Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Kembali ke ibu kota


__ADS_3

Hanya dua minggu benar-benar mengubah hidupku. Niat hati untuk melepas lelah setelah tengah semester berlalu, malahan beban yang semakin berat. Waktu yang singkat dan penuh pergumulan.


Saatnya kembali menjalani sebagai mahasiswi. Pulang ke ibu kota dengan status yang berbeda.


Berat sebenarnya meninggalkan rumah yang hanya dua minggu mengubah segalanya. Dimana kondisi ibu yang masih belum begitu stabil. Tapi keadaan mengharuskan kami untuk kembali.


Ibu memelukku sebelum aku masuk kedalam mobil. Seakan tak rela di tinggal.


"Kalo memungkinkan kami akan sering pulang bu... " ujarku menenangkannya.


Wanita itu tersenyum seraya mengelus lembut pipiku.


"Kalian jaga kesehatan ya. Jangan memforsir diri terlalu berat." Ucapnya padaku.


"Dank, jaga mantu ibu baik-baik ya." alihnya pada Rizon seraya memeluk anaknya itu.


Dengan hati yang berat mobil yang dikemudikan Rizon perlahan meninggalkan rumah dan melaju di jalan raya yang lumayan ramai.


Masih fokus pada setir yang dipegangnya. Aku tau dia pasti memikirkan ibunya.


"Kak...kok diam aja?"tanyaku memecah keheningan. Dia hanya balik menatapku dan kembali fokus dengan jalanan.


Dengan respon seperti itu, aku memilih diam. Yang artinya suasana hatinya lagi ga mau diganggu.


Masih menatap jalanan yang kami lewati. Diam membuatku mengantuk. Sesekali aku memejamkan mata. Rasanya benar-benar tenang.


"Adekkk..." panggil Rizon pada wanita disebelahnya yang sudah tampak tertidur.


Dia hanya bisa mengembangkan senyum melihat kelakuan istrinya itu.


"Baru jalan berapa menit udah tidur aja..."


Serunya bicara sendiri.


"Memilikimu tapi tak berhak atas kamu" hatinya bicara lirih.


Saat mobil berhenti untuk mengisi bensin, aku baru menyadari kalo aku tertidur lumayan lama. Setelah membayar dan melanjutkan perjalan.


"Maaf, adek ga sadar tertidur kak..." ucapku merasa bersalah


"Ga papa,,," balasnya lembut.


"Dek..."


Aku menoleh panggilannya yang masih belum melajutkan kaliamatnya.


"Adek, apa perlu memberitahu ibu kos adek tentang smuanya? Misalnya Endah atau Fitri?"

__ADS_1


Kalimatnya mulai menyadarkanku.


"Kakak aja, kalo emang perlu memberitahu mereka, adek ga masalah."


Dia hanya manggut manggut sendiri menaggapi jawabanku.


"Kita makan dulu ya" ucapnya seraya membelokkan setir kearah tempat makan sebelum aku mengatakan apa-apa.


Tanpa banyak bertanya aku hanya ikut ajakannya. Dengan meraih tanganku, melangkah mengikutinya memasuki tempat itu. Tempatnya lumayan, ada lesehan dengan view sawah dengan padi yang siap dipanen. Kami memilih lesehan, sedikit lebih santai.


"Kakak sering ke tempat ini?" Tanyaku pelan


"Ga sering si... dulu pernah sekali sama ibu dan ayah. Waktu perjalanan mau ke Manna... Ayah yang rekomendasi, katanya makanannya lumayan enak. Pas nyoba benaran enak... tapi kalo kakak pulang sendiri jarang mapir dijalan." Jelasnya tanpa kuminta.


"Kak, gimana ahirnya nanti semua ini" ujarku nyeletuk sembari menunggu makanan.


"Apanya yang gimana sayang? Kita sudah sejauh ini. Jangan pernah menoleh kebelakang. Adek menyesal? Tanyanya lembut.


"Bukan soal menyesal kak. Cuma adek bingung buat ngejalaninya."


"Apa yang buat adek bingung???" Coba kasi tau kakak!!! Semua bisa dibicarakan, jangan pernah mengambil kesimpulan sendiri sayang..." ujarnya panjang dan sangat dewasa.


Disela-sela pembicaraan kami, seorang pelayan dengan senyumnya sudah mendekati meja kami. Menata makanan dengan hati-hati.


"Makasi mbak..." ujarku


"Mbak, minta tolong menu yang sama take away 4 ya..." Rizon memesan tambahan.


Tanpa banyak cerita aku dan suamiku menikmati makan siang. Kali ini hanya aku dan dia.


***


Tidak begitu jauh jarak kami makan siang dengan kosanku. Karena memang sudah memasuki kota Bengkulu. Tidak lebih dari 45 menit mobil milik Rizon sudah terparkir di depan kosanku. Disambut dengan mami yang tampak keluar dari rumah. Aku memeluk wanita setengah abad itu dengan rasa rindu yang sangat.


"Pulang-pulang wajahnya fresh banget anak mami"


"Iya ibu...dia suka di Manna" ujar Rizon salim sembari memberikan bungkusan makanan tadi dan beberapa oleh-oleh dari rumah.


Endah dan Fitri yang mendengar kepulangan kami ahirnya keluar dari kamar masing-masing.


"Ini oleh-olehnya banyak" ujar mami seraya membuka bungkusan.


"Wahhh...anak kos makan besar nie mi..." Fitri tampak happy.


Selagi mereka menikmati makanan, aku membuka kamar yang sudah 2 minggu aku tinggalkan. Rizon membantuku membersihkannya.


"Na, sering-sering aja keluar ya..." teriak Endah

__ADS_1


"Itu mahhh maunya kamu..." ujarku sambil tertawa


***


Ahirnya kamarku kembali bersih, kembali wangi. Tampak Rizon berbaring dengan mata tertutup, menyadari aku duduk disampinhnya. Dia bangkit untuk duduk.


"Adek...mendingan kasi tau ibu kos adek ya. Paling ga kakak ga dianggap menyalahi aturan kalo kangen mau ketemu istri." serunya meminta ijinku.


Aku mengiakan ucapannya, bagaimanpun aku adalah anak kos di rumah itu. Untuk menghindari omongan ga enak dari orang.


Pelan aku mengikuti langkah Rizon menuju dimana mami, ada Endah dan Fitri masih duduk santai. Mereka sedikit bingung melihatku dan Rizon yang juga bingung mau memulai dari mana.


"Bu, mohon maaf ni sebelumnya. Ada yang mau saya omongin" suara Rizon membuka obrolan


"Kayaknya serius banget kak? apa perlu kita masuk???" Balas Endah tumben serius.


"Ga Ndah...kalian juga perlu tau."


"Apaan sie kak, bikin penasaran !" Fitri ga sabaran


"Gimana mau ngomong wong kalian nyerocos terus." Mami melerai mereka.


"Rencana dua minggu liburan di Manna terjadi hal yang diluar dugaan... dan sebenarnya ini bukan sesuatu yang kita rencanakan."


"To the point aja kak, bikin penasaran aja" potong Endah ga sabaran. Rizon hanya tersenyum menaggapinya


"Intinya saat ini status Nina adalah sebagai istri saya"


Sontak ketiganya "apa???" Dengan nada tidak percaya.


"Serius Na??? Lu hamil, lu ..."


"Bukan Fit... ga ada yang gitu-gitu..."


Rizon perlahan menjelaskan kejadiannya dengan detail. Mami sebagai yang tertua pun mengerti.


"Kalo itu untuk niat baik, insya allah dijalanin aja sayang... itu salah satu bakti tethadap orang tua juga"


"Tapi buat saat ini Nina akan tetap kos disini bu, karna bagaimanapun saya ga mau memaksa untuk tinggal serumah kalo dia belum siap."


"Kok gitu nak?" Mami berusaha mencari tau alasanku


"Mami...ini hal baru yang begitu cepat prosesnya... Nina belum siap sepenuhnya...tapi demi ibu kita jalanin dulu seperti ini."


"Endah dan Fitri, aku mohon jangan membicarakan ini pada siapa pun ya... bukan takut publikasi tapi aku ga mau orang punya fikiran yang aneh-aneh. Semua ini kami lakukan murni demi ibu."


Kedua teman kos ku itu paham dan aku percaya pada mereka.

__ADS_1


Banyak pertanyaan yang memerlukan jawaban. Dan semuanya pertanyaan dari dua mahluk yang kepo benar-benar aku jawab dengan jelas.


Sore sudah menjelang malam. Rizon sudah tanpa sungkan memasuki kamarku, berduaan dikamarpun dia sudah berani. Mami sudah tau semuanya dan dia sangat menghormati dimana kami memutuskan menjadi pasangan suami dan istri.


__ADS_2