Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
SAH


__ADS_3

Masih menunggu Rizon dikamar, sambil membuka beberapa jepit lidi yang menata rambutku serta beberapa accesoris nya. Menyisir perlahan bagian rambut yang disasak. Benar-benar harus sabar jika ga mau rambut panjangku rusak. Kemudian menghapus sisa makeup yang masih menempel.


"Adek..." suara disampingku lumayan membuatku kaget.


"Kakakkk...ketuk pintu dulu keq..."


"Kenapa emang...ini kan kamar kakak!!!" Balasnya menggodaku sembari mendekatiku.


"Makasi sudah sampai ketitik ini ya dek... ibu sangat bahagia... maafkan kakak sudah membuat adek banyak berkorban untuk keluarga ini..."


"Jangan bicara seperti itu." Ucapku melotot padanya. Dia hanya tersenyum seraya menuju laci meja dan mengeluarkan kotak berukuran yang tidak terlalu besar.


"Seharusnya ini kakak mau kasi buat adek sebelum acara, tapi kita keburu dipingit." Dia membuka kotak sembari mengeluarkan sebuah kalung dengan liontin inisial RN. Memakaikannya di leherku.


"Cantikkk..." ujarnya menatapku


"Makasi kak..." ucapku pelan


"Sama-sama sayang..."balasnya seraya mencium lembut kepalaku.


Disaat-saat seperti itu aku benar-benar luluh dihadapannya. Ketulusannya membuatku sangat damai ketika berada di dekatnya. Tindakannya terkadang konyol tapi itu membuatku semakin yakin dengan segala kebaikannya.


Tanpa berlama-lama mengingat masih ada acara makan malam bersama. Aku membersihkan diri. Dengan mengerti dia pun meninggalkan kamar.


***


Acara demi acara terlewati tanpa ada masalah sedikitpun. Berkat Tuhan memberikan restunya pada kami. Bisa sampai ketitik tahap baru kehidupan. Menjalani kehidupan rumah tangga yang masih sangat rapuh. Entah bagaimana nanti, aku hanya bisa berharap pada Tuhan, berharap pada janji-janji Rizon sebelumnya. Karena untuk saat ini pernikahan ini hanya demi ibu.


Malam semakin larut, aku benar-benar lelah. Pertama kalinya aku bermalam dikamar yang sama dengan Rizon. Jujur aku takut, aku bingung melewati malam ini. Tak bisa dipungkiri aku dan dia adalah manusia normal. Baru menikah dan ini adalah malam pertama kami.


"Kok masih duduk aja, katanya capek?" tanya Rizon tampak tenang


"Tenang aja sayang, kakak ga lupa dengan janji kakak."ujarnya membuatku lega


Sembari mengambil bantal dan selimut dilemari paling bawah, Rizon menuju sofa dan menaruh bawaannya disana. Kemudian dia mendekatiku, duduk persis disampingku tanpa jarak sedikit pun.


Perlahan jemarinya merapikan sebagian rambut yang menutupi wajahku.


"Selamat malam ya... jangan fikir aneh-aneh...adek harus istirahat" ujarnya sembari mengecup lembut keningku.

__ADS_1


Dia beranjak berbaring disofa, tak lupa mematikan lampu dan menyisakan lampu tidur saja yang menyala. Perlahan aku memejamkan mata. Mengarahkan pandanganku pada Rizon yang sudah tertidur. Teringat pesan ibu.


"Jadilah istri yang taat pada suami, jangan sesekali menolak apa yang dimintanya selagi itu masih dalam batas wajar, karena sudah tugas seorang istri melayani suaminya."


"Dia lelaki yang luar biasa, aku bersyukur memilikinya" batinku penuh syukur


Aku memejamkan mata berusaha untuk tidur karena tubuhku benar-benar lelah.


***


Rasa capek yang membuatku benar-benar tertidur kayak orang mati. Aku terbangun karena sinar silau yang masuk melalui celah jendela. Rizon masih dengan posisi tadi malam, matanya masih tertutup rapat. Masih di alam mimpi. Aku melirik jam di samping meja, sudah pukul 8 pagi. Alangkah malunya baru bangun jam segini. Alamat jadi bahan bulian.


Aku mengambil baju ganti membawanya kekamar mandi. Karena Rizon masih berada dikamar yang sama. Kasian untuk membangunkan tidurnya yang masih begitu lelapnya.


Guyuran air di shower benar-benar menyapu gerah sisa tidurku.


Tanpa berlama-lama dikamar mandi segera aku sudahi dengan mengeringkan tubuhku dengan handuk. Memakai pakaian dikamar mandi. Dan Rizon belum juga bergeming dari tidurnya.


Setelah rapi dan tak lupa wangi, aku melangkahkan kaki keluar dari kamar itu...


Disambut dengan senyuman Ibu di ruang keluarga.


"Pagi sayang... gimana malam kamu?"


"Baik ibu...cuma masih terasa capek aja" jawabku polos sehingga menimbulkan senyuman aneh dari beberapa kerabat di tempat itu. Entah apa yang lucu dari ucapanku.


Mbok Inah membawakan roti keju dan segelas coklat hangat tanpa aku minta. Entah dari mana dia tau sarapan favoritku itu.


"Nina bangunkan kak Rizon dulu bu, biar sarapan sama-sama" ujarku yang dihalangi oleh ibu.


"Ga usah, ga papa...kasian dibagunkan...kalo dia sudah tidur senyenyak itu berarti dia benar-benar capek... Nina sarapan aja..."


Aku kembali duduk disamping ibu mertuaku sambil menikmati sarapan pagi sembari bercerita santai."


***


Entah sejak kapan Rizon bangun yang pasti dia keluar kamar sudah rapi dan segar.


"Kayaknya malam panjang kemarin ya dank..."suara om Adi menyambutnya dengan godaan malam pertama.

__ADS_1


"Iya nie om...mau tidur berat banget" ujarnya membalas godaan om nya itu dengan santai.


Aku yang mendengar celotehan mereka merasa malu. Apalagi disana ada banyak orang. Padahal belum ada yang namanya malam pertama. Tapi yang namanya orang baru menikah pasti akan identik dengan malam pertama, belah duren, dan entah istilah apa lagi.


Tanpa menunggu mbok Inah, aku beranjak membuatkan Rizon sarapan.


"Mau dibuatkan sarapan apa kak?"


"Sandwich tapi pake telur aja... mayonnaise nya di pisah aja pake saos sambal buat cocolan" jelasnya membuatku cukup mengerti.


"Inilah enaknya kalo sudah menikah dank, apa-apa sudah ada yang ngurusin." Om Adi Masih lanjut dengan menggoda pengantin baru itu.


Tanpa menghiraukan ocehan mereka yang ga terkontrol aku menuju kulkas dan mengambil beberapa bahan yang aku perlukan.


Ga butuh waktu lama membuatkan seporsi sarapan buat Rizon. Karena mintanya juga ga yang aneh-aneh. Ga lupa dengan segelas teh tawar kesukaannya.


"Makasi sayang" ucapnya tanpa sungkan. Padahal ada ibu disampingnya.


Aku kembali duduk tepat disampingnya sambil menyeruput sisa coklat hangat yang sudah dingin. Menikmati sarapan pagi yang kesiangan.


***


Menjelang siang tante Wulan dan om Adi serta 3 orang anaknya pamit untuk pulang. Karena beberapa hari terahir ini waktu mereka yang super sibuk tersita untuk mempersiapkan acara kami.


Satu-satunya sodara kandung ayah yang stay di kota Manna. Dua orang sodara perempuanya tinggal di Jerman dan Australia. Karena berkarir diluar negeri dan ahirnya berjodoh disana.


"Kapan rencana akan ke Bengkulu?" Tanya om Adi memastikan kepulangan kami.


"Kalo ga ada halangan minggu om...soalnya senin udah mulai ngampus" jawabnya


"Nanti sebelum pulang ingat mampir kerumah dulu ya" ujar tante Wulan ga mau kalah


"Akan diusahakan tante..." jawabku


Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah.


Susanan mulai kembali normal, hanya saja beberapa barang masih belum beres ditata. Dan barang-barang yang disewa masih belum diambil.


Sepeninggalan mereka, kami masuk kedalam rumah. Masing-masing memilih untuk istirahat, terlihat masing-masing memilih masuk kedalam kamar. Merehatkan badan dari lelah kemarin.

__ADS_1


__ADS_2