Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Season 2 part1


__ADS_3

20 Tahun berlalu


*Li**fe must go on*...


Slogan yang sudah cukup familiar untuk didengar. Itu yang Rizon jalani setelah kepergian Nina.


Tak terasa waktu berjalan. Dengan segala kesibukan atau lebih tepatnya menyibukkan diri.


Bayi yang terlahir piatu, yaghhh Theo Saguna kini sudah tumbuh menjadi sosok pria yang tampan, tinggi, pintar dan dengan segala kelebihan yang dia miliki tapi tanpa kasih sayang seorang papa. Segalanya dia miliki terkecuali hati papanya sendiri.


Keadaan membuatnya menjadi anak yang pendiam, dingin, serta penutup. Hanya pada bi Inah dan Caca yang dia panggil dengan sebutan bunda dia bisa lepas. Selebihnya karakter keras hati mendominasi dirinya.


Dengan kecerdasan diatas rata-rata dan menjalani acceleration di sekolah tingkat pertama dan di tingkat atas, tidak heran diusianya yang masih belum genap 21 tahun dia sudah menyandang gelar MBA dari universitas terbaik dunia Harvard University. Tidak tanggung-tanggung, semua dia dapatkan dengan mandiri dengan jalur beasiswa. Theo ingin menunjukkan pada papanya bahwa dia bisa membanggakan keluarga. Tak terfikir untuk main-main, bergaul seperti kebanyakan anak seumurannya. Semua dia lakukan untuk mendapatkan perhatian dari sang papa yang begitu tidak perduli padanya. Hanya ingin membuat papanya bangga atas pencapaiannya.


Hari ini Theo akan kembali ke Indonesia, tepatnya kembali ke kota kelahirannya. Sebenarnya sudah banyak perusahan-perusahaan besar yang mengincarnya diluar negeri sana, tapi Theo lebih memilih untuk pulang untuk keluarganya, terkhusus untuk papanya.


Senyum sang bunda dan suaminya menyambutnya ketika keluar dari bandara. Senyum itu tak berubah, penuh kasih dan cinta yang tulus.


"Ahirnya sayang bunda pulang juga." Sambutnya pada anak sang kakak tertuanya itu


Pelukan hangat yang dia rindukan tapi tak sebanding dengan kerinduannya pada sang papa.


"Papa mana bun, kok bunda dan Om yang jemput?" tanyanya penasaran.


Padahal Theo hanya mengabarkan kepulangannya pada papanya saja.


"Papamu minta maaf, tadi ada meeting dadakan makanya ga bisa jemput kamu. Dia telpon bunda, kebetulan tadi bunda pas ada didekat sini. Makanya sekalian."

__ADS_1


"Minta maaf, paling itu cuma pemanis dari mulut bunda" batin Theo dalam hati.


Harapan hanya tinggal harapan. Bayangannya tak semanis kenyataan. Theo berharap akan melihat sosok papanya menyambut kepulangannya, memeluknya dan... Ahh sudah lah. Mungkin itu hanya sebuah keinginan dari jaman dahulu yang belum terwujud.


Tanpa membuang waktu ahirnya mobil berwarna hitam itu membawa mereka pulang.


"Bun, Theo mau kerumah Kenari ya..." pintanya pada Caca


Tanpa banyak bertanya Caca hanya mengiakan saja.


Rumah sederhana papa menjadi tujuan. Karena sebelumnya mereka tidak tinggal satu rumah. Rizon membelikan sebuah rumah yang sangat-sangat jauh dari kata sederhana. Rumah itu bisa dibilang seperti istana dengan segala fasilitas didalamnya.


Secara materi dia adalah papa yang sangat peduli, bertanggung jawab dan mementingkan kenyamanan hidup Theo. Tapi dihati kecilnya bukan kemewahan yang dimintanya sejak dulu. Satu hal yaitu kasih sayang papa yang dia rindukan.


Mobil Jazz hitam sudah parkir didepan rumah sederhana itu, pertanda papa ada dirumah. Untuk seorang pengusaha sukses kehidupan Rizon terbilang jauh dari kata mewah. Hidupnya benar-benar sederhana. Sering sekali teman-teman rekan bisnisnya mengolok-olok tapi semuanya hanya masuk telinga kanan dan mental kembali keluar.


"Papa..." sapa Rizon langsung masuk karena pintu tidak terkunci.


"Hari ini anak kita pulang sayang. Theo sudah menyelesaikan pendidikan masternya. Ternyata kepintarannya tidak jauh dari papanya. Kamu tau, dia memintaku untuk menjemputnya tapi akuuu..." Rizon tidak melanjutkan kalimatnya


"Sekarang dia pasti sudah sampai dirumahnya. Ahhhh, seperti apa wajahnya setelah 4 tahun lebih dia di luar negeri."


Theo yang mendengar keluh kesah papanya hanya bicara pada sebuah bingkai foto merasa perih dihatinya.


"Apa papa sebegitu cintanya pada mama?"


Kali pertama Theo menyaksikan kesenduan hati papanya. Dia bukan seperti papa yang biasa dia kenal. Papa yang keras hati, papa yang angkuh yang hanya yakin pada pendiriannya sendiri. Sisi rapuh sang papa yang sangat memilukan hatinya.

__ADS_1


Pura-pura tidak melihat dan mendengar apa yang dilakukan papanya Theo sengaja memanggil dengan keras agar papanya mendengar.


"Siapa???" Suara Rizon terdengar


"Theo pa..."


Wajah yang sudah tampak tak muda lagi itu menghampiri anak yang baru saja menginjakkan kaki ketanah kelahirannya.


Theo menyambut tangan papanya dan mengecupnya dengan lembut.


"Gimana kabar papa?"


"Papa baik."


Mereka melanjutkan obrolan dengan duduk di sofa di ruang tamu.


Tak ada yang berubah penataan rumah itu mulai dari Theo kecil dan sepanjang bisa mengingat sampai dengan saat ini. Original seperti dulu kala. Benar-benar papa menikmati suasana semasih ada mamanya.


"Sudah pulang ke rumah Karang Tinggi?" Tanya Rizon menyelidik


"Belum pa, tadi Theo langsung kemari. Theo mau minta tolong biar kesana bareng papa." ajaknya penuh harap


"Papa ga bisa Theo. Papa masih ada urusan. Kamu bawa gih mobil papa. Atau papa telpon Andrian biar bawakan mobil kamu kemari."


Jawaban yang Theo sudah yakin. Penolakan halus selalu keluar dari mulut papanya apapun itu ketika dia mengajak untuk quality time bersamanya.


"Ya sudah kalau begitu Theo akan tinggal disini bersama papa" ucapnya tanpa diduga oleh Rizon

__ADS_1


Tanpa menunggu reaksi sang papa, Theo memasuki kamar yang sebelumnya adalah kamarnya juga, tetapi semasa dia masih bayi. Tapi isi kamar masih lengkap cuma tidak seluas kamarnya di rumah Karang Tinggi.


Menyegarkan diri adalah pilihan yang terbaik bagi Theo saat ini. Masih membiarkan papanya hanyut dalam fikirannya yang terlalu larut dengan cintanya yang sudah pergi.


__ADS_2