Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
First kiss


__ADS_3

Setelah tiga jam perjalanan, ngobrol dengan penguni kos. Rasa gerah tubuhku ingin segera mandi dan istirahat.


"Kakak mau mandi di sini atau mau pulang dulu" tanyaku pada Rizon yang sedang berbaring. Tampaknya dia juga lelah.


Sembari mengeluarkan baju gantinya dari dalam tas.


"Ini handuk sama pakaian gantinya."


Tanpa banyak protes pria itu langsung menyegarkan diri. Sementara menunggunya selesai mandi, aku membersihkan wajahku dengan pembersih. Perawatan wajah bagi perempuan itu wajib, karena kecantikan itu harus dijaga. Gs harus perawatan mahal, sederhana, murah meriah yang penting rajin.


Dia keluar kamar mandi sudah dengan wajah segar. Ketampanannya alami. Sekarang gantian aku yang tak sabar diguyur air yang dingin dan menyegarkan.


Dari kamar mandi aku mendengar ponselku berdering. Entah dari siapa aku juga ga tau. Yang pasti Rizon mengangkatnya.


"Halllooo bu..." sapanya, yang ternyata ibu yang telpon


"Iya bu, ini sudah sampe dikos...Nina masih mandi...sebentar baru kerumah."


"Trus kapan Nina akan pindahin barang ke rumah??" Tanya ibu


"Pelan-pelan aja bu... toh dekat juga... kalo nanti udah ga repot segera diurusin." Rizon meyakinkan ibu agar tidak banyak tanya dan berfikir aneh-aneh."


Aku yang berusaha mendengar pembicaraan mereka lupa membicarakan hal itu dengan Rizon.


Telpon sudah terputus saat aku keluar dari kamar mandi. Sambil berbaring Rizon memainkan ponselnya. Ngecek chat, sampai membuka sosmed nya.


"Maaf tadi kakak angkat telpon adek. Yang nelpon ibu, nanyain kita udah sampai apa belum. Terus ibu nanyain soal kos adek." Jelasnya untuk hal yang sudah aku dengar sebelumnya. Sembari menyisir rambutku.


"Sini istirahat sama kakak..." ucapnya sembari menepuk sebelahnya yang kosong.


"Sayang, kakak ini suami adek. Emang ada larangan? Lagian cuma sekedar istirahat aja. Kakak udah janji ga akan menyentuh adek tanpa seijin adek" jelasnya mengingatkanku pada janjinya.


Tapi tetap aja jantung berdetak kencang.


***


Aku benar-benar kaget, terbangun dengan posisi dipeluk oleh suamiku dari belakang. Dia masih tertidur pulas. Padalah ini sudah magrib. Aku terbangun suara azan magrib dari masjid dekat rumah kosku.


"Kakak..." suara ku pelan membangunkanya.


"Ini udah magrib, bagun ya..."


"Sebentar lagi dek..." ucapnya tanpa membuka mata.


Aku melepaskan tangannya yang melingkar diperutku. Rasanya benar-benar membuatku malu sendiri. Masih berbaring, aku meraih ponselku dan membuaka aplikasi memesan makanan. Memilih beberapa makanan yang pastinya untuk berdua.


Aku mencuci muka dan merapikan rambutku sebelumnya. Tanpa menunggu lama abang ojol sudah datang dengan pesananku tentunya.


Setelah membayar, aku beranjak kedapur menyiapkan makan malam.

__ADS_1


"Kak, bangun...adek dah pesanin makan malam... nanti keburu dingin lohh" ucapku pelan di telinganya. Mungkin dia merasa geli atau gimana, tiba-tiba membuka mata.


"Dek, bangunin kakak jangan kayak gitu ya... nanti yang bangun lain lohhh" ucapnya menggodaku dan aku paham maksudnya.


"Ihhhsss..."


"Hehhehe...kakak juga normal dek...apalagi udah istri sendiri..."


Kata-katanya membuatku malu dihadapan suamiku sendiri. Wajahku terasa panas dan pasti sudah merona merah.


"Ya udah kakak cuci muka du ya..." seraya bangkit menuju kamar mandi.


Kami menikmati makan malam yang sederhana. Tanpa banyak bicara.


***


Rizon masih duduk manis, rasanya enggan untuk meninggalkan kamar kos itu. Dan pada dasarnya dia enggan meninggalkan sosok yang dia sayang.


"Adek..." panggilnya seraya mengeluarkan sebuah kartu dari dompetnya.


"Ini adek bisa pakai untuk keperluan ya... pinnya kakak chat... nanti setiap awal bulan kakak akan transfer lagi."


"Tapiii kak..."


"Berhenti ngomong tapi-tapi...sekarang adek adalah tanggung jawab kakak... dan kakak wajib memperhatikan hal terkecil sekali pun... adek ga usah kuatir, doakan saja usaha kakak lancar..." tegasnya membuatku tak bisa berkata-kata.


Memang sesuatu yang aku kagum padanya. Jiwa bisnis ibunya mengalir dan sifatnya sangat persis kalo sudah urusan bisnis. Di usia yang masih sangat muda dia sudah mandiri, bahkan sudah bisa membiayai istrinya tanpa dukungan orang tuanya.


"Adek...mau kakak cium bibirnya???" Kalimatnya sedikit mengancam...


"Kakakkk..." tak kuasa aku memeluk dada bidang itu...


"Sayang... kakak udah bilang, ini takdir kita berdua... kakak iklas menjalani semua ini... adek juga harus berfikir yang sama..."


Dia selalu memberiku ketenangan, selalu membuat sejuk dihati.


"Sekarang adek istirahat, besok sudah mulai sibuk...jangan sampai sakit lagi..." ucapnya pelan sembari memegang wajahku dengan kedua tangannya. Tatapannya sangat dekat. Perlahan mendekatkan wajahnya. Kecupan mendarat benar-benar dibibirku dan aku tak menolaknya.


"Maksiii sayang... kakak pulang dulu..."ucapnya masih memandangku.


Dengan wajah yang memanas, aku mengantarkannya sampai depan.


"Bu, saya pulang dulu ya" pamitnya pada mami


Mami hanya mengiakan masih dari dalam rumah.


"Dagghhh kak, hati-hati...kakak juga langsung istirahat ya..."


"Besok adek kuliah jam brapa?"

__ADS_1


"Ada kelas jam 8, adek berangkat sama Endah aja"


Tanpa banyak pertanyaan lagi, Rizon dengan berat hati perlahan meninggalkan kosanku.


Kembali kututup gerbang dan masuk kekamarku. Bersiap untuk segera merebahkan tubuhku yang lelah.


Masih terngiang apa yang dilakukan suamiku. Meraba bibirku seakan-akan rasa itu masih melekat.


"Ini adalah ciuman pertamaku" Sembari mencoba menutup mataku membawa tidur yang bahagia.


***


Belum benar-benar tertidur, suara getaran ponselku kembali mengusikku. Dan ternyata pesan dari Rizon.


R-b : kakak ga bisa tidur..😢😢😢


Me : adek juga kak


R-b : kenapa???


Me : ingat kakak


Rizon yang sedang berbaring tersenyum dengan pesan balasan Nina. Padahal belum ada 1 jam mereka berpisah.


R-b : makanya mau tinggal sama kakak...biar ga jauh-jauh.


Me : 🙁🙁🙁


R-b : jangan manyun, ntr jelek.


Me : biarin...jelek istri sp juga...


R-b : ngambek nieee😘😘😘


Lama pesannya baru dibalas.


"Beneran ngambek niehhh?" Fikir Rizon. Dan tak lama tinkkk...


Me : tidur ya kak...love u😍😍😍😘😘😘


Kembali pria itu tersenyum sendiri. Benar-benar lagi dimabuk cinta...


R-b : love u more...💓💓💓😘😘😍😍😍


Kata-kata cinta pertama yang diungkapkan seorang Nina padanya. Meskipun hanya sebatas kata-kata di chat itu cukup membuatnya sangat bahagia. Perlahan istrinya itu akan sadar betapa dia sangat-sangat mencintainya.


Mencoba memejamkan mata tapi Rizon benar-benar hanya mengingat sang istri yang mungkin sudah kealam mimpi. Chat terahirnya belum dibaca juga...


Mencoba mengalihkan dengan bermain game diponselnya. Usahanya juga sia-sia karena tidak bisa fokus. Ahirnya dia beralih pada berkas-berkas yang terahir dia bawa dari Manna. Senyumnya mengembang disaat melihat perkembangan usahanya. Lama dia bergelut dengan lembaran-lembaran kertas itu dan kali ini benar-benar membuat mata dan fikirannya lelah.

__ADS_1


Sambil berbaring, menatap ponsel dan pesan terahirnya masih belum dibaca, yang artinya orang yang dia sayang itu sudah benar-benar terlelap dalam mimpi.


__ADS_2