Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Keputusan sekali seumur hidup


__ADS_3

iBetapa aku menjadi semakin tersedu disaat Caca berpindah duduk disebelahku dan memelukku sambil ikut terisak


"Makasiii bangett Na, kamu memberikan kehidupan baru buat ibu... aku benar-benar bangga sama kamu... kakakku beruntung memilih orang seperti kamu... mungkin jika aku yang ada di posisi kamu ga akan bisa melakukan hal yang sama."


"Jangan berlebihan menilaiku Ca, proses hidupku menjadikan aku seperti ini... ingatkan aku jika sewaktu-waktu aku berubah"


Lelah hati, itu yang kurasakan saat ini.Meski belum semua clear, satu persatu bisa terlewati. Masih merenung dikamar yang beberapa hari terahir menjadi tempat favoritku.


"Adekkk..." panggil Rizon memasuki kamar.


"Kita ngeteh yuk..." ucapnya sembari duduk lesehan bersamaku.


Secangkir teh dan coklat panas, karena dia tau aku ga begitu suka dengan teh. Dengan roti bakar yang dibuat oleh Rizon sendiri.


"Makasih sayang dah mengerti keadaan ini Tak bosan-bosannya dia mengucapkan kata itu.


"Plisss jangan selalu berterimakasih sama adek. Ini jalan hidup kita berdua kak..."


Dia hanya menatapku dengan sangat dalam. Dapat aku rasakan hatinya yang lagi galau. Ada banyak kekuatiran dimata hitam itu, tapi dia sangat menyimpannya dalam sekali.


"Adek sempat nelpon ibu... adek cerita sedikit masalah kita... awalnya ibu udah mikir aneh-aneh, dan sempat ga percaya juga... tapi adek jelasin...pelan-pelan ibu bisa mengerti."


"Orang tua mana yang ga bingung tiba-tiba anak gadisnya bilang mau nikah"


"Kakak boleh ngomong sama ibu dan bapak?" Pintanya kemudian.


Aku meraih ponsel yang ada diatas meja. Ga perlu menunggu lama ahirnya tersambung.


"Halloo bu..."sapaku pelan


"Iya nak..."


"Ada yang mau ngomong" ucapku sembari menekan tombol speaker.


"Halo bu, ini Rizon... gimana kabarnya bu" sapa Rizon ramah


"Baik nak... gimana keadaan ibu kamu???" Tanya ibu dari seberang.


Aku sudah menceritakan kondisi ibu dari Rizon. Dan kondisi keluarganya. Jadi ibuku ga terlalu banyak bertanya detail tentang mereka.


"Nina sudah cerita inti masalahnya. Dan ibu sama bapak dan beberapa keluarga inti tadi kebetulan bisa kumpul. Kalo memang itu sudah niat kalian, kami hanya bisa memberi restu. Cukup mendadak dan keluarga Nina banyak yang berfikir kalo kalian sudah melakukan kesalahan."


"Mohon maaf soal itu ibu... tapi yang pasti bukan karena itu. Saya berani sumpah demi apapun, kami menjalani hubungan yang bersih."


"Namanya orang bisa aja berfikir lain nak" keluh ibu


"Maaf sekali ibu, nanti saat kami pulang saya akan jelaskan di depan keluarga besar Nina." Rizon meyakinkan ibu.


***


Pagi di meja makan


"Ibu, ayah..." Dank mau menyampaikan sesuatu pada kalian..


Niat Dank sudah bulat. Dank akan menikah" ucap Rizon lantang dan penuh keyakinan membuka susana hening dipagi itu.


Ayah seketika menghentikan suapannya.

__ADS_1


"Bagaimana keluarga Nina di Medan nak..."


"Ayah ga usah kuatir... sudah jadi tanggung jawab dank"


"Nina bagaimana?" Tanya ayah sambil menatapku


"Kalo kak Rizon sudah yakin, ga ada alasan buat saya ragu Yah..." balasku berusaha tenang.


Ibu tersenyum memandang Rizon dan aku bergantian.


"Kalian memang anak-anak yang luar biasa sayang..."


"Ibuuu..." sembari menggelengkan kepala isyaratku melarang untuk meneteskan air mata.


"Tidak ada air mata, ibu harus semangat. Siapa yang akan menyiapkan semuanya kalo ibu sakit?? Kalo ibu bahagia kami akan lebih bahagia"


Sembari menikmati sarapan pagi, dengan antusias ibu, Caca, ayah membicarakan segala persiapan. Tapi aku dan Rizon tidak mengiginkan semua kemewahan itu. Hanya ingin ritual yang sederhana. Mungkin nanti disaat yang sudah tepat baru akan ada acara seperti yang mereka mau.


"Dank ga menginginkan kemewahan ibu, untuk saat ini cukup acara sederhana, keluarga dekat, nanti ada waktunya membuat acara yang besar... ini pilihan kami." Rizon memberi pengertian.


"Besok rencana dank mau berangkat menemui orang tua Nina yah. Karna waktu libur juga ga banyak lagi... Sebelumnya sudah bicara di telpon, dank harus meminta ijin dan membicarakan dengan keluarga di sana..."


Pembicaraan terus berlanjut seperti tak ada habisnya. Ibu yang tampak bahagia. Caca yang mulai searching macam-macam.


"Keluarga ini begitu mengharapkan hubungan ini" batinku turut bahagia


***


Suara panggilan mbok Inah di depan pintu membuatku kembali membuka mata.


"Ibu nyuruh non kekamarnya" jelasnya menyampaikan pesan ibu.


Dengan langkah malas aku beranjak menuju kamar ibu. Disambut dengan senyuman khasnya yang lembut.


"Ibu manggil Nina?"


"Iya nak, duduk sini" sembari menyuruhku duduk di tepi ranjang dekat dengannya.


Wanita itu membuka box merah yang malam sebelumnya aku lihat


Sambil memilah beberapa dia memintaku mengukurkan tangan.


Tanpa komentar aku menjulurkan tangan kananku.


Sebuah gelang yang sangat manis dipasangkannya di tangan kananku. Dan itu bukan gelang biasa.


"Dulu gelang ini diberikan mertua ibu sebelum menikah dengan ayah... dan sekarang ibu ingin kamu memakainya."


"Cantik sekali di tangan kamu nak... kamu harus menjaganya ya " ucapnya masih memandangi tanganku.


"Ini terlalu mahal bu..."


"Ga sayang... cantik kamu pakai..." senyumnya benar-benar merekah.


***


Dengan memanfaatkan waktu yang ada semua disiapkan dengan benar-benar cepat. Beberapa keluarga besar ikut membatu.

__ADS_1


Untung teknologi sudah canggih saat ini. Ayah dan ibu video call dengan ibu dan bapak, membicarakan apa yang yang harus dipersiapkan. Seolah-olah tak ada jarak antara dua kota yang saling berjauhan itu.


"Adek...ikut kakak yuk" ajak Rizon yang sudah rapi.


"Kemana kak?"


"Ikut aja, nanti adek juga akan tau..."


Aku mengikuti langkahnya yang terlihat buru-buru. Membukakan pintu mobil dan segera meninggalkan rumah.


Tanpa banyak bertanya aku hanya diam mengikuti kemana dia akan membawaku.


Mobil berhenti didepan sebuah toko, dan itu adalah toko perhiasan. Setelah memarkirkan mobil dengan benar aku mengikuti langkahnya memasuki toko megah itu.


"Om Adi ada?" Ucapnya pada seorang pelayan toko.


"Ada, masuk aja" ucap pelayan itu sambil nengantarkan kami ke satu ruangan yang tampak seseorang sedang sibuk didalamnya.


"Rizon..." serunya menyapa seperti sudah kenal.


"Ini Nina om..." ucap Rizon memperkenalkanku.


Dengan ramah pria yang dipanggil "om" oleh Rizon menyambut uluran tanganku.


Sambil mempersilahkan kami duduk, om Adi mengeluarkan beberapa kotak kecil. Dan ternyata itu adalah cincin couple.


"Ini model yang terbaru, masalah ukuran nanti bisa dibuatkan."jelasnya membuat Rizon manggut-manggut.


"Adek pilih maunya yang mana..."ucap Rizon lembut


Mataku tertuju pada sepasang cincin yang sangat simple. Ada satu permata kecil yang membuat terlihat manis.


"Kalo yang ini gimana kak? Ujarku meraih kotak kecil itu.


"Kakak juga tadi sudah kepikiran itu." Ujarnya seraya mengambil dan menyematkannya dijari manisku. Nyaman dipakai dan terlihat cantik.


Sama hal nya Rizon mencoba cincin pasangannya. Dan ukurannya pas.


"Wahhh...pilihan pertama yang berjodoh nie om."


"Ga mau coba yang lain?" Tanya om Adi kemudian


" Gimana dek" meyakinkanku


"Kakak aja, kalo emang mau yang lain. Tapi yang itu simple, adek suka"


"Yang itu aja om..."


"Ya udah, nanti sore aja om bawakan... nanti dikasi ukiran namanya dulu... sekalian mau bantu-bantu di rumah juga.


Om Adi tidak lain adalah adik dari ayah yang istrinya adalah tante Wulan. Pantesan sudah sangat dekat.


"Om, ini..." Rizon menyerahkan kartu debitnya untuk membayar sepasang cincin itu. Tapi om Adi malahan mendorong mengembalikannya ke Rizon.


"Ini kado pernikahan kalian dari om.... Pengorban kalian itu ga ternilai hanya dengan sepasang cincin... om bangga ternyata ponakan om sudah dewasa, dan tidak egois. Semoga semua dilancarkan dan kalian hubungan langgeng ampe maut memeisahkan."


"Makasi om... dukungan kalian sangat berharga buat kami... dan semoga ibu bahagia dengan semua ini" ujar Rizon sembari pamit untuk pulang, karena masih banyak yang harus dikerjakan.

__ADS_1


__ADS_2