
Sudah hampir seminggu setelah kepergian ibu, masih menyisakan rasa sedih dan kehilangan yang masih terasa. Rumah terasa sangat berbeda tanpa keberadaannya.
Hidup kami harus berlanjut, masa depan masih perlu perjuangan. Perjalanan kami masih sangat panjang.
Minggu pagi, kami harus kembali ke Bengkulu, karna tugas kuliah sudah menumpuk selama ijin ada di Manna. Berat sebenarnya meninggalkan ayah, tapi mau ga mau kami harus berangkat. Dengan meminta mbok Inah untuk membantu menyiapkan segala keperluan ayah setiap hari sebelum pulang. Mbok Inah sebelumnya tinggal dirumah, semenjak menikah mbok Inah ahirnya datang pagi dan pulang sore hari.
Perjalanan lumayan lancar, karena kami berangkat pagi-pagi sekali. Sengaja hari sebelumnya kami sudah menjenguk makam ibu biar lebih santai.
"Adek tidur aja kalo ngantuk" ucapnya yang ternyata memperhatikanku yang menguap.
"Hhehe..." hanya bisa nyengir ketauan ngantuk. Memang mataku sangat berat sekali, kepala juga rasanya agak nyut-nyutan. Seminggu terahir memang istirahatku sangat ga teratur. Banyak fikiran, banyak tugas yang menumpuk sedikit menambah stres.
"Adek cuma sedikit capek aja kak..."
"Makanya istirahat sayang..."ucapnya lembut seraya menggenggam tanganku dengan satu tangannya.
***
Dua jam ga terasa karena sepanjang perjalanan aku tertidur. Entah sejak kapan jok mobil sedikit direbahkan oleh Rizon, membuat tidurku nyaman.
"Sayang... kita sudah sampai" bisiknya di telinga membangunkanku karena geli.
__ADS_1
Sambil membawa barang bawaan serta bungkusan yang aromanya membuat perut lapar. Ternyata dia tadi mampir membeli makanan.
"Segitu lelapnya aku tertidur sampai dia berenti juga aku ga sadar?"
"Tadi adek tidurnya lelap sekali makanya kakak take away aja" jelasnya tanpa kuminta.
Sesampainya dirumah yang kelihatannya sudah dibersihkan. Tandanya pak Sardi sudah kesini sebelum kami sampai.
Pak Sardi orang yang bantu-bantu Rizon bersih-bersih dirumah.
Badanku rasanya sangat merindukan hibernasi. Rebahan di kasur, meluruskan badan rasanya memberikan rasa yang benar-benar nyaman. Rizon yang baru keluar dari kamar mandi setelah berganti pakaian dengan lebih santai. Kaos oblong dan celana pendek menjadi pilihannya.
Dia mendekatiku duduk ditepi ranjang menatapku dengan matanya yang lelah.
"Disaat berdua sama adek, semua capek kakak rasanya hilang."
Dia mendekatkan wajahnya, mengecup lembut bibirku. Aku menerima kecupan itu dengan hati yang berdebar.
"Boleh???" Bisiknya meminta ijin
"Lakukan yang kakak mau jika itu bisa membuat beban kakak menjadi ringan" bisikku lirih dengan pasrah.
__ADS_1
Mungkin benar dengan apa yang dituliskan artikel yang pernah aku baca, **** bisa meringankan dan membuat rileks (note : bagi yang sudah halal ya😁😁😁🙏🙏🙏)
Kubiarkan dia melakukan semaunya. Melepas yang aku kenakan satu persatu tanpa tersisa sedikitpun. Tanpa menolak setiap sentuhannya yang lembut dan sangat hati-hati. Menyapu setiap inci tubuhku dengan bibirnya, menimbulkan gairah yang sangat bergejolak. Aku hanya mampu menggeliat dan memejamkan mata, menggigit bibirku sendiri dengan rasa yang tak bisa aku ungkapkan. Dia masih terus membuatku melayang sampai dibagian bawah yang aku rasa sudah basah.
Kembali dia menciumi bibirku dan memulai aksi dengan senjatanya.
"Kak..." sadarku sebelum dia memasukkannya
"Kenapa sayang???" Ucapnya seketika berhenti.
"Pakai pengaman dulu..." pintaku
Dia yang sadar segera membuka laci meja disamping ranjang. Mengambil dengan cepat dan menggunakannya.
Pelan mendorongnya dan perlahan menggerakkan pinggulnya dengan irama yang aku berusaha mengikutinya, memberikan sensasi yang membuatku terbang. Semakin cepat dan mencapai puncak nikmat.
Dia terbaring disampingku dengan keringat kepuasan. Menarik selimut menutupi tubuh kami yang polos. Dia memelukku seraya mengecup puncak kepalaku dengan lembut.
"Makasi sayang"
" sama-sama sayang" balasku sambil membalas pelukannya.
__ADS_1
Lelah yang nikmat membuat aku dan suamiku tertidur. Benar-benar menikmati istirahat siang yang indah.