Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Masih permintaan ibu


__ADS_3

Siang itu Rizon mengajakku ke suatu tempat. Seperti biasa tidak pernah menjelaskan sebelumnya. Sepanjang perjalanan hanya diam menatap lurus ke jalanan.


"Ibu ga perlu dibawa ke dokter kak?" Tanyaku membuka diam.


"Ibu udah malas, susah membujuknya. Pasti selalu jawabannya percuma."


"Emang sejak kapan ibu seperti ini?"


"Udah lama dek. Sebelumnya dulu keluarga kakak tinggal di Unib belakang. Persis dua rumah dibelakang rumah ibu kos kamu. Ayah pindah tugas, ahirnya kita pulang ke Manna, karena lebih aman buat ibu. Banyak sodara di sini.


"Sejak kakak SMP, ibu sudah bolak balik rumah sakit. Dan sampai dia merasa benar- benar capek sampai ga mau diajak buat berobat. Kakak benar-benar bingung dek." Suaranya terdengar parau.


Jelas tampak kebingungan diwajahnya. Ada yang belum bisa diungkapkan olehnya. Entah apa itu, aku masih menunggunya. Sejauh aku mengenalnya, tak akan ada jawaban jika dia memang merasa belum waktunya untuk bercerita. Dia memiliki pemikiran sendiri dan punya cara sendiri menghadapinya.


Tak lama kami tiba di sebuah lahan yang sangat luas. Tampak bagunan sederhana di lahan yang sangat luas itu.


Ternyata Rizon mengajakku ke peternakan ayam. Sambil berjalan menuju gazebu yang berdiri kokoh diantara bangunan kandang itu.


Beberapa dari pekerja tersenyum sangat ramah menyambut kedatangan kami.


"Siang dank..." seseorang lelaki setengah baya menyapanya.


"Gimana pak, ada masalah?"


"Aman kok dank... semua rincian 2 bulan terahir sudah saya taroh di rumah ya. Minggu lalu saya titip di ibu." Jelasnya membuat Rizon manggut-manggut mengerti.


Sambil mengajakku keliling kandang yang berisikan ribuan ayam.


"Dulu kakak mulai dengan 100 ekor ayam dek, ga terasa perlahan bisa maju sampai kayak sekarang...Mudah-mudahan dilancarkan selalu ya dek"


Jelasnya bangga dengan hasil keringat dan jerih payahnya. Aku yang baru tau tentang ini turut bangga karna ternyata dia seoarang pejuang tangguh dan bukan anak mami yang terlihat dari kesehariannya.


"Non, degannya sudah di buka, hayo silahkan" wanita yang kira masih SMP itu.


"Adek duluan gihhh..." Rizon menyuhku duluan menuju gazebu yang sudah terhidang kelapa muda dan beberap makanan pendapingnya.


"Kamu masih sekolah" sembari berjalan aku bertanya pada gadis disebelahku yang ternyata bernama Lira.


"Udah ga non... seharusnya kalo sekolah udah kelas 3 SMP. Tapi bapak ga ada biaya. batuin bapak aja di sini. Masih fokus buat biaya ibu. Sehabis kecelakaan udah ga bisa ngapa-ngapain."


Miris mendegar cerita Lira yang ternyata bebannya lebih berat dibandingkan denganku.


Tak lama Rizon dan pak Nadi menyusul.


"Ayooo pak, sini sama-sama..."


"Ga usah dank... tadi udah makan" balasnya menolak.


"Lira sini... berdua aja mubajir ga bakalan habis" ucapku seraya menariknya duduk bersama.


Pak Nadi yang sudah tidak bisa menolak ahirnya makan bersama dengan kami.

__ADS_1


***


Setelah urusan kandang selesai kami langsung pulang.


"Beginilah kegiatan kakak kalo sudah pulang kerumah. Banyak yang bisa dikerjakan."


"Kan bagus kak, lebih positif."


"Kak,,,boleh nanya?" lanjutku


Tanpa menoleh dia mengiakan.


"ada masalah yang kakak masih sembunyiin dari adek?"


"kok adek nanya gitu?" elaknya tanpa memberiku jawaban.


"ya udah kalo emang belum mau cerita" ucapku tanpa melanjutkan pertanyaan lagi.


Perlahan mobil memasuki halaman rumah,karena jaraknya dari rumah juga ga begitu jauh. Tampak ibu dan ayah sedang duduk santai sore di depan rumah. Sambil ayah menikmati secangkir kopi dan jajanan rumah yang disiapkan mbok Inah. Seperti biasa senyuman khas ibu menyambut kedatangan kami.


"Habis dari mana sayang"


"Tadi ke kandang bu" Rizon langsung menjawab pertanyaan ibu.


"Ohh iya, ada titipan pak Nadi. Ibu taroh dilaci meja kamar kamu"


"Iya bu. Udah dikasi tau sama pak Nadi tadi.


"Iya sayang..."jawabnya tersenyum.


Sepeninggalanku kekamar, masih berlanjut obrolan antara anak dan orang tua itu.


Terasa segar setelah air dari shower membasahi tubuhku. Gerah setelah dari luar seketika hilang terbawa aliran air. Belama-lama dikamar mandi degan guyuran air salah satu cara menghilangkan penat dan stres ala Nina.


Keadaan ini masih membuatku tanda tanya. Perubahan sikap Rizon yang tampak murung seolah-olah sangat banyak beban yang dibawanya membuatku serba salah. Bertanya pun belum tentu akan mendapat jawaban, kalo memang belum saatnya cerita.


Mereka masih berada di depan saat aku selesai mandi. Langkahku terhenti saat mendengar beberapa pembicaraan mereka.


"Menikah??? Siapa yang sedang mereka bicarakan?" Rasa penasan menghampiriku


"Ibu ga tau kapan dan berapa lama lagi bertahan membawa sakit ini. Ibu hanya meminta pada Tuhan. Semoga Tuhan masih mengijinkan sampai kamu memiliki pendamping yang akan menjaga mengurus kamu, mengurus keluarga ini, menjadi ibu dan kakak buat Caca. Tapi dengan situasi saat ini rasanya itu jauh. Ibu semakin lemah untuk melawan sakit ini nak"


"Ibu jangan berfikir kayak gitu. Dank yakin ibu pasti kuat"


Rizon menenangkan ibu yang menangis sangat terdengar pilu.


Aku yang sejak tadi mendengar obrolan mereka ahirnya melangkah mendekati ibu...


"Ibu... kenapa menangis" tanyaku pura-pura tidak tau.


"Ga papa nak..." balasnya singkat. Berbeda dengan bisanya

__ADS_1


Rizon dan ayah yang hanya diam membuatku bingung mau berkata apa. Lama suasana hening itu berlangsung, tak ada satu pun yang membuka cerita.


"Ya udah, Nina masuk ke dalam aja. Mungkin kalian butuh privasi buat ngobrol." Ucapku seraya bangkit dan masuk ke kamar. Ketiganya tersadar dengan kalimatku. Rizon yang mendengar kalimat itu sontak memandangku yang langsung berlalu.


Ibu yang menyadari ketersinggunganku menoleh Rizon dan mengisyaratkan untuk menyusulku.


"Masalah lagi niee" gumamnya sambil berlalu.


"Adekkk..." panggilnya yang masih berada di depan pintu.


"Boleh kakak masuk" lanjutnya minta ijin


Tanpa aku menjawab dia mendekatiku yang berdiri memandang keluar jendela.


"Maaf yah, bikin kamu tersinggung"ucapnya hati-hati.


"Adek ga tersinggung kak. Mungkin tadi ada pembahasan yang belum selesai. Timingnya ga tepat pas adek datang. Itu aja..." aku berusaha menyembunyikan rasa kelu hatiku.


"Jangan bohong sama kakak... kakak kenal kamu bukan sehari dua hari."


"Iya kak, serius ga kenapa-kenapa..."balasku memberanikan menatap matanya yang malahan mebuatnya menarik tubuhku kepelukannya, Perlahan mengecup lembut kepalaku. Justru hal seperti itu malah membuatku mewek.


"Kakak paham sayang. Ga usah menyembunyikan kekecewaan dari kakak."


Benar-benar memberiku sandaran.


Aku masih menatap ketaman yang ada diluar jendela saat setelah Rizon pergi meninggalkan kamar untuk mandi. Masih memikirkan obrolan yang aku dengar sore tadi.


"Kasian ibu..." batinku mengeluhkan


Banyak berfikir tapi aku benar-benar tidak menemukan jawaban. Aku membayangkan posisi itu ada di ibuku sendiri. "Permintaan terahir" yang berat untuk dikabulkan pada saat ini.


Rizon muncul didepan pintu dengan nampan berisikan makanan diatasnya.


"Makan dulu sayang..." panggilnya membuyarkan lamunanku.


"Kok pake acara bawa makanan ke kamar kak?"


"Ibu suruh anterin, karna kamu ga keluar kamar"


Sambil meraih nampan, aku mengajak Rizon menuju meja makan. Disana masih ada ibu dan ayah yang masih menikmati makan malam.


"Nina kan masih bisa jalan bu, pake di anterin ke kamar segala" ucapku sembari duduk di ikuti Rizon disampingku.


"Jarang-jarang bisa kumpul, jadi kalo ada waktu harus dimaksimalkan" seruku sembari memulai makan.


Ibu menatapku dengan tatapan kagumnya sembari tersenyum.


"Makasi sayang... ucapanmu buat ibu bahagia... usia kamu mungkin masih kecil tapi pemikiran kamu lebih dewasa"


Aku hanya tersenyum membalas pujian ibu. Keadaan yang membuatku harus lebih dewasa dari usiaku. Keadaan memaksaku untuk tidak manja dan hanya memikirkan diri sendiri.

__ADS_1


__ADS_2