
Disaat kondisi Nina yang semakin memburuk, perawat meminta Rizon untuk menunggu diluar karena penanganan lebih intensif perlu dilakukan. Awalnya Rizon menolak, tapi setelah perawat menjelaskan ahirnya Rizon menuruti. Perasaannya semakin gusar memikirkan perjuangan Nina didalam ruangan yang menurutnya menakutkan itu.
Sambil menunggu, Rizon mengunjungi bayi yang baru saja dilahirkan istrinya diruangan khusus bayi. Tapi dia hanya bisa memandang karena bayi mereka yang lahir prematur harus melanjutkan perjuangan didalam inkubator.
"Lihat bayi kecil, perjuangan mama mempertahankanmu. Didalam sana mama masih harus berjuang."Rizon bicara pada bayi mereka yang tidak mengerti apa-apa.
Wajah itu tampak tegar, tapi matanya tak bisa dibohongi. Semburat ketakutan yang mengandung kesedihan tampak jelas pada sorot matanya.
Bayi yang terlahir tanpa dosa itu hanya menunjukkan gerakan-gerakan kecil yang membuat Rizon tersenyum memandang keajaiban Tuhan yang hadir didalam keluarga kecilnya.
Mengingat operasi yang sedang berlangsung, setelah hampir 1 jam dia hanya memandangi bayinya, dengan berat hati meninggalkan ruangan itu.
Disaat yang bersamaan disaat tak lama Rizon ada didepan pintu ruangan operasi seorang perawat keluar dari ruangan itu.
"Sus, bagaimana operasi istri saya?"
"Keluarga ibu Nina?" tanya perawat itu
"Iya, saya suaminya..."
"Maaf pak, sebentar dokter yang akan menjelaskan..." ucapnya seraya melanjutkan langkahnya.
Tak lama langkah terdengar dan tampak wajah dokter Dian keluar dengan mimik yang tidak diharapkan.
"Bagaimana dok?"
"Maaf pak sebelumnya, kami sudah berupaya sebaik..."
"Tolong jangan bertele-tele dok. Bagaimana keadaan istri saya" Rizon mulai hilang control
"Dank, sabar. Jangan emosi gitu..." ucap Caca menenangkan
"Maaf sebelumnya pak. Segala upaya yang terbaik sudah kami lakukan. Akibat komplikasi yang penyakit yang dialami istri bapak kami mengalami kendala. Dan kondisi ibu Nina yang sangat lemah."
"Artinya...?"
"Ibu Nina tidak bisa diselamatkan. Kami turut menyesal dan turut berduka atas ini semua."
__ADS_1
Bak petir yang menggelegar rasanya tepat menyambar tubuh Rizon yang seketika itu lumpuh. Tak terkecuali dengan Caca yang bersama dengan Rizon.
Lelaki yang tampak gagah itu seketika mencari dimana separuh nyawanya telah menutup mata dan tak bernyawa itu terbaring. Menangis sejadi-jadinya. Tak pernah sebelumnya Rizon tampak serapuh saat ini. Jeritannya memanggil sang istri yang tak kunjung menjawabnya, membuat pilu bagi yang mendengarnya.
"Sayang, bangunnn. Kenapa seperti ini?"
"Adek sudah janji tapi kenapa kamu ingkar."
"Adek ga kasian, anak kita, anak kita sayang. Bukannya kita akan merawatnya sama-sama."
"Nina bangun, Kamu jangan becanda sayang"
Kalimat-kalimat itu terus terucap dari bibir pria yang sangat terpukul itu. Bermacam ekspresi yang menunjukkan luka yang mendalam membuat Rizon tak bisa mengontrol diri.
"Dank, jangan seperti ini. Nina sudah tenang, dia sudah sembuh dank" bujuk Caca menghibur
"Anak kami Ca. Apa yang harus dank katakan padanya. Dank ga sanggup."
"Bangun sayang, anak kita, anak kita sedang menunggu sayang..." Rizon tampak putus asa.
"Maaf pak, kami akan mengurus jenasah ibu Nina dulu" salah satu perawat minta ijin
Caca yang paham benar kondisi kakaknya itu berusaha menenangkan.
Mulai sadar dengan keadaan, Rizon tampak diam seribu bahasa duduk disalah satu kursi dilorong rumah sakit. Fikirannya kosong dengan segala sesuatu yang sangat tiba-tiba.
Bayangan perjuangan sang istri mempertahankan kehamilannya membuatnya benar-benar terpukul.
"Kenapa secepat ini sayang."
"Kenapa adek harus mengorbankan nyawa untuk anak itu?"
Entah kenapa ada kebencian ketika Rizon mengingat anak yang belum lama terlahir kedunia itu. Dalam fikirannya anak itu membawa petaka berupa kematian bagi sang istri.
"Meski kamu terlahir, tapi bagiku kamu telah membunuh mama mu sendiri" batin Rizon mengingat bayi yang sedang berjuang di dalam inkubator.
"Dank, kita berangkat sekarang" Suara Caca menyadarkan lamunannya.
__ADS_1
***
Dirumah duka sudah tampak ramai. Beberapa kerabat, teman Rizon maupun Nina sudah menunggu kedatangan jenazah.
Rizon masih dengan fikiran kosongnya. Jiwanya seakan hampa. Tak hanya sekali sudut mata itu menunjukkan embun yang siap mencair, tapi dia tampak berusaha tegar.
Suasana rumah yang ramai, tapi tidak hatinya. Tangis yang tak ada hentinya dari orang-orang yang merasa kehilangan. Nina orang baik, banyak orang yang menangisi kepergiannya dengan rasa kehilangan.
Rizon duduk disamping tubuh yang tak lagi bernyawa itu. Sesekali tangannya mengelus lembut wajah sang istri yang sudah kaku. Wajah itu tampak cantik dengan senyum tersungging disudut bibirnya. Senyum itu mengiris hati Rizon yang sangat tidak siap dengan kepergiannya.
Sepanjang malam Rizon hanya memandangi wajah Nina. Sesekali tampak dia menyeka air mata yang tak diundang membasahi wajahnya. Dalam diamnya dia menangis, dalam diamnya dia merutuki takdir yang benar-benar tak adil padanya.
"Besok akan tiba dan aku akan kehilangan ragamu disampingku" lirih Rizon pada raga yang kaku disampingnya.
***
Pagi yang sangat cerah, tapi bukan hati Rizon yang dirudung duka mendalam. Sepanjang acara penghormatan terakhir untuk sang istri, Rizon hanya hanyut dalam fikirannya sendiri. Sebelum peti ditutup tampak lelaki itu tidak rela melepas.
"Adek benar-benar akan meninggalkan dank. Selamat jalan istriku. Janjiku masih sama disaat kita mengikat janji pernikahan. Hanya adek seorang yang berhak mendapingi dank. Semoga adek tenang. Dank berharap, kunjungi dank walau lewat mimpi-mimpi dank."
"Terimakasih untuk waktu kita bersama sayang. I LOVE U SO MUCH. You the one. Only you in my life forever."
Kecupan terakhir dikening sang istri membuat semua yang menyaksikan menjadi terharu. Air mata mengalir begitu saja. Sedalam itu cinta Rizon pada sang istri.
Penutupan peti yang sangat menguras air mata. Dalam diamnya tangis Rizon tak hentinya dengan bukti air mata yang tak henti mengalir. Mengantar sang istri ke tempat peristirahatan terakhirnya.
Perjalanan yang cukup panjang, karena Rizon meminta Nina dimakamkan disamping ibunya. Kedua orang yang disayanginya itu kini sudah bersanding.
Proses pemakaman ahirnya selesai. Kini hanya Rizon dan beberapa kerabat yang masih tampak disana.
"Ayo kita pulang nak" ajak ayah ketika merasa Rizon sudah cukup lama memandangi makam sang istri.
"Deluan aja yah, Rizon masih ingin disini" tolaknya
"Nak, jangan seperti ini. Hidup kamu ga cuma sampai disini. Ingat, ada anak yang harus kamu fikiran"
"Tolong mengerti yah. biarkan Rizon sendiri"
__ADS_1
Sang ayah paham suasana hati anaknya tak memaksa lagi. Mereka meninggalkan Rizon yang masih larut dalam dukanya, meninggalkan area pemakaman.