Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Amarah yang indah


__ADS_3

Waktu berlalu dengan begitu cepatnya. Hari demi hari kami lewati, minggu bahkan bulan. Bukan sedikit masalah yang terjadi. Melewati lima bulan dalam keadaan yang tidak normal sebagai pasangan suami istri merupakan tantangan terberat sepanjang hidupku.


Terkadang kecemburuan yang tak beralasan membuatku terkadang jenuh. Seperti saat ini Rizon menaruh curiga padaku soal Andar. Sebisa mungkin aku menghindari sosok kakak kelas sekaligus asdos mata kuliah dari bu Endang. Tidak mungkin aku tidak bertemu dengannya, dimana praktikum dia selalu ada untuk membantu bu Endang.


Tempat pelarian ruang perpustakaan menjadi tempat memberiku ketenangan.


Berkali-kali ponselku bergetar. Dan itu dari Rizon. Malas untuk mengangkatnya, karena akan berujung pertengkaran.


R-b : adek lagi dmn? Angkat telponnya!"


Hanya sekedar melihatnya tanpa ada niat membalasnya.


R-b : kok cuma dibaca dek, maafin kakak🙏🙏🙏


Selalu kata maaf itu yang ada setiap ada masalah. Besok maaf lagi, maaf lagi dan maaf lagi. Sebagai istrinya aku sudah jujur tapi selalu tidak dipercaya. Apa jadinya hubungan tanpa kepercayaan.


Masih membaca buku dan masih diruang perpustakaan. Enggan rasanya meninggalkan tempat itu. Tapi jam sudah menunjukkan pukul 4 sore yang artinya perpustakaan akan tutup. Dengan langkah malas aku mengembalikan buku yang aku pegang pada tempatnya. Perlahan berjalan meninggalkan tempat itu.


***


Matahari sore masih dengan teriknya. Berjalan kaki melewati gedung "i", kantin, gedung jurusan yang masih ramai. Tanpa menoleh dan hanya fokus pada langkahku.


"Dek..."suara Andar memanggilku tepat dibelakangku.


Aku yang mengenal suara itu menjadi kesal. Entah kenapa dia selalu menegurku disetiap ada kesempatan bertemu. Yang lain banyak kenapa harus aku yang diberikan perhatian lebih.


"Nina..."dia mencegatku


"Apaan sie kak, aku mau pulang, tolong jangan halangi aku"


"Ada apa dengan kamu, kok kayaknya benci gitu sama kakak??? Salah kalo kakak ingin kenal banyak tentang kamu, salah kalo kakak ingin dekat sama kamu???"


"Maaf kak, aku harus pulang" ucapku seraya meninggalkannya. Tapi tangannya lebih cepat mencegatku. Menarik tanganku dan hampir membuatku jatuh.


"Sakit kak..."ringisku disaat tangan besarnya mencengkram lenganku. Dan langsung dilepasnya.


"Maaf..." ujarnya merasa bersalah


"Kak, Nina mohon mulai saat ini jangan perhatian berlebihan padaku. Jangan chat atau telpon kalo ga ada keperluan."


"Masalahnya apa? Salah kalo kakak menaruh hati sama kamu? Kakak suka kamu Na, hanya ingin mengenal lebih jauh. Dari awal kita bertemu rasa itu sudah ada."


"Maaf kak, aku sudah menikah. Dan jangan merusak rumah tanggaku hanya karna perhatian lebih dari kakak. Aku harap kakak mengerti!!!"


Sosok Andar hanya bisa bengong tak bisa berkata-kata. Serasa bermimpi dia tak percaya dengan apa yang didengarnya.

__ADS_1


Sambil menahan sakit di lenganku, aku meninggalkannya tanpa sepatah kata pun.


Mobil milik Rizon berhenti tepat disebelahku. Sosok itu langsung menghampiriku dan sangat terkejut dengan mataku yang memerah. Tanpa banyak bicara dia membuka pintu mobil, membawaku pergi dari kawasan kampus itu.


Andar masih menelan kekecewaannya masih terdiam di sebuah kursi panjang disudut gedung jurusan.


***


Meskipun aku meminta turun dikosan, tapi sosok itu seolah-olah tidak mendengar permintaanku. Mobil terus melaju menuju rumah. Tak ada pembicaraan, mematikan mobil kemudian langsung masuk kedalam rumah.


Tatapannya serasa ingin menerkamku. Hanya duduk diam ditepi ranjangnya. Terlihat seperti menahan sesuatu yang tak bisa dia ungkapkan.


Pelan aku berjalan menuju meja yang ada di sudut kamar, meletakkan tas yang lumayan berat. Tiba-tiba dia memelukku sangat erat dari belakang. Percuma aku berusaha melepaskan pelukan itu. Karena tenaganya jauh lebih kuat. Dan akupun hanya bisa pasrah.


Menyadari aku yang tanpa penolakan dia malah melonggarkan pelukannya. Jauh seperti biasanya aku selalu menolak. Aku sudah lelah menahan semua ini.


"Maaf sayang..." suaranya lembut menuntunku duduk tepi ranjang.


Hanya ingin menangis, aku memeluknya dan dia hanya bisa membelai rambutku, dan itu bisa membuatku tenang.


Aku menatap kedalam matanya, masih dengan tulus yang dulu aku pernah temukan. Memberanikan diri mendekatkan wajahku yang disambut olehnya. Bibir merah itu dengan lembut menempel dibibirku. Dengan lembut dia mengecup kening, hidung dan kembali ke bibirku.


Kali ini aku tidak menolak atas setiap jamahannya, ciumannya yang menyapu seluruh wajahku bahkan sampai keleher yang memberikan rasa hangat dan gairah yang terpacu. Dengan bibir yang masih terpaut salah satu tangannya membuka kancing kemejaku dan melabuhkan ciumanya ditepi bagian yang masih tertutup kain berenda.


Getaran rasa yang aku belum pernah rasakan sebelumnya. Rizon merebahkan tubuhku dengan sangat hati-hati. Kembali dia melabuhkan ciumannya dengan lembut dan dengan penuh cinta.


memakainya. Dia yang tampak kecewa hanya bisa diam disisi ranjang.


"Maafin kakak, kakak lepas kontrol dek..." ucapnya menyesal


"Adek yang minta maaf kak, belum bisa seutuhnya membahagiakan kamu"


Tangan yang kokoh itu meraihku kepelukannya. Seolah segala permasalahan sudah selesai.


Aku berbaring di sampingnya, sambil memeluk tubuhnya yang berotot.


"Tadi kak Andar mencegat adek dijalan." Jujurku


"Adek ga mau ada curiga terus dari kakak. Adek terpaksa memberitahu kalo adek sudah menikah. Dan memintanya jangan pernah telpon atau chat lagi." Jelasku ingin memperbaiki hubunganku.


Dia masih menempelkan bibirnya dikepalaku sambil mendengarkan penjelasanku. Dan dia hanya mengembangkan senyumnya penuh lega.


Sejauh ini ga ada yang tau tentang pernikahan kami. Masih orang-orang kosan aja dan mereka sampai detik ini masih menutup mulutnya.


"Kak... malam ini adek nginap disini ya?"pintaku menyenangkan hatinya.

__ADS_1


"Ini kan rumah adek juga, pake acara minta ijin segala..." ucapnya dengan wajah sumbringah.


***


Sehabis dari kosan dan pamit pada mami, kami langsung pulang kerumah.


Pertamakalinya aku menginap dirumah suamiku sendiri. Berhubung besok weekend dan kami akan pulang ke Manna. Karena sudah 2 minggu ga pulang kerumah ayah dan ibu mertuaku.


Pilihan makan malam yang simple. Telur dadar dan oseng-oseng tempe dan buncis dan kerupuk yang meramaikan membuat Rizon lahap menikmati makan malamnya.


Setelah membersihkan dapur, dan merapikannya, kami menikmati malam dengan santai di depan tv.


Dengan manja dia merebahkan kepalanya dipangkuanku. Dengan penuh kasih aku membelai rambut lurusnya yang tampak acak-acakan.


Tak terasa malam semakin dingin dan semakin larut. Diluar sudah tampak sepi.


"Tidur dikamar kakak ya?" Pintanya dengan lembut


Aku hanya mengangguk tanpa bicara.


"Adek duluan gih, kakak mau kunci gerbang dan cek-cek dulu." Ujarnya padaku yang sudah menahan kantuk.


Tanpa menunggunya aku duluan masuk kekamar. Menarik selimut menutupi sampai kedadaku. Karena dari tadi ac di kamar ternyata on.


Memejamkan mataku yang lumayan berat. Rizon mengambil bantal dan menuju sofa dikamar itu. Tapi tanganku menghalanginya.


"Disini aja" ucapku sembari menunjukkan tempat kosong disampingku.


"Nanti kalo kakak pengen gimana?"


Suaranya menggodaku.


"Adek iklas" jawabku pasrah


"Adek ga ngigau kan???"dia masih ragu dengan apa yang dia dengar


"Kak, adek siap menjadi milik kamu seutuhnya..."ucapku yang memang sudah memikirkan ini. Mungkin dengan ini membuktikan kalo aku benar-benar mencintainya.


Aku tau ada nafsu yang menggebu dalam dirinya. Tapi dia melakukan dengan lembut. Melepas yang aku kenakan satu persatu dengan sentuhan yang menambah gairahku. Sampai aku benar benar ga kuat menahan hasratku. Kulit kami yang saling bersentuhan menambah kehangatan malam. Sampai pada saat aku merasakan ada yang memasuki milikku. Sangat gagah dan aku merasakan sakit. Dia yang menyadari rintihan sakitku, sesaat dia menghentikan gerakannya.


"Adekkk ..."ucapnya lembut sembari mengecup bibirku.


"Lanjutin aja kak, mungkin karna ini baru pertama" ucapku pasrah menikmati setiap gerakannya.


Malam semakin panas ditengah ruangan yang sudah sangat dingin. Berkeringat tapi kami menikmatinya.

__ADS_1


"Oouugghhh" desahnya sembari perlahan. terkulai disampingku.


"Makasi sayang" Lelaki itu mengecup lembut keningku. Aku menarik selimut dan menutupi tubuhku yang tanpa sehelai benang pun. Rizon memelukku dengan matanya yang masih terpejam.


__ADS_2