
Hari-hari yang terlewati begitu saja dengan Rizon menjalani dengan segala keterpurukannya. Masalah datang silih berganti. Beban bertambah satu persatu menimpanya. Dan berbulan-bulan terahir ini terbuang sia-sia. Hidupnya hanya diam meratapi. Hatinya yang sangat keras dengan rasa bersalah yang sangat dalam.
Perlahan mobil Rizon berhenti disebuah Barbershop yang tidak jauh dari rumah sakit. Setelah pulang kerumah dan mampir kekantor untuk mengecek beberapa urusan. Sebelum kerumah sakit dia mengingat kata-kata Caca. Dia tidak boleh terlihat kacau ketika kesayangannya terbangun dan melihatnya. Seperti akan ada angin sejuk Rizon tersenyum pada cerminan dirinya. Semangatnya mulai bangkit. Berharap aura positifnya akan mampu membantu kesadaran Nina.
Perubahan wajahnya yang tampak terlihat tirus akibat beban fikirannya yang cukup banyak, tapi tidak mengurangi persentase kegantengannya. Hal itulah yang membuat banyak gadis yang terpikat dan karena itu juga sering menimbulkan salah paham. Padahal hatinya hanya untuk istrinya seorang. Tapi yang namanya perempuan terkadang itu adalah hal sensitif yang sangat fatal.
Sebelum kerumah sakit, Rizon seperti biasa tak lupa dengan bucket bunga mawar favorit Nina yang selalu dia bawakan.
Drrtttt...
"Iyaaa Don..." Sapanya setelah menekan tombol hijau.
"Lagi dimana?"
"Nie lagi mau ke rumah sakit, habis dari kantor tadi..."
"Aku lagi di rumah sakit ini..." ucap Doni yang sudah menunggu 15 menit
"Dari tadi??? Tunggu sebentar ya... Aku jalan kesana..."
"Okeee..."
Panggilan berahir dan Rizon segera beranjak menuju rumah sakit.
***
Tampak Doni sudah menunggu didepan ruangan dimana Nina dirawat. Suasana didepan ruangan tidak hanya ada Doni sendiri. Tapi ada seorang gadis yang dia kenal sebagai calon istri Doni, pria separuh baya dengan wanita sebaya bersamanya, serta seorang pria yang masih sangat muda, hitungan anak baru lulus SMA.
"Maaf bul, mereka keluarga anak yang nabrak Nina. Kebetulan Ajie adalah adik Nissa, dan ayah ibunya. Kondisi Ajie juga lumayan parah, dan masih menjalani berobat jalan." jelas Doni
Rizon sebenarnya sudah tau, tapi dia berusaha untuk iklas. Karena kondisi Ajie juga ga kalah serius dengan yang dialami istrinya. Sempat koma juga tapi hanya beberapa hari. Dengan berat hati dia hanya berusaha berfikir jernih tanpa gegabah. Kejadian sudah terjadi ga akan bisa merubah keadaan.
"Maaf dank, kita baru bisa nengokin Nina..." tambah Nissa
"Maaf sebelumnya nak Rizon, bukan kita lepas dari tanggung jawab. Doni sudah menceritakan kondisi istri nak Rizon. Tapi keadaan Ajie juga sangat parah..."
"Iyaa saya paham pak. Saya sudah tau dan saya sudah iklas. Kedatangan bapak dan keluarga saya sudah terimakasih. Saya cuma berharap satu, istri saya segera sadar" suara Rizon terdengar parau.
__ADS_1
Sikap Rizon jauh dari pemikiran keluarga Ajie. Dalam bayangan mereka Rizon akan marah besar dan akan menuntut mereka.
"Ini adalah kecelakaan, dan nasib istri saya harus menjadi korbannya" ucap Rizon yang tak bisa menutupi kesedihannya.
"Yang sabar bul, semoga Nina akan segera sadar ya."
"Ini sedikit untuk membantu biaya rumah sakit nak Rizon" Ibu Nissa menyerahkan amplop coklat
"Apa ini bu?"
"Sedikit untuk membantu dank" tambah Nissa
"Kami akan bertanggung jawab sampai istri nak Rizon sembuh" ucap ayah Nissa
"Tapi pak..."
"Sebisanya saya akan berusaha nak. Kamu tidak marah, tidak melaporkan kejadian ini jadi kasus, itu sudah sangat membuat keluarga kami sangat berterimakasih. Harta bisa dicari nak. Tapi iklas kamu sangat berarti bagi kami"
Dengan sedikit berat hati Rizon menerima bantuan dari keluarga Nissa. Sebenarnya dia sudah iklas soal kecelakaan Nina. Baginya tau ataupun tidak tau, tidak akan merubah kondisi Nina seketika. Mempermasalhkannya bukanlah pilihan yang tepat dibanding dengan keadaan istrinya saat ini.
"Yang sabar ya dank, semoga mbak Nina segera sadar dan sehat."
"Saya minta maaf dank, saya terlalu tidak.hati-hati dan ngebut-ngebutan" ucap Ajie penuh penyesalan dengan air mata yang tak dapat dibendungnya.
Rizon memeluk dan menepuk pundaknya lembut.
"Pelajaran buat kedepannya Jie. Karena kecerobohan kamu banyak pihak yang dirugikan."
"Iya dank, terimakasih banyak. Kedepannya saya akan lebih hati-hati."
Tak lama ayah, ibu, dan adik Nissa pamit untuk pulang. Sementara Doni dan Nissa masih menemani Rizon di rumah sakit.
"Gimana rencana pernikahan kalian Sa?" tanya Rizon memecah keheningan
"Sementara ditunda dulu dank. Kondisinya sekarang masih ga karuan."
"Kenapa harus ditunda Don?"
__ADS_1
"Nissa yang minta begitu bul, kalo aku sebenarnya ga masalah. Tapi dia masih berat. Ajie baru keluar dari rumah sakit, Kondisi Nina juga masih belum karuan"
"Sa, kalo urusan Nina kamu ga usah fikirin. Lagian ga ada sangkut pautnya sama pernikahan kalian..."
"Ada dank. Gimana aku bisa menikmati hari bahagia sementara ada orang yang sedang berjuang untuk hidup karena ulah adikku. Lagian kondisi Ajie masih belum pulih betul."
"Fikirkan lagi Sa, ini bukan hanya keputusan dirimu sendiri."
Seorang dokter memasuki ruangan dimana Nina sedang terbaring tak berdaya. Itu menghentikan pembicaraan mereka. Rizon mengikuti dokter masuk kedalam. Sementara Doni dan Nissa masih menunggu diluar ruangan.
***
"Nissa boleh kedalam dank?" ijinnya pada Rizon yang sudah kembali duduk bersama dengan mereka.
"boleh Sa"
Nissa menitipkan tasnya pada Doni yang beranjak masuk. Pemandangan yang membuatnya sangat sedih dengan apa yang sudah menimpa Nina. Sosok yang dia kenal baik, ramah, dan selalu ceria kini hanya terbaring lemah tak bisa berbuat apa. Dan semua itu karena adiknya sendiri.
"Apa kabar kamu Na, lama kita ga ngobrol...maaf aku baru bisa jenguk kamu ya...maafin juga Ajie yang sudah buat kamu seperti ini." ucap Nissa pada sosok yang hanya diam. Tangannya begitu hangat dalam genggaman seolah-olah dia hanya tertidur untuk sesaat.
"Kamu harus cepat sembuh Na, kita akan jalan, kita bisa cerita kayak dulu lagi. Aku kangen curhat sama kamu..."
"Dan iyaaa Na, Aku ga akan menikah sama Doni sebelum kamu sadar. Itu janjiku..."
Begitu banyak kalimat yang terlontar tapi tak satupun terjawab. Nissa sangat sedih untuk itu. Air matanya tak bisa membohongi kesedihannya.
Sontak Nissa kaget, tangan Nina yang digenggamnya terasa bergerak memberikan respon.
Nissa berlari keluar memanggil Rizon sembari mengusap wajahnya yang penuh dengan air mata.
"Dank... tangan Nina bergerak..." ucap Nissa setengah berteriak
Tanpa banyak tanya Rizon masuk ke ruangan. Digenggamnya tangan itu dengan erat, berusaha merasakan apa yang Nissa katakan.
"Ayooo sayang... kamu bisa!!!"
Benar adanya. Meski hanya sesaat beberapa kali tangan Nina merespon kata-katanya.
__ADS_1
Segera Rizon menghubungi dokter untuk segera memeriksanya. Semangatnya kembali meski respon itu hanya sebentar.