Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter62


__ADS_3

Doni yang masih menunggu bantuan tak bisa berdiam diri ditempatnya. Dengan berlari dia menerobos menendang botol air berisi racun itu. Ayu yang sedang menungkan isinya ikut terpental dengan tendangan tiba-tiba bersama dengan botol yang dipegangnya.


Baku pukul pun terjadi. Doni berusaha sekuat tenaga melawan orang-orang Ayu yang bertenaga luar biasa kuatnya. Sambil mencari kesempatan melepas ikatan Rizon.


Rizon yang sudah terbebas dari ikatan berusaha melawan sembari melindungi Nina. Mereka saling melindungi satu sama lain. Masih berusaha bertahan meski perlawanan yang tak seimbang.


"Doniiii awasss..." teriak Rizon bersamaan dengan pisau yang menusuk perutnya. Darah segar mulai mengalir. Sementara Ayu dan orang-orangnya mulai panik dengan kedatangan sekelompok polisi yang sudah mengepung tempat itu.


Diatara dua korban yang sama-sama.


penting baginya. Mulut Nina mulai mengeluarkan busa akibat minuman yang diberikan Ayu sudah sempat ditelannya. Sedangkan Doni yang terkena tusukan harus segera ditolong.


"Sayangggg bangun..." teriak Nissa yang ikut dengan rombongan polisi.


Tangisnya pecah melihat kondisi lelaki yang baru beberapa hari menjadi suaminya.


"Salah satu polisi membantu mengangkat Doni yang berlumuran darah dan Rizon menggendong Nina dengan tergesa-gesa menuju tempat yang bisa memberikan pertolongan. Nissa tak henti-hentinya menangis.


Butuh waktu satu jam ahirnya mereka tiba dirumah sakit terdekat. Keduanya dibawa ke UGD untuk mendapatkan penanganan.


"Tolong selamatkan istri dan sahabat saya.dok..."


"Sabar pak, kami akan berusaha semaksimal mungkin. Tolong dilengkapi keperluan administrasinya... Untuk keluarga korban tusukan ada beberapa dokumen yang harus ditanda tangani untuk operasinya..."


"Saya istrinya dok..."


"Silahkan ikut saya..." ucap dokter diikuti oleh Nissa.


***

__ADS_1


Nina sudah dipindah keruang perawatan. Kondisinya sangat lemah. Tubuhnya mengalami dehidrasi. Tiga hari tanpa diberi makan dan minum membuat kondisinya sangat lemah. Ditambah lagi dengan racun yang sempat ditelannya. Bersyukur masa kritisnya sudah terlewati.


Sudah berbotol-botol infus masuk ketubuhnya. Karena kondisinya masih sangat lemah. Hanya itu yang bisa menggantikan cairan dan asupan makanan bagi tubuhnya.


Sementara diruangan lain, Nissa ditemani keluarga Doni yang baru saja tiba masih menunggu Doni sadar.


Dokter bilang tidak ada yang perlu dikuatirkan. Untung lukanya tidak sampai mengenai organ vitalnya. Cuma kondisinya masih sangat lemah karena banyak mengeluarkan darah.


"Maaf om, tante, gara-gara membantu saya, Doni yang seharusnya menikmati bulan madu malah berahir seperti ini."


"Jangan seperti ini Rizon. Kamu juga banyak membantu keluarga om dan tante. Lagian ga ada yang perlu dikuatirin."


"Nissa, maafin dank ya..."


"Kamu sahabatnya dank. Ini ga ada artinya dibanding kebaikan yang udah kalian lakukan. Doni banyak cerita, kalo dank banyak membantunya."


"Berdoa untuk yang terbaik aja Rizon. Istri kamu juga semoga cepat pulih. Terlalu berat cobaan hidupnya. Akibat kecelakaan belum sembuh total, sekarang kejadian seperti ini datang menimpanya. Mudah-mudahan tidak menyisakan trauma yang berat untuk psikisnya."


Gadis malang itu hanya tersenyum simpul menutupi kesedihannya.


***


Rizon kembali keruang rawat Nina. Matanya masih terpejam. Wajahnya masih pucat.


"Maafin kakak yang ga becus menjaga adek... Kamu pasti ketakutan hutan tebu itu sayang. Maafin kakak..." Gumam Rizon dengan segala kesedihannya. Ternyata dibalik ketegasannya sisi cengengnya juga berdampingan.


"Tolong jangan sakiti aku, tolong ....tolongggg...."


Rizon yang sempat tertidur kaget dengan teriakan Nina yang masih memejamkan mata. Keringat membasahi dahinya.

__ADS_1


"Adekkk... sayang...." Rizon berusaha menepuk-nepuk pipinya


Matanya terbuka dan seketika dia terduduk. Rizon memeluknya, memberikan ketenangan seraya megusap lembut punggung Nina yang bergetar karena tangisnya.


"Adek takut kak..." tangisnya histeris


"Tenang sayang. Adek sudah aman. Kakak sudah disini. Mana yang sakit? Apa Ayu melukai adek???"


"Adek benar-benar takut kak. Jangan pernah tinggalin adek sendirian lagi..."


"Iya sayang... Kakak ga akan pernag tinggalin kamu lagi..."


Nina kembali berbaring setelah dia sedikit tenang. Dokter visit siang itu dengan teliti memeriksa keadaanya.


"Bisa kita bicara di ruangan saya?" Pinta dokter yang memeriksa Nina


"Baik dok..."


"Sayang, kakak keruangan dokter dulu ya. Nissa sebentar masuk nemanin adek..."


Keraguan Nina hilang setelah sosok Nissa masuk keruangan itu dan tersenyum mengijinkan Rizon keluar.


Diruangan dokter


"Kondisi fisik Nona Nina ga terlalu bermasalah, cuma masalah psikisnya ga boleh dianggap enteng. Traumanya cukup berat. Nanti saya bisa rekomendasikan seorang Psikiater. Mudah-mudahan bisa membatu pemulihannya. Untuk saat ini,.cukup menemaninya, jangan biarkan dia sendirian karna ketakutan yang belebihan akan berdampak buruk pada kesehatannya."


"Baik dok..."


"Kita lihat perkembangannya sampai besok. Kalo tidak ada masalah besok nona Nina sudah bisa pulang."

__ADS_1


Rizon mengangguk paham dengan penjelasan dokter. Dan melanjutkan langkanya menuju ruangan Nina dirawat.


__ADS_2