Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Permintaan ibu


__ADS_3

Sepanjang malam aku ga bisa memejamkan mata. Setelah Rizon melakukan hal yang tak terduga, meski itu hanya kecupan selamat tidur dikeningku, karena itu pertama kalinya. Dan cukup memberiku perasaan yang berbeda.


Aku menuju dapur yang mana ada ibu disan, bersama seorang yang sebelumnya aku tidak melihatnya.


"Mungkin itu yang namanya mbok Inah" fikirku dalam hati.


"Udah bangun nak??" Sapanya sambil duduk di meja menyiapkan sesuatu untuk dimasak.


"Iya bu... mau bikin apa bu?" Ikutan duduk di depannya.


"Biar mbok Inah aja, kamu bangunin Rizon gihh dikamarnya...biar sarapan sama-sama. Ayahnya bentar lagi udah mau sampai..."


Sosok yang ingin aku tanyakan dari awal aku sampai tadi malam. Karena dari tadi malam sampai pagi ini aku sama sekali belum melihatnyaa.


"Emang ayah darimana bu??" tanyaku pelan


"Ayah ada dinas keluar kota..."


"Ooo...pantesan ga lihat pas nyampe tadi malam." seruku


Tanpa banyak bertanya tentang ayah, aku beranjak meninggalkan dapur menuju kamar Rizon.


Pria itu masih sangat nyenyak tidurnya. Sangat manis, tidur dengan memeluk batal guling.


"Kak...kakakkk..."bisikku pelan sambil menggoyangkan badannya.


"Bagun kak, kata ibu ayah bentar lagi udah sampai. Biar bisa sarapan sama-sama" ucapku sedikit berhasil membangunkannya. Tapi lagi-lagi dia menutup matanya dan membuatku sedikit geram.


Menunggu dia benar-benar bangun, aku memperhatikan setiap sudut kamarnyan yang cukup luas. Ada banyak buku yang tertata rapi menandakan kalo dia suka membaca. beberapa foto yang dipajang, ada beberapa piala yang tertata di dalam lemari kaca. Kamar itu tampak begitu bersih.


"Adekkkk...." panggilannya menghentikan kegiatanku mengamati kamar iti.


"Bangun kak... " ujarku kemudian


"Morning kiss dulu" ucapnya sembari menunjuk ke pipinya


"Isss kakak... kok tumben tiba-tiba genit yahhh... nyeremin tau... ini rumah orang tua kamu lohhh...jagan aneh-aneh dehh" aku mengingatkan sedikit kesal.


Dia langsung membuka mata dan menatapku sambil tersenyum.


"Iyaaa sayang... kakak bangun sekarang" dengan gaya sok manja


"Sekarang ya..." tegasku seraya meninggalkannya yang masih tersenyum merasa menang.

__ADS_1


***


Saat ke dapur aku ga menemukan ibu...


"Ibu mana mbok...??" Tanyaku pelan


"Kayaknya kekamarnya non.. paling rebahan sebentar..."


Menjadi tanya tanya bagiku. Tapi aku ga berani terlalu jauh. Baru kemarin aku mengenalnya.


"Emang ibu sakit mbok?" selidikku memberanikan diri.


"Sudah dari lama sakitnya, udah kemana-mana berobat tapi ga ada yang berhasil. Ahirnya ibu udah malas." Jelasnya pelan setengah berbisik.


Sedikit terjawab kekuatiran Rizon tadi malam saat bercerita soal ibu. Dan kenapa setiap weekend pasti menyempatkan untuk pulang.


"Kenapa dia ga pernah mau berbagi??? hal sebesar ini disimpan sendiri" gerutuku dalam hati.


"Ibu mana?" Tanyanya saat tidak menemukan ibu di dapur.


"Ada dikamarnya dank." Balas mbok Inah yang spontan membuat Rizon berlari menuju kamar ibunya. membuatku bingung seraya mengikutinya.


Dan benar, baju yang dikenakannya sudah bersimpuh darah yang mengalir dari.


"Ibuuu..." teriaknya paniknya dan membuatku lebih panik.


"Ga papa nak..."serunya masih bisa tersenyum.


Aku membantu Rizon membersihkan darah ibu. Pria yang aku kenal dengan ketegasannya ternyata sangat rapuh.


"Ga seharusnya kamu melihat keadaan ini sayang." Ucapnya padaku


"Jangan ngomong gitu bu... ibu harus kuat dan harus sembuh... ga ada sakit yang ga punya penawarnya, yang penting ibu harus semangat..."hiburku menahan sedih.


Keceriaannya malam pertama kali bertemu benar-benar hilang. Wajah itu kini pucat pasi. Setelah memberi obat pada ibu, ahirnya dia tertidur dan Rizon masih diam terpaku disampingnya.


"Apa yang harus aku lakukan bu" gumamnya pada diri sendiri seolah-olah merasa bersah dengan apa yang terjadi pada ibunya.


Bertahun-tahun diperhadapkan hal seperti ini. Setiap detik, menit, jam, hari bersama ibu sangat berharga.


"Maafin kakak soal ibu...kakak ga pernah bercerita tentang keadaan sakit ibu...Inilah alasan kenapa kakak sering pulang dek... inilah alasan kenapa kakak jarang sekali menemani adek kalo weekend. Alasan kakak bilang maen di rumah teman, alasan kakak lagi banyak tugas dan sibuk sesibuknya... sebenarnya kakak di rumah..setiap ada kesempatan kakak akan pulang... melihat penderitaan ibu..." ucapnya tak mampu menahan air matanya.


Tak kuasa menahan air mataku, yang turut merasakan tekanan yang dihadapinya. Bagaimanapun dia adalah ibu dari orang yang aku sayang. Dia adalah ibuku juga

__ADS_1


"Semua akan baik-baik aja kak. Ingat Tuhan sayang sama kita" seruku menenangkan Rizon. Pria itu memelukku sambil menumpahkan tangisannya. Benar-benar menangis dan saat ini dia benar-benar rapuh.


***


Baru saja mobil diparkir dan mesinnya belum benar-benar mati. Sosok lelaki separuh baya itu langsung menuju kamar dimana ibu terbaring lemah.


"Ibuuu..." serunya disambut dengan senyuman yang sangat manis. Ga lupa sosok yang di panggil ayah mencium kening ibu dengan lembut.


"Mengharukan" batinku


"Ayah..." ibu memanggilnya sembari mengarahkan pandangannya ke arahku.


"Cantik kan calon mantu kita" ucapnya menyadarkan ayah dengan keberadaanku.


Tak lupa aku tersenyum dan memberi salam pada ayah.


"Ga salah kamu itu anak ayah...seleranya tinggi" ucap ayah setengah berbisik membuat ibu tersenyum.


Dalam setiap kesempatan hanya ada senyuman ditengah keluarga itu. Terutama di hadapan ibu, tidak boleh ada masalah, segalanya harus dirubah menjadi kebahagiaan.


***


Aku lebih memilih bersama ibu dikamar. Diramaikan Caca yang sedang vidio call. Kami bertiga bercerita panjang lebar dan itu membuat ibu tersenyum lepas.


Namanya perempuan ada aja yang bisa dijadikan topik pembicaraan.


Di tempat lain, tepatnya di teras samping rumah Rizon dan ayah sedang berbincang serius yang pasti tidak jauh dari topik ibu.


"Ibu kamu punya keinginan terahir, ingin kamu menikah. Kesannya ibu terlalu egois mengingat kamu masih kuliah dan perjalanan karir kamu masih panjang" ucap ayah penuh sesal


"Jangan bilang terahir ayah,,,"


"Memang hanya itu permintaanya. Dokter juga sudah menyerah.


Ayah sudah ga bisa ngomong apa. Ga mungkin dengan alasan ibu, pacar kamu mau diajak menikah secepatnya."jelas ayah penuh bimbang.


Rizon hanya terdiam mendengar ucapan ayah tentang permintaan ibunya. Sesuatu yang sangat berat dan saat ini tak ada jalan keluar sama sekali. Benar-benar buntu.


Keinginan ibu sebenarnya sederhana tapi sangat sulit mewujudkannya dalam waktu dekat ini. Mengingat Rizon dan Nina belum lama menjalin hubungan. Masih status mahasiswa. Dan bagaimana reaksi Nina jika tiba-tiba Rizon mengajaknya menikah? Terlebih keluarga Nina yang jauh di kota Medan sana ga mungkin bisa menerima mengingat usia Nina juga belum genap kepala 2.


Untuk kedewasaan ga perlu diragukan, karena dia terbilang lebih dewasa dibandingkan usianya.


"Tapi bagaimana caranya???" Fikir Rizon cukup menguras energi.

__ADS_1


__ADS_2