Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
B'day lanjutan


__ADS_3

Sarapan pagi yang kesiangan itulah yang terjadi pagi itu. Caca keluar dari kamarnya saat aku masih menyiapkan makanan untuk kami bertiga.


"gilaaa, ngantuknya luar biasa Na..." keluh Caca sembari duduk dimeja makan.


"tidurnya juga udah subuh..." balasku sambil menata makanan diatas meja.


Rizon datang setelah selesai mencuci mobil ikut duduk disampingku.


"kok adek makan cake aja?" sambil melirik makanan yang ada didepanku


"Dia mah dikasih makan tiramisu cake tiap hari juga seumur hidup doyan." Caca mulai sewot dengan yang namanya tiramisu


Aku hanya tersenyum menaggapi kesewotan adik iparku yang berbanding terbalik tidak suka yang namanya tiramisu.


"Caca jam berapa harus balik asrama?" Rizon memastikan pada adiknya itu


"jam 2an harus sudah sampai asrama..."


"ya udah habis makan langsung siap-siap gih...kita jalan dulu sebelum nganter kamu"


"Belanja ya dank... Kan udah lama ga traktir..." rengek Caca seperti biasa kalo sudah ada maunya.


Yang ulang tahun siapa yang kesempatan siapa...


Rizon yang melihat kemanjaan adiknya kumat langsung mengiakan membuatnya kegirangan luar biasa.

__ADS_1


***


Seperti janji Rizon mengajak adik satu-satunya itu ngemol. Sambil melihat-lihat tapi tak satupun membuatku ingin membelinya. Beberapa aku pilihkan untuk Caca.


"Adek ga beli sesuatu?"


"ga kak... rasanya belum butuh juga..."


"kan ga harus butuh dulu baru beli... adek loh yang ulang tahun, kok.malah Caca yang heboh belanja..."


Aku hanya tersenyum menganggapi ocehannya.


Setelah beberapa jam berada ditempat itu, Caca pun berhasil menodong habis kakaknya. Belanjaannya lumayan juga, sampai aku juga ikut membawakan beberapa.


"Baik-baik yah..." ujar Rizon sembari memeluk adik perempuannya itu.


"maksiii kak..."


"Na,,, maaf buat yang kemarin ya..."serunya masih merasa bersalah.


"ga papa... kamu baik-baik ya..."


Caca melabaikan tangannya ketika mobil yang dikemudikan Rizon perlahan meninggalkan gedung asrama 3 lantai itu.


***

__ADS_1


Suasana hening seketika. Ocehan Caca yang hilang seakan membuat suasana kaku. Kalau ditanya bagaimana perasaanku saat ini, sedikit masih ada kekesalan yang membuatku enggan untuk memulai pembicaraan.


"adek ada kepengen mau kemana?" Rizon membuka pembicaraan yang hanya kubalas dengan gelengan kepala.


"masih marah sama kakak?"


"Sedikit..." balasku enggan untuk bicara


"maaf sayang... seharusnya ga seperti itu... kakak udah larang tapi Caca ngotot..."


"seharusnya kakak tau konsekuensinya... kalo kemarin adek kenapa-kenapa??? Rasanya nyesak hampir kehabisan tenaga..." tiba-tiba emosiku naik sampai keubun-ubun.


"adekkk...maafin buat semuanya..." ujar Rizon sembari meraih tanganku dengan satu tangannya sambil sesekali melirik kearahku yang membuang pandangan kearah kaca. Dengan cepat aku menarik tangan. Air mataku ga bisa tertahan tumpah begitu saja membasahi pipi. Rasa sesak dadaku mengingat semuanya. Ulang tahun yang seharusnya bahagia, malah berujung sakit hati.


"Jangan nangis gitu sayang... kakak benar-benar menyesal..."


Aku berusaha menata nafas yang sedikit sesak. Menarik nafas panjang dan membuangnya kasar.


Tidak ingin mengingat tapi rasanya masih sangat terngiang otakku.


"kita pulang aja kak." pintaku tanpa ada penolakan dari Rizon yang memegang kemudi.


Kembali diam, kami menikmati fikiran masing-masing. Rizon tampak berfikir keras sembari tetep berusaha fokus pada setir yang sedang dikemudikannya.


Kupejamkan mata dengan bersandar. Entah kenapa masalah itu kembali terngiang diotakku. Padahal aku sudah berusaha berdamai dengan hatiku.

__ADS_1


__ADS_2