Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Menuju langkah baru


__ADS_3

Memilih tinggal dirumah aja, menemani ibu yang pagi itu tampak lemah. Sementara Rizon ke kandang dan ayah sudah berangkat ke kantor.


"Ibu, makan dulu ya..."ucapku sembari membawa nampan berisi bubur Manado buatanku. Bubur yang lengkap dengan sayuran beraroma daun serai yang wangi.


"Wanginya enak" balas ibu seraya bangkit mengubah posisi tidur menjadi bersandar. Aku membantunya dengan menambahkan bantal di bagian belakangnya.


"Ibu coba ya..." sambil mengarahkan sendok berisi makanan ke mulutnya.


"Enak sayang..."pujinya membuatku senang.


"Kalo enak berarti harus habis ya." Godaku sambil tersenyum kearahnya


Aku tersenyum menatap mangkok yang hanya tersisa beberapa sendok saja. Yang artinya ibu makan lumayan banyak.


"Beberapa kali membuatkan ibu makanan rasanya ga pernah mengecewakan. Makanan yang kamu buat termasuk makanan baru pertama kali ibu makan. Contoh bubur ini, ibu ga kepikiran kalo enaknya luar biasa kalo di tambah rempah dan lainnya" Wanita itu ga berhenti memujiku.


"Makanya ibu harus cepat sembuh biar maknannya ga terbatas."


"Sekarang minum obat yaghh" lanjutku seraya beranjak mengambil obat-obatan ibu diatas meja.


***


Pelan aku melangkah meninggalkan kamar ibu. Meminimalisir suara yang bisa membuatnya terbangun.


Aku benar-benar dikagetkan dengan keberadaan Rizon di depan pintu.


"Kayak hantu aja tau, bikin kaget" ujarku kaget


"Kakak kapan sampainya??? Ibu udah tidur, jangan berisik" sambil menarik tangan Rizon menjauh dari kamar itu.


Dimeja makan sudah tersedia makanan. Mbok Inah sudah menatanya dengan rapi.


"Adek udah makan?"


"Belum" jawabku seraya duduk berhadapan dengannya sembari membalik piring yang ada dihadapanku


"Kak, kita kapan pulang?" Tanyaku sedikit ragu. Seketika dia menghentikan suapannya.


"Adek udah bosan ya?"


"Bukan gitu..."


"Trus apa dong?" Lanjutnya butuh penjelasan


"Ya udah makan dulu deh" aku mengalihkan dengan menyendok nasi ke piring.


Dia masih menatapku tanpa melanjutkan makannya.


"Adek belum jawab pertanyaan kakak."


"Adek cuma mikir, kalo kita pulang gimana dengan ibu... itu aja, ga ada lainnya"


"Besok kakak antar adek pulang" balasnya sedikit mengandung amarah.


Aku yang ga suka dengan jawaban itu menurungkan niat buat makan. Seketika selera makanku hilang. Dengan merasa berdosa aku membuang makanan yang ada dipiringku, mencucinya, seraya meninggalkannya masih di meja makan.


"Orang benar-benar kok malah mikirnya aneh-aneh. Adek tuh benar kuatir ga ada maksud apa-apa.." kesalku masuk kamar.

__ADS_1


Tanpa menghalangiku Rizon hanya diam terpaku. Entah apa yang ada difikirannya saat ini.


***


Sampai aku mendengar suara mobil ayah terparkir digarasi yang menandakan sudah sore. Rizon ga juga datang menemuiku. Sesuatu yang aneh dan diluar kebiasaannya. Aku keluar kamar dan mengambil segelas air putih dan langsung meneguknya.


Dari pintu depan tampak Rizon dengan tentengan paperbag berukuran sedang di tangannya.


Tanpa sadar dan menoleh kearahku dia menuju kamar ibu. Dan ayah juga sudah ada di kamar. Tapi ada keraguan untuk masuk kekamar itu. Aku memilih kembali kekamar Caca tapi fikiranku masih kekamar ibu.


"Adek..." sentuhan hangat menggenggam tanganku membuatku membuka mata. Menutup mata tapi tidak tidur.


"Makan dulu yah, dari tadi adek belum makan. Nanti sakit lagi" Rizon sangat menjaga nada bicaranya.


"Adek ga lapar kak... nanti kalo lapar pasti ambil makan sendiri." Tolakku halus


"Adek masih marah sama kakak?"


Diamku cukup membuatnya mengerti kalo aku memang masih kesal padanya.


"Maafin kakak... ahir-ahir ini kakak ga bisa menahan diri... kakak bingung dek... adek lihat sendiri kondisi ibu semakin lemah dan kakak kepikiran permintaannya yang sangat sulit untuk kakak kabulkan."


"Terlebih dalam waktu dekat sesuatu yang ga mungkin" lanjutnya sembari menatap lantai putih itu.


"Permintaan apa yang sampai membuat kakak seperti ini???"


Lelaki jangkung itu menarik nafas sangat panjang, pertanda sulit untuk mengungkapkannya.


"Ibu ingin kakak menikah, hanya itu permintaan terahirnya" pelan tapi cukup jelas ditelingaku.


Terdiam, hanya itu yang bisa aku lakukan. Apa yang aku dengar ternyata tidak salah.


"Kenapa perjalanannya bisa serumit ini" lirihku dalam hati.


"Dankkkk..." teriak ayah cukup kencang


"Siapkan mobil, kita kerumah sakit" ayah tampak berkeringat sambil menggendong ibu yang sudah tak bergeming.


Aku mengambil tas yang di pegang mbok Inah tak lain adalah tas ibu.


Tanpa banyak bicara, mobil melaju meninggalkan rumah menuju rumah sakit terdekat. Sambil diperjalanan ayah menghubungi dokter yang biasa menangani ibu.


Tampak beberapa perawat dengan kasur dorong sudah menunggu di lobby rumah sakit. Lagsung ibu dibawa keruang IGD untuk melakukan pemeriksaan.


Ayah sepertinya sudah biasa menghadapi hal seperti ini. Tapi Rizon meski sudah sering masih tampak ketakutan diwajahnya.


"Ibu akan baik-baik aja kak..." bujukku padanya.


Matanya yang memerah ga bisa menyembunyikan kesedihannya. Genggamannya begitu erat menunjukkan ketakutannya atas keadaan ibu.


***


Malam menjelang, kondisi ibu msih belum ada kemajuan.


"Kalian sekarang mendingan pulang. Besok bisa gantian. Kasian Nina dank..."ucap ayah pelan


"Kabarin kalo ibu sudah siuman"

__ADS_1


"Iyaaa...ayah akan kabari perkembangan ibu."


Dengan berat hati kami melangkahkan


Kaki menuju parkiran. Masih dalam diam.


"Kenapa adek harus melihat keadaan ini. Ngajak adek pulang pengennya bisa menikmati libur, ngerefresh otak. Malahan jadinya kayak gini" ucapnya menyesal


"Jangan ngomong gitu kak"


"Fikirkan keadaan ibu aja. Adek ga papa kok. Jangan merasa bersalah gitu"


***


Lelah berfikir selalu berdampak sakit kepala. Sambil memijat sendiri dipelipis mataku lumayan mengurangi sakitnya. Rizon tanpa mengetuk pintu masuk kekamar yang tak terkunci. Duduk disampingku seraya meraih kepalaku. Perlahan dia memijit, merebahkan kepalaku di pangkuannya.


"Adek capek yah?"


"Lumayan kak..." jawabku jujur


"Ayo kita ahiri kelelahan ini" ucapnya membuatku ga mengerti.


"Maksud kakak???" Tanyaku menunggu kejelasan


"Menikah dengan kakak"


Seketika aku bangkit dari berbaringku. Menatapnya masih tidak yakin dengan yang aku dengar.


"Iyaaa dek. Menikah dengan kakak..."ucapnya meyakinkanku


"A...a....akuuu..."


"Kakak tau adek ga akan bisa"


Ga pernah bermimpi menikah muda, ga pernah ngebayangin menikah pada usia belum genap kepala dua.


Kuliahku, mimpi-mimpiku, keluargaku terutama.


"Masalahnya banyak kak, kita masih sama-sama kuliah. Adek masih banyak yang ingin dicapai. Bagaimana memberitahu orang tua adek. Pasti nanti adek dikira udah aneh-aneh."


"Adek percaya sama kakak???" Ucapnya mendekatiku. Merapikan rambutku yang berantakan diwajahku. Menuntunku untuk duduk di tepi ranjang.


Sejauh ini aku masih mengikutinya.


"Untuk kuliah, kita akan kuliah normal seperti biasa, ga akan merubah apapun... adek bebas berkarir meraih setiap impian yang adek mau...kakak ga akan membatasi apapun yang menjadi kegiatan ade."


"Orang tua adek, kakak akan berangkat untuk menjelaskan kepada mereka"


"Yang terahir, adek bebas memilih akan tinggal bersama kakak atau tetap memilih kos setelah pernikahan."


"Kakak janji tidak akan ada hubungan suami istri, apalagi merencanakan punya anak sampai kita benar-benar siap melakukanya."


Wajahnya terlihat lega setelah mengutarakan semuanya. Separuh bebannya hilang. Dan semua itu dia lakukan hanya untuk ibu.


"Pengorbanan yang benar-benar besar" batinku


"Kakak tunggu jawaban adek secepatnya. Kesannya kakak egois dek, tapi percayalah ini semua kakak lakukan untuk ibu. Entah sampai kapan ibu bisa bertahan, dan kakak hanya ingin membahagiakannya di sisa hidupnya"

__ADS_1


Tanpa menunggu aku bicara deringan telpon rumah memaksanya meninggalkanku.


__ADS_2