik kok malu..."


Ucapannya membuatku malu, wajahku terasa memanas. Rasa bahagiaku benar-benar tak ingin berahir.

__ADS_1


Dan Rizon pun membawaku kekamar dan membantuku untuk bersiap.


__ADS_2