Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Season 2 part2


__ADS_3

"Papa, Theo lapar. Kita makan diluar yuk?" ajaknya penuh harap agar Rizon mau setelah ritual mandinya selesai


Papanya hanya diam, fokus dengan ponsel ditangannya. Tak lama dia bangkit dan membuat Theo tersenyum senang.


"Maaf Theo, papa harus pergi" Ucap Rizon yang dibuat bengong seketika.


Lama Theo terdiam. Matanya menatap penuh arti foto mama dan papanya yang terpajang ditembok ruang keluarga dimana dia sekarang sedang duduk.


"Mama, kenapa papa tidak pernah berubah bahkan setelah tidak bertemu bertahun-tahun lamanya. Bahkan Theo sudah berusaha melakukan yang terbaik tapi papa masih juga belum bisa menganggap Theo ada. Selama ini bunda Caca memberikan pengertian, Theo berusaha paham mengikuti segala alur yang harus Theo jalani. Tapi hari ini membuktikan kalau papa tidak menginginkan Theo hadir dalam hidupnya." Theo berbicara pada gambar sosok yang dikatakan adalah mama ya. Theo tersedu seperti anak kecil yang kehilangan mainannya.


Suara deringan ponsel diatas meja menyadarkannya.


"Hallo Bun..."


"..."


"Masih dirumah papa Bun, papa lagi keluar barusan"


"..."

__ADS_1


"Ga kok Bun, tadi papa habis terima telpon. Mungkin rekan kerjanya, makanya buru-buru pergi."


"..."


"Theo masih mau disini Bun. Nanti Theo ke Karang Tinggi pake taksi atau motor papa aja. Gimana-gimana ntar Theo kabarin Bunda"


Theo menutup telponnya. Caca paham betul dengan sikap papa dan anak itu. Sama-sama saling menutupi masalah yang sedang dihadapi. Theo sosok yang paling terluka sepanjang tahun usianya tidak mendapatkan penjelasan dengan sikap sang papa yang begitu tidak peduli pada dirinya.


Perjalanan yang cukup panjang membuat pria tampan yang merupakan perpaduan wajah Rizon dan Nina membuat wajahnya tampan maksimal itu tertidur karena lelah.


Rizon yang membuka pintu sedikit kaget dengan keberadaan Theo yang masih ada dirumah itu. Harapannya keluar agar anak itu kembali ke rumah yang disiapkannya di Karang Tinggi. Tapi dia malah tertidur di sofa.


"Maafkan papa yang masih belum bisa menjadi papa yang baik buat kamu nak." lirihnya pelan


Setelah puas memandangi wajah tampan sang anak, Rizon masuk ke kamar setelah menutup dan mengunci pintu.


***


Fajar yang akan segera tampak dengan suara kendaraan diluar sudar mulai ramai terdengar. Aktifitas sudah kembali dengan berbagai macam profesi. Theo yang terbangun dengan suara benda jatuh. Segera dia membuka mata, ternyata papanya yang sedang sibuk didapur. Sudah menjadi kebiasaannya bangun disaat subuh, menyiapkan segala keperluannya sendiri. Dan pagi ini Rizon sudah bangun duluan dari anak lajangnya. Menyiapkan sarapan seadanya.

__ADS_1


Theo yang habis mencuci wajahnya menghampiri sang papa yang sudah duduk di meja makan.


"Ikut sarapan?" tawarnya


Theo yang mengambil air putih sembari duduk persis dihadapan papanya.


"Papa akan ke kantor lebih pagi. Minggu depan papa akan memperkenalkan kamu sebagai penerus perusahaan. Jadi dalam Minggu ini siapkan dirimu." Ujar Rizon to the point.


Sudah berbicara penerus perusahaan, padahal rasa rinduku belum juga terobati.


Theo hanya tersenyum dingin menanggapi ucapan papanya. Padahal yang saat ini diinginkannya adalah sosok papanya sendiri. Ingin menghabiskan waktu untuk berbagi rindu yang bertahun-tahun dia rasakan. Ternyata setelah pembuktian diri pun papanya masih tetap mengabaikannya.


Tanpa menjawab Theo bangkit masuk kedalam kamar. Memakai jaket tanpa berganti pakaian dia beranjak dari rumah itu sambil membawa kopernya.


Tak lama suara mobil berhenti didepan rumah. Mungkin itu adalah taxi yang Theo pesan.


"Theo akan ke rumah Karang Tinggi. Sulit rasanya hidup dengan papa yang sama sekali tidak punya hati" Ucapnya persis dihadapan Rizon. Setelahnya pergi meninggalkan Rizon begitu saja


Lelaki yang dipanggil papa itupun hanya mampu memejamkan mata seraya mengembuskan nafas kasar. Sarapan yang sudah dia buat untuknya dan untuk Theo hanya tinggal sarapan yang siap menjadi santapan kucing liar yang suka nangkring dirumah itu.

__ADS_1


"Yaghh, papa memang tidak punya hati nak. Hati papa sudah terbawa mati oleh mamamu." lirihnya sadar sudah menyakiti hati anaknya.


__ADS_2