
Rizon memandangi tubuh lemah yang sedang tertidur. Wajahnya pucat tapi kecantikannya tak hilang dari wajah itu, wanita yang sudah menguasai seluruh kehidupannya. Pelan dia menyentuh wajahnya yang halus meski tidak menggunakan skincare yang mahal. Wanitanya yang ulet merawat diri dengan segala sesuatu yang alami. Padahal Rizon masih sanggup untuk memenuhinya, tapi dia selalu menolak dan lebih sering memilih berbagi dengan orang yang kurang beruntung.
"Daripada beli skincare jutaan, mending buat beli makanan dan berbagi sama anak-anak panti dank. Mereka pasti akan senang"
Satu panti yang sering Nina kunjungi yang tak jauh dari rumah. Disaat senggang ataupun jika Rizon ada waktu tempat itu menjadi pilihannya. Anak-anak panti sangat dekat dengan istrinya. Selalu menunggunya bukan karena hanya ada buah tangan.
Nina terbangun, membuka mata. Manik mata keduanya saling bertemu.
"Dank belum tidur?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.
"Kok ngeliatin adek gitu?"
"Adek cantik kalo lagi tidur. Makanya dank ga bisa tidur. Pengen mandangin aja" gombalnya
"Gombal ahh..."
"Beneran sayang" Ucapnya seraya ikut berbaring dan memeluk sayang Nina.
"Bahagia rasanya dank, apalagi anak kita akan hadir melengkapi kebahagian kita" ucap Nina sambil meletakkan tangan Rizon diperutnya yang masih rata.
"Sayang... tadi dokter Dian sempat menghubungi dank..." ujar Rizon hati-hati
Nina menengadahkan wajahnya memandang wajah Rizon dengan seketika.
__ADS_1
Dan seperti yang dikuatirkannya, raut wajah Nina langsung berubah
"Apa kamu berada dipihak dokter itu?"
"Bukan begitu sayang. Apa yang dia katakan demi kebaikan adek. Ayah mana yang tidak menginginkan kehadiran seorang anak. Tapi dank mikirin adek..."
"Apapun itu alasannya tetap saja dank tidak menginginkan anak ini."
Mata indah yang tadinya tampak bahagia kembali berkabut. Air mata Nina jatuh begitu saja, dan dia berusaha melepaskan diri pelukan Rizon.
"Adek, dengerin dank." ujar Rizon berusaha memberikan pengertian agar Nina bisa menerima apa yang menjadi kenyataan jika keadaan tidak mendukung untuk kehamilan Nina untuk dilanjutkan.
"Kamu ternyata ga beda dengan mereka" ucap Nina ketus seraya bangkit dari tempat tidur dan meninggalkan Rizon dikamar yang masih dengan kebingungannya sembari meremas rambutnya sendiri.
"Kenapa harus seperti ini" Rizon merutuki dirinya sendiri
Memanggil nama sang istri yang tak kunjung mendengar sautan membuat Rizon mulai takut. Dikamar yang lain juga kosong, disetiap sudut rumah juga tak menemukannya. Segera meraih ponsel, menghubungi nomor Nina dan ternyata ponselnya berdering diatas meja makan.
Kondisi yang benar-benar mebuatnya takut. Takut dengan kondisi Nina yang sedang dalam keadaan yang tidak fit.
Segera tangan Rizon meraih kunci sepeda motor dan meninggalkan rumah segera mencari keberadaan sang istri.
Pelan dia menyusuri jalanan yang masih tampak ramai sambil mencari keberadaan Nina.
__ADS_1
"Pasti dia ke panti" batinnya sembari mengarahkan motor yang dikendarai menuju panti.
Rizon tampak lega dari kejauhan sang istri tampak sedang berbincang dengan bu Sari sang pengurus panti sambil memperhatikan beberapa anak yang sedang membuat pra karya didekat mereka. Meski wajahnya masih tampak pucat, tapi ada semburat kebahagiaan yang tampak diwajah Nina.
Perlahan Rizon mendekat kearah mereka.
"Rizon... Sudah pulang nak?" sapa ibu Sari ramah
"Iya bu..."
"Baru Nina sampai beberapa menit yang lalu. Katanya kamu lembur makanya dia kesini"
Rizon tersenyum menanggapi kalimat bu panti yang jelas bukan itu alasannya kenapa Nina datang ke panti.
" Iya bu... ternyata urusannya cepat selesai makanya langsung pulang. Tapi kalo Nina masih mau disini ga masalah kok... Iya kan sayang?"
"Kalo gitu dank pulang dulu mau mandi dulu. Sebentar dank jemput ya..."
"Iya dank..." ujar Nina singkat
"Ibu, ga papa ya Nina saya tinggal dulu. Saya mau besih-bersih badan dulu"
"Iya nak... Hati-hati ya"
__ADS_1
"Dank tinggal dulu ya..." Pamit Rizon sambil mencium pucuk kepala Nina yang hanya memberikan respon dingin terhadapnya.
Rizon meninggalkan panti dengan sedikit kelegaan. Nina mungkin membutuhkan waktu dan ruang. Rizon merasa tenang karena panti dan ibu Sari adalah tempat yang tepat buatnya untuk menenangkan fikirannya.