
Semakin hari aku makin terbiasa menjalani hari-hariku bersama Rizon, sosok yang memberiku kebebasan, ga over protective seperti kebanyakan kaum adam. Antar jemput bukan satu keharusan dalam hubunganku dengannya. Karena aku juga punya teman-teman dan sebaliknya dia juga. Pertemuan kami juga ga wajib setiap hari harus bertemu. Karna kami masing-masing punya kesibukan. Paling telpon atau chat untuk saling bertukar kabar. Apalagi sebelum mid semester, bisa dihitung intensitas pertemuanku dan Rizon.
Ujian tengah semester yang sebelumnya menyita banyak waktu ahirnya berahir. Bernafas lega dan tinggal menunggu hasilnya. Ada 2 minggu yang bisa dimanfaatkan untuk istirahat. Merehatkan otak dari yang namanya tugas-tugas dan laporan.
"Selama jeda semester kakak mau pulang yah, ada beberapa urusan yang harus kakak selesaikan." Ucapnya sambil menyetir mobil saat kami menuju jalan pulang.
"Berapa lama pulangnya???"
"Tergantung urusannya dek." Jawabnya tanpa menoleh dan hanya fokus menatap jalanan yang ada di depannya.
Aku hanya mengiakan tanpa banyak protes dan pertanyaan. Karena terlalu banyak bertanya bisa menimbulkan pertengkaran.
Jalanan tidak begitu macet, mobil melaju dengan kecepatan sedang. Tapi kosanku sudah terlewat.
"Kak..."
"Iyaaa...kita jalan dulu" ucapnya tanpa memberitahuku sebelumnya kalo dia punya rencana.
"Kita mau kemana???"
"Kemana aja boleh, pokoknya biar lama aja bareng sama ade... nanti kakak tinggal lama biar ga kangen" ucapnya sambil melirikku nakal.
"Ihhh..." seraya memukul lengannya manja.
***
Pemandangan yang luar biasa indahnya. Setibanya di tempat situs bersejarah kota itu. "Benteng malboro". Dari ketinggian tampak keindahan birunya laut yang terpajang didepanku. Benar-benar menenangkan hati.
Tubuh jangkung itu hanya menatapku dengan senyum. Mungkin aku terlalu senang bisa menikmati hari itu dengan tanpa beban. Sambil mendengarkan ceritanya tentang tempat bersejarah untuk kota itu.
"Maaf baru bisa ajak adek jalan yah"
"Kenapa harus minta maaf kakak, kita masing-masing tau kesibukan yang lumayan menyita waktu."
"Makasi udah mengerti... biasanya kan pasti ada keinginan kayak pasangan-pasangan lainnya. Entah itu hanya sekedar jalan, makan, tapi adek ga pernah minta apa-apa dari kakak."
"Jangan ngomong kayak gitu... lebih dari cukup dengan perhatian kakak ke adek. Ga selamanya harus jalan keluar, harus ini harus itu bisa buat adek bahagia... lagian kan bukannya kakak sengaja, emang waktu yang masih belum mengijinkan."
Hanya cerita mengungkapkan segala perasaan hati, aku dan Rizon menikmati kebersamaan yang jarang sekali...
__ADS_1
Serasa enggan meninggalkan tempat itu, tapi matahari mulai menghilang dan mulai tampak lampu-lampu kota menggantikannya.
"Besok dia akan pergi, dan sepajang 2 minggu ga akan melihatnya." Batinku sedikit sedih.
***
Hampir jam 8 malam Rizon mengantarkanku pulang ke kosan dan langsung menemui mami yang sedang duduk bersama Endah dan Fitri. Rizon meletakkan kotak berisikan martabak bangka yang sangat digemari 2 makluk manis itu.
" gini dong, kalo pulang kencan itu ingat orang di rumah" ucap mami mengundang rame celotehan Endah dan Fitri
"Iya ya mi, ga kayak Endah... kalo pulang kencan oleh-olehnya nangis" ledek Fitri mengingatkan kejadian bulan lalu. Sontak mengundang marah manja gadis hitam manis itu.
"Bu, saya mau minta ijin ajak Nina pulang ke Manna selama jeda semester ini boleh ya???"
Aku tercengang dengan kalimat itu.
Itulah Rizon, selalu penuh dengan kejutan. Padahal seharian bersamanya ga sedikitpun dia menyinggung akan mengajakku, malahan aku sudah mempersiapkan diri untuk ditinggal.
"Nina aja...kalo emang mau ikut."
"Dia hanya butuh ijin ibu aja" jelasnya sok tau.
"Lain kali yaghhh... ini urusan keluarga" jelasnya asal sambil bercanda membuat yang lain mencibir cemburu.
"Adek siap-siap yahhh...kita langsung berangkat dari sini aja..."ucapnya melihatku masih bingung, Sambil mengikutiku kekamar.
"Ga usah bawa pakaian banyak, di rumah pakaian hari-hari Caca banyak... kakak udah ijin sama dia. Ukurannya sama juga.
"Tapi kak..."
"Kenapa lagi??? Pesan ibu harus ngajak adek, sama ibu kos adek udah minta ijin. Aman kan???"
"Kok ga bilang dari tadi kalo mau ajak adek?"
"Soalnya adek akan banyak pertimbagan kalo direncanain jauh hari"
Perasaan bercampur aduk. Senang, gugup, takut semuanya jadi satu.
Setelah pamit pada mami dan kedua teman kos yang bawel, kami berangkat.
__ADS_1
***
Sepanjang perjalanan aku hanya menatap kosong keluar jendela. Sesekali terdengar nyanyian dari Rizon mengikuti lirik lagu yang sedang diputarnya.
"Adek kok diam aja? Udah ngantuk? Sesekali melirik kearahku. Tanpa menjawab aku hanya melihat kearahnya.
"Adek gugup mau ketemu orang rumah ya? Ucapnya menebak isi hati dan kegalauanku.
"Lumayan" jawabku jujur
"Santai aja sayang...nanti juga pasti bisa menyesuaikan. Kakak yakin ibu dan ayah pasti senang adek ikut"
Sekitar 3 jam kami menyusuri jalanan yang sudah mulai agak sepi.
Aku semakin dag dig dug saat Rizon berhenti di depan gerbang kayu dan membukanya. Kembali melajukan mobil hingga berhenti tepat dihalaman yang tampak luas dan asri.
Sambil membantuku membawa tas dan kantung plastik berisi cake kesukaan ibunya. Pintu rumah terbuka dan disambut senyuman hangat wanita separuh baya yang masih tampak cantik dan anggun. Mirip sekali dengan Rizon, benar-benar duplikat.
Tangan Rizon langsung meraih tangan ibunya dan salim serta memeluk melepas rindu. Benar-benar pemandangan manis.
"Ini Nina bu..." ucapnya seraya mengalihkan pandangannya ke arahku...
Tak lupa aku meraih tangan halus itu, dan diluar dugaanku dia meraihku dan mencium pipi kiri kananku...
"Lebih cantik dari yang ibu lihat di foto" serunya memuji dan membuatku sedikit salah tingkah.
"Ibu juga cantik banget, padahal udah punya anak yang udah gede..."
Bersamaan kami tertawa sembari ibu mempersilahkan kami masuk.
Ruang keluarga yang tampak luas. Rizon langsung merebahkan tubuhnya di sofa yang sangat terawat kebersihannya.
"Bu, laper..." serunya pada ibu yang langsung menuju dapur yang menyatu dengan ruang keluarga. Mengeluarkan beberapa box yang berisikan makanan dan menghangatkannya.
"Ayoo sayang, ibu antar ke kamar. Biar bisa salinan ato mau mandi?"
"Kalo perlu apa-apa jangan sungkan minta ibu yah. Ini pakaian Caca boleh kamu pakai. Udah di pesenin sama yang punya kamar, anggap kamar sendiri... ibu tunggu di luar yaghh" serunya menjelaskan beberapa bagian kamar yang aku akan butuhkan.
"Iyaaa bu, makasi udah ngerepotin jadinya.
__ADS_1
Sosok itu hanya tersenyum seraya berlalu sambil menutup pintu.