
Dengan pelan aku melepaskan diri dari pelukannya. Menuju kamar mandi dan membersihkan diri dipagi yang masih sangat dingin. Tampak tanda-tanda yang diberikan suamiku mewarnai tubuhku. Segera aku mengenakan pakaian sebelum dia bangun dan membawaku kembali bertarung.
Masih membiarkannya tertidur, aku keluar kamar untuk menyiapkan sarapan pagi. Sebelumnya membuka gorden dan jendela yang ada dibeberapa sisi rumah. Angin pagi yang segar memasuki tiap sisi fentilasi udara memberikan hawa sejuk. Aku memutar pelan musik rileksasi yang menambah kesejukan pagi.
Persediaan bahan makanan sudah mulai menipis. Yang artinya hari ini ada agenda untuk belanja keperluan dapur.
Nasi goreng pilihan yang simple untuk sarapan pagi ini. Rizon yang sudah sadar dengan keberadaanku yang sudah tidak ada disampingnya memaksanya untuk bangun dan langsung bergegas membersihkan diri.
Dia menghampiriku menuju meja makan yang sedang menata makanan. Sudah segar dan wangi tubuhnya bersaing dengan aroma nasi goreng.
"Enaknya kalo ada istri dirumah gini nih..." ujarnya sambil meneguk air putih.
"mau adek buatin teh?"
"ga usah dek, kakak mau makan aja. Aromanya mengundang lapar..."
Aku mengambil dua piring dan ikut menikmati sarapan bersama.
"kak, hari ini ada kegiatan apa?"
"mau ketemu dosen dulu, kakak mau ngurusin masalah pengajuan judul. Habis itu rencana mau kekantor. Tapi kekantornya setelah adek udah beres kuliahnya aja."
"adek cuma sampai jam 12 aja jadwal hari ini. Pagi ada praktikum trus jam 10 ada kelas."
"Habis adek kelas aja kakak tinggal kekantor ya..."
"Boleh ikut ga??? Sekalian nanti kita belanja. Stok dikulkas udah lumayan menipis..."
Tanpa banyak protes Rizon menyetujui agenda hari itu. Dan sesuai keinginan hatinya bisa menghabiskan waktu bersama orang yang dicintainya.
***
Mobil melaju dijalanan yang lumayan ramai menuju salah satu bangunan megah yang merupakan kantor cabang usaha yang dirintis oleh ibu dari titik nol. Sebenarnya jauh dari bidang yang digeluti Rizon tapi kecerdasannya bisa menguasai dan mempelajari meskipun diluar jalur pendidikannya. Melihat kedatangan kami, para karyawan pun memberikan senyum untuk menyapa Rizon sebagai pemilik. Keberadaanku yang baru pertama kali menginjakkan kaki dikantor itu menjadi perbincangan terutama diantara kaum hawa.
"Ternyata ini istrinya...Cantiknya sederhana kayak ibu" bisik beberapa makluk yang sudah tau tentang pernikahan Rizon sebelumnya.
Aku yang ga mau mengganggunya memilih mengerjakan tugas laporanku sambil menunggu Rizon yang mulai sibuk. Satu jam dua jam dan sudah hampir tiga jam dia masih dengan kesibukannya. Laporan yang sudah selesai membuatku bingung mau ngapain.
__ADS_1
"kakak masih lama??? ujarku bertanya
"lumayan nie dek..."masih dengan berkas ditangannya
"adek bosan???"
"ga kok..."balasku menyembunyikan kejenuhan
Mencoba bermain ponsel, ga lama aku juga udah bosan.
"Coba maen kebawah...Gedung nomor dua sebelah kanan kator ini... Mudah-mudahan bisa ngurangin jenuh adek sambil kakak nyelesaian kerjaan."
"emang ada apaan disana???" ujarku penasaran
Aku menolak ketika Rizon meminta asistennya untuk mengantarku.
"ga usah kak...adek cari sendiri aja..." ucapku seraya meninggalkan ruangannya.
Sambil menoleh penasaran tempat yang dimaksud suamiku aku melangkah santai.
"Kinara Salon & SPA"
Menyadari istrinya tidak kembali ke kantor, Rizon tersenyum pada diri sendiri. Aman dari rasa bersalah membuat istrinya menunggunya bekerja.
***
Hampir dua jam aku menikmati rileksasi ditempat itu. Pijetan serta lulur yang wangi membuat badanku merasa segar dan ringan.
Sosok Rizon sudah menungguku menyambutku dengan senyumnya yang hangat.
"kakak udah disini?"
"baru 5 menit yang lalu..." jawabnya seraya mengenggam tanganku menuju kasir.
Baru saja mengeluarkan dompet, Rizon sudah terlebih dulu menyerahkan kartu debitnya untuk membayar.
"kan kakak udah kasi adek..."
__ADS_1
"itu buat keperluan dirumah sayang..." ucapnya membuat mbak dikasir tersenyum manis.
"Trimakasih atas kunjungannya ya..." ucapnya ramah serta menyerahkan kartu dan slip pembayaran. Sambil tersenyum Rizon membalas dan langsung merangkulku menuju parkiran.
"Wangi sekali dek...bikin ga sabar sampai dirumah..." serunya membuatku malu mencubit pinggangnya
"oouuggghh..." rintihnya antara geli atau sakit
Sebelum pulang, seperti agenda kami mampir disupermarket. Membeli stok bahan makanan untuk beberapa hari kedepan.
***
Sudah hampir magrib saat kami sampai dirumah. Rizon mengambil alih untuk merapikan belanjaan karena dia takut kakiku yang masih belum begitu sembuh kembali sakit karena kebanyakan berdiri.
"Biar kakak yang rapiin..."
Ga ada gunanya juga memprotes keinginannnya membantuku karena itu hanya akan sia-sia.
Ada Udan dan Doni memasuki rumah yang memang tidak terkunci. Rumah ini sudah seperti rumah mereka sendiri.
"wahhh ada nyonya ternyata..." sapa Udan yang menyadari keberadaanku
"Kalian...mari silahkan..."
"gimana kaki nya Na?" Tanya kak Udan
"udah membaik kak, udah ga harus diperban lagi"
Mereka menghampiri Rizon. Obrolan serius pun terdengar dari ketiganya. Masih menyangkut urusan judul.
Kak Doni tampak murung, tidak seperti biasanya. Dia lebih banyak mendengarkan perbincangan antara Udan dan Rizon.
"Kak Doni kok kelihatan murung ya? kenapa kak?" Tanyaku yang sedari tadi diam memeperhatikan mereka.
"ga papa Na..." jawabnya singkat
"kakak ga mau cerita nanti rugi sendiri loh..." godaku bercanda
__ADS_1
Rizon yang tau permasalahan yang sedang dihadapi Doni memberiku isyarat untuk tidak bercanda. Itu artinya masalahnya serius.