
Kembali pada kesendiriannya lagi di dalam rumah bernuansa putih itu. Setelah memasang sprai yang baru dia berbaring. Sesekali dia tersenyum mengingat istrinya yang sepertinya sudah tidur lelap di istananya. Meraih ponselnya tapi ahirnya mengurungkan niatnya untuk menelpon orang yang dicintainya itu. Mengingat lelahnya diperjalanan, belum lagi kondisinya yang sedang kedatangan tamu.
Berusaha memejamkan mata, tapi dia benar-benar gelisah. Entah perasaan apa itu, dia sendiripun ga mengerti. Mencoba menonton acara tv, masih juga membuatnya tidak nyaman dan ahirnya kembali lagi ke kamar.
Sudah pukul setengah 2, mata itu masih saja tidak bisa dipejamkan. Padahal badannya capek luar biasa.
Getar pada ponselnya memaksanya untuk bangkit. Baru saja mulai ngantuk.
"Siapa yang nelpon tengah malam begini" batinnya berharap itu Nina yang sedang ada dalam fikirannya.
Baru hendak menekan menerima, panggilan terputus karena terlalu lama. Rizon meraih ponselnya dan melihat siapa yang telpon.
Om Adi
Langsung jempolnya menekan memanggil kembali. Tumben om nya itu menelponnya selarut ini.
"Hallo om..."sapanya setelah panggilan tersambung.
"Dank..."
"Iya om, tumben telpon selarut ini..."
Lama om Adi menahan kata-katanya membuat Rizon bertanya-tanya.
"Semua baik-baik aja kan om???" Serunya mulai curiga
"Dank...kalian...kamu, Caca, Nina harus iklas ya..." suara om Adi terbata.
"Ibu kalian sudah berpulang" lanjutnya terbata sembari terisak...
Dunia Rizon seketika menjadi gelap, sangat gelap. Lelaki kokoh itu benar-benar tumbang. Meraih ponsel yang tadi terjatuh dan ponsel itu juga mengahiri tugasnya. Layarnya pecah dan sama sekali tak bisa digunakan lagi.
Tanpa berfikir panjang, Rizon meraih kunci mobil dan dompetnya. Perlahan melaju meninggalkan rumah.
Kosan Nina benar-benar sangat sepi. Semua penghuninya sudah terlelap, termasuk mantu kesayangan ibunya itu.
"Adekkk...Ninaaa...ddeekkk..." panggilnya sambil memencet bel yang ada digerbang.
Pintu kamar Fitri terbuka dan dia keluar menghampiri Rizon.
"Kenapa kak, malam-malam gini??" Sembari membuka gerbang.
__ADS_1
Satu persatu penghuni kos itu bangun. Termasuk mami yang mendengar anak-anak kosnya pada bangun di tengah malam.
"Adekkk... bangun dek.." Rizon menggedor pintu kamar.
Aku yang sayup- sayup mendengar serasa bermimpi bangun dan membuka pintu. Dan sedikit kaget dengan keberadaan Rizon.
"Kenapa kak" heran melihat wajahnya yang merah habis menangis.
"Ibu dek..." dia memelukku
"Ibu udah ninggalin kita buat selamanya."
Duniaku seakan runtuh. Kaki terasa kelu dan aku tersungkur tidak percaya dengan apa yang aku dengar. Semua yang mendengar ucapan Rizon menunjukkan rasa sedih seperti perasaan kami saat itu.
Mami memelukku sambil meneteskan air mata. Dia memahami kesedihan yang dalam aku rasakan. Karena aku suka bercerita segala kebaikan ibu mertuaku yang kini sudah meninggalkan kami.
"Baru saja beberapa jam yang lalu ibu baik-baik aja. Ga mungkin mami, kakak Rizon salah informasi..."
"Sesampainya di rumah Nina masih telponan sama ibu, bilang kalo kita sudah sampai...ga mungkin... ga mungkinnnn" aku benar-benar histeris.
Rizon memelukku dengan sangat erat. Matanya tak henti mengeluarkan air mata, meski wajahnya menunjukkan ketegaran.
"Kakak pinjam ponsel adek... punya kakak pecah, tadi abis terima telpon ga sengaja terjatuh.
Sembari Rizon menelpon ke asrama Caca, aku menyiapkan beberapa keperluanku. Dan pamit pada mami dan teman-teman kos ku.
"Endah tolong ijinin buat beberapa hari kedepan ya... besok sambil aku juga telpon dosennya."
"Iya Na... kalian hati-hati ya...yang sabar..." ucapnya menguatkan
Mobil perlahan meninggalkan kosan menuju asrama Caca.
Dari kejauhan Caca sudah menunggu dipos satpam ditemani oleh ibu asrama dan beberapa orang temannya. Tangisnya pecah sejadi-jadinya disaat kami tiba disana. Dia memelukku, hancur seperti pertama kali aku mendengarnya. Setelah meminta ijin dari ibu asramanya kami berangkat menuju rumah yang kami bertiga benar-benar ga percaya dengan semuanya.
***
Perjalanan menuju rumah tak henti-hentinya Caca menangis. Rizon hanyut dalam diamnya. Berusaha untuk tidak rapuh didepan kami berdua.
Semua terlalu cepat terjadi. Baru hitungan jam aku masih melihat senyumnya. Masih ngobrol bersama, menikmati kebersamaan dengan keluarga besar, masih membuatkanya cake kesukaannya, dan sekarang kami harus menerima kenyataan kalo ibu sudah tiada.
Kesedihan yang tak bisa dibendung lagi ketika rumah yang memberiku banyak kebahagian sudah didepan mata. Rumah itu sangat ramai di subuh yang dingin. Caca yang berlari histeris menuju dimana ibu sudah terbaring. Seperti layaknya orang tidur. Menatap wajah yang sudah tak bernyawa itu, memeluknya tapi dia tidak membalas pelukanku.
__ADS_1
"Ibuuu...ini Nina buuu...kenapa harus seperti ini...baru tadi kita bersama, baru aja telponan... kenapa sekarang seperti ini..." marahku pada jasad yang sudah kaku itu.
Rizon menarikku kepelukannya. Berusaha menenangkanku.
"Ibu sudah sembuh sayang... jangan menambah pilu lagi... kita semua sayang sama ibu...tapi Tuhan lebih sayang sama dia... membiarkan kamu terus seperti ini, ibu akan sedih melihatnya.
Masih dalam pelukannya air mataku seakan ga mau berhenti.
Suasana benar-benar membuatku kehilangan separuh kehidupanku. Menatap tubuh yang terbujur kaku sangat membuatku tak sanggup menahan setiap tetesan air mata yang tidak berhenti. Caca beberapa kali pingsan tak bisa menerima kepergian ibu. Dia begitu berharga di hatiku, dihati kami semua. Aku berada menjadi bagian dari keluarga ini demi dia.
***
Aku berusaha menenangkan Caca yang tak berhenti histeris. Seperti orang kesurupan dia melampiaskan ketidakterimaannya. Aku membawanya kekamar.
"Ca...kita semua berduka...kita semua sedih... tapi apa ibu akan kembali dengan kamu seperti ini??? Ibu akan sedih Ca melihat kita ga iklas..."
"Dia ibukuuu Naa...kamu ga tau betapa aku sangat menyayanginya?" Jeritannya mulai dengan tangisnya yang histeris.
Aku hanya bisa memeluknya. Membiarkan dia mengeluarkan segala isi hatinya. Sampai dia benar-benar tenang.
"Kamu ga sendiri Ca... ada dank, ada aku ada ayah, kita bisa melewati masa sulit ini, kita iklas ya???" Pintaku sembari mengusap air mataku.
"Lihat ayah, dia akan sangat rapuh melihat kamu seperti ini. Demi ayah, kita harus tegar ya... ibu sudah tenang, penyakitnya sudah diangkat sama Tuhan...Tuhan ga mau melihat ibu kesakitan terus..."
Histeris Caca mulai mereda, tapi air matanya masih belum bisa dibendung. Tante Wulan menghampiri kami.
"Kalian adalah perempuan-perempuan tangguhnya ibu...semua akan baik-baik aja ya sayang..." suara tante Wulan parau sembari memeluk kami berdua .
***
Siang yang sangat ramai. Para pelayat dari berbagai kalangan silih berganti berdatangan mengucapkan rasa duka yang dalam.
Ibu orang baik, semua orang sangat merasa kehilangan atas kepergiannya.
Masih duduk disamping jasad ibu, Rizon terus merangkulku. Seolah takut aku akan tumbang.
Dikejauhan tampak teman-teman kampus Rizon datang dari jauh. Untuk memberikan penghormatan terahir pada ibu yang beberapa dari mereka mengenal ibu dengan baik.
Dan aku yakin mereka pasti bertanya-tanya tentang keberadaanku ditempat itu. Yang mereka tau aku hanya sosok yang lagi di incar oleh Rizon untuk dijadikan pacar, dan sedang dalam masa pendekatan.
"Nina di sini juga???" Ujar Ayu dengan pandangan penuh tanya. Masa iya masih dalam masa pendekatan Nina sudah begitu akrab, dan serasa sudah seperti bagian dari keluarga Rizon. Berbagai pertanyaan muncul dari benak mereka. Bukan cuma Ayu dan teman yang lainnya bahkan Udan, Baim, Doni yang sudah sangat dekat dengan Rizon masih dalam tanda besar.
__ADS_1