
Situasi yang sangat membuat Rizon berada diantara pilihan yang sulit. Istri yang sangat disayang atau anak yang sudah lama dinantikan. Keduanya sama berharganya. Sulit bagi Rizon, karena keduanya sama penting dan sama berharganya.
Lama dia menikmati fikirannya sendiri. Tanpa dia sadar jam yang sudah larut dan suara pintu gerbang yang terbuka menyadarkannya.
"Adek sudah pulang? Sapanya saat Nina sudah masuk kedalam rumah.
"Maafin adek dank..." Ujar Nina sembari memeluk Rizon yang masih belum on sepenuhnya.
"Adek bicara apa...Ga ada yang perlu dimaafkan sayang. Keadaan yang sulit yang harus kita hadapi.."
"Adek terlalu egois..."
"Ga sayang. Hal yang wajar yang kamu lakukan. Dank mungkin yang tidak peka dengan apa yang sedang adek rasakan. Kita hadapi sama-sama ya..."
"Apapun itu kita akan lalui, yang penting adek harus semangat."
Rizon berusaha membangun semangat dalam diri Nina. Meskipun dia sendiri masih dipenuhi rasa bingung dan masih belum menemukan solusi terbaik.
"Sekarang kita harus istirahat. Adek harus jaga kondisi..."
Perlahan Rizon membimbing sang istri menuju kamar. Berusaha menyembunyikan perasaannya yang sedang kalut.
"Dank mau cek pintu gerbang dulu ya sayang"
"Iya dank, adek juga mau ganti baju dulu..."
Rizon meninggalkan kamar setelah Nina masuk kedalam kamar mandi. Mulai mencek dari gerbang, pintu dan lainnya. Ritual keamanan yang selalu dia lakukan.
__ADS_1
***
Lelah hati yang sedang dialaminya membuat Nina tanpa menunggu Rizon memasuki kamar sudah berbaring sambil memejamkan mata, tapi bukan tidur.
"Sudah tidur sayang" ucap Rizon sambil ikut berbaring disampingnya.
Menyadari Rizon yang sudah berada disampingnya, Nina mendekatkan diri dan disambut oleh Rizon yang langsung memeluknya.
"Dank..." ujar Nina
"hhhmmm..."
"Adek sayang kalian..."
"Sayang dank, dan sayang anak kita..." lanjutnya
Dengan hati yang bergetar Rizon mencium pucuk kepala sang istri dengan lembut.
"Terimakasih dank..."
"Untuk apa sayang?"
"Sudah memberikan cinta yang banyak buat adek..."
"Adek adalah segalanya buat dank. Adek adalah prioritas buat dank. Dan jangan selalu ada terimakasih untuk semua itu."
Nina semakin mempererat pelukannya. Merasakan kehangatan dengan banyak cinta dalam pelukannya. Sampai keduanya tertidur dalam dinginnya malam.
__ADS_1
***
Rizon terbangun mendengar suara dari kamar mandi. Menyadari Nina yang sudah tidak disampingnya lagi.
"Adek...!!!"
"Adek ga papa dank. Biasa hanya mual kok. Hanya Morning sickness aja. Adek udah googling, bukan hal yang berbahaya."
Rizon dengan segala kepanikannya membantu Nina kembali ke tempat tidur. Menyodorkan segelas air yang ada diatas nakas disamping tempat tidur mereka.
"Makasi dank.. "
"Gimana, masih mualnya?"
"Ga sayang... Cuma pengen peluk dank aja" Ucap Nina sedikit malu-malu.
"Kok tumben pagi-pagi minta di peluk?" Rizon sedikit nakal menggoda sang istri.
"Ya sudah kalo ga mau..." ucap Nina ngambek sembari menarik selimut menutupi tubuhnya dan membelakangi Rizon.
Menyadari sang istri ngambek, perlahan Rizon ikut masuk kedalam selimut dan memberikan pelukan terbaiknya. Tak lupa tangannya meraba perut Nina yang kini ada nyawa didalamnya.
"Sehat terus ya anak papa. Kuat bersama mama..." ucap Rizon membuat senyum Nina mengembang.
Hanya menghabiskan sisa pagi dengan saling menghibur. Karena bagaimana pun keduanya memahami keadaan yang tidak sebaik yang dilihat. Rizon berusaha untuk menepis segala permasalahan kandungan sang istri. Berusaha membuat Nina seakan lupa meskipun rasa sakit sering kali datang menyerangnya. Memberikan kekuatan serta dukungan, itu yang dibutuhkan belahan jiwanya saat ini.
"Dank, weekend kita pulang ke Manna ya. Adek kangen pengen ke makam ibu."
__ADS_1
"Tapi sayang, dokter sudah melarang belum boleh perjalanan jauh. Nanti kalo kondisi kehamilan adek sudah tidak ada masalah kita kunjungi makam ibu ya. Pulang ke Manna cukup jauh, dan dank ga mau adek kenapa-kenapa."
Nina hanya mengerucutkan bibirnya tanda protes. Tapi dia sudah berjanji untuk tidak protes dengan segala ketentuan yang sudah Rizon buat. Karena itupun demi anak yang dia ingin pertahankan dengan segala sakit yang menimpanya.