Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Harapan yang nyata


__ADS_3

Sepanjang malam Rizon hanya memandangi wajah Nina, berharap satu keajaiban dia membuka mata, dan Rizon ingin dia menjadi orang pertama yang dilihat olehnya.


Genggaman tangan yang tak lepas, dengan wajah lelahnya masih setia menunggu keajaiban.


Tubuh yang lelah membuatnya tertidur dengan tangan Nina masih dalam genggamannya. Tidur dengan posisi kepala yang tertungkup disisi ranjang bukanlah pilihan yang nyaman. Tapi rasa lelahnya membuat Rizon tak sadar dan tertidur.


Malam yang semakin larut membawanya kealam mimpi kedunia lain.


Gerakan dalam genggamannya menyadarkannya dan membuatnya terbangun seketika.


"Sayang..." ujar Rizon antusias melihat tangan Nina bergerak.


Perlahan matanya juga menunjukkan respon yang sama. Dia sedang berusaha membuka mata.


Rizon memanggil dokter dan perawat melalui panggilan yang tersedia di ruangan itu.


Tak lama Dokter dan beberapa orang perawat dengan cepat masuk kedalam ruangan dan memeriksa keadaan Nina yang masih diam. Bola Mata indah yang sangat dirindukannya kini terbuka. Rizon meneteskan air mata melihat keajaiban yang diharapkannya. Ingin memeluknya tapi masih tertahan sembari lmemperhatikan dokter yang masih sibuk memeriksanya.


Pandangannya masih kosong. Bibirnya berusaha bergerak tapi masih terlihat begitu berat.


"Sayang...ahirnya kamu sadar" Rizon meraih tangan menciumi dengan lembut, membelai wajah yang masih tampak pucat.


Nina menarik tangannya dari genggaman Rizon, hanya melihatnya tanpa ekspresi sedikitpun membuat Rizon penuh tanda tanya.


"Dok..." Rizon tampak bingung


"Sabar ya... Jangan terlalu membuatnya berfikir keras. Dia masih dalam pengaruh tidur panjangnya. Besok akan dilakukan pengecekan lebih detail. Bersyukur sudah sampai ketitik ini..."


Penjelasan dokter membuatnya sedikit lega. Bahagia yang tak terungkapkan tampak jelas diwajah Rizon yang berseri.


"Sayang, terimakasih sudah berjuang untuk bangun. Maafkan suamimu yang tak berguna ini."

__ADS_1


"Kaa..kkaa..mmuu ssi..aaapa...???"


Deggghhhh


Jantung Rizon serasa berhenti berdetak. Istrinya tidak mengenalinya. Apakah ini salah satu akibat tidur panjangnya?


"Adek...ini kakak, suami kamu" ucap Rizon sepelan mungkin


"Ssuua...miii??? AAAGGGHHHHH"


Tiba-tiba Nina teriak memegangi kepalanya. Terlihat seperti sangat sakit.


"Jangan terlalu dipaksa, pasien akan stres. Saat ini ingatannya masih belum stabil. Mohon bersabarlah..." ucap dokter sambil menepuk pundak Rizon.


Setelah kondisi Nina tenang dokter dan para perawat meninggalkan ruangan itu. Menunggu jadwal cek lebih lanjut.


"Terimakasih Tuhan untuk hari ini. Keajaibanmu nyata. Meski masih belum mengingatku yang terpenting dia masih bersamaku" lirih Rizon pada dirinya sendiri.


***


Caca yang mendengar berita kesadaran Nina pagi-pagi sekali datang. Ayah juga sudah sampai dirumah sakit ga lama setelah Caca sampai.


Semua sangat kecewa, tak ada satupun yang diingat olehnya.


Rizon berusaha menahan kesedihannya, dia tidak ingin terlihat rapuh didepan istrinya.


"Yang sabar dank, pelan-pelan dia akan ingat" ayah berusaha memberikan semangat.


"Na, ini aku Caca, adik ipar kamu" ucap Caca masih mendapatkan respon yang sama.


"Ini lihat ini..." Caca meraih ponselnya dan membuka galeri foto yang menunjukkan kebersamaan mereka. Foto-foto bersama ayah, alm ibu, Rizon. Satu persatu Caca memberikan penjelasan setiap foto yang ada.

__ADS_1


"Aauughhh... Saakkiittt..." keluh Nina meringis menahan sakit.


"Udah Ca, jangan dilanjutin..." Rizon mencegah Caca


Caca berlari kecil keluar ruangan. Tak sanggup melihat kenyataan, meski dia terbangun dari tidur panjangnya tapi dia melupakan segalanya. Tangisnya pecah dipelukan ayahnya.


"Kenapa harus seperti ini ayah???"


"Sabar sayang... Keluarga kita pasti bisa mengatasinya. Pelan-pelan semua akan membaik."


"Caca ga tega melihat dank seperti ini. Bebannya sangat berat."


"Jalani aja sayang. Dank kamu orang yang kuat. Dia pasti bisa mengatasi semua ini. Kita ada untuk mendukungnya"


Didalam Ruangan...


"Apa benar kamu adalah suamiku? Bagaimana ku bisa percaya semua ini" suara Nina terdengar seperti berbisik.


"Adek... Kamu adalah Nina, istriku. Kita menikah sudah hampir 2 tahun. Ibu dulu sangat menginginkan pernikahan ini. Kita sepakat untuk menikah. Kakak mencintai kamu, sebaliknya kamu juga mencintai kakak. Meski perkenalan kita dulu ga lama, tidak ada kenangan indah pacaran, tapi takdir mempersatukan kita menjadi pasangan suami istri." Jelas Rizon dengan hati-hati


"Nina???Ibu???"


"Nina itu nama adek dan yang disebut ibu itu adalah mertua kamu. Tapi Ibu sudah meninggal sayang. Tidak lama setelah kita menikah ibu sudah meninggalkan kita. Tapi dia pergi dengan bahagia dengan kehadiran adek sebagai menantunya. Permintaan ibu satu-satunya setelah menahan sakit bertahun-tahun lamanya. Adek hadir memenuhi dan menyanggupi permintaan terahirnya."


Nina berpaling menatap langit-langit ruangan itu. Rintihan sakit dikepalanya kembali menyerang disaat dia ingin mengingat segalanya.


"Jangan dipaksa sayang. Kakak akan sabar menunggu sampai adek ingat lagi semuanya"


Rizon mengusap lembut wajah Nina yang terlihat lelah. Kembali dia menutup matanya, berusaha mengistirahatkan otaknya.


Senyum Rizon menatap istrinya yang sedang berjuang dengan memorinya.

__ADS_1


Pemeriksaan demi pemeriksaan dilakukan dengan semua yang terbaik. Ahirnya Nina dipindah keruang rawat. Meski masih dalam ruang lingkup rumah sakit setidaknya ruangannya lebih nyaman. Jauh dari peralatan medis yang sebelumnya menempel ditubuh Nina yang cukup beragam.


Lelah berfikir ahirnya dia kembali tertidur. Harapan dalam tidurnya dia akan bermimpi indah dan mengingat semuanya.


__ADS_2