Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter59


__ADS_3

Ramai, satu kata untuk apa yang aku lihat meskipun masih berada diparkiran. Sedikit ada keraguan untuk masuk kedalam gedung yang didekorasi sangat mewah dengan lampu-lampu tampak manis menghiasi.


"Ayo sayang" Rizon sudah berada disampingku sambil membuka pintu


"Kak..."ucapku sedikit ragu


"Adek malu, didalam pasti ramai sekali..."


"Ga papa sayang, kan ada kakak. Kakak janji ga akan ninggalin adek sendirian. Lagian Nissa sama Doni akan marah kalo kita ga datang. Sore tadi aja kakak sudah ditelpon mastiin kalo kita akan datang..."


Sedikit berat aku mengikuti kemauan suamiku.


Dengan perasaan kurang nyaman, Rizon membawaku dengan pelan mendorong kursi roda dibelakangku. Sepanjang kami memasuki gedumg sapaan demi sapaan terdengar memaksaku untuk menebar senyum.


Mama dan papa Nissa mendekat setelah melihat kami memasuki gedung.


"Dari tadi ditanyain sama pengantinnya, yang ditunggu ahirnya datang juga..." Kalimat mama Nissa menyapa.


"Maaf bu, tadi jalanan lumayan macet..." Rizon menimpali


"Gimana kabarnya nak?" Lanjunya bertanya padaku


"Baik bu, masih seperti ini aja" balasku menunjukkan keadaan diriku sendiri.


Senyum kedua mempelai tampak mendekati kami. Raut bahagia keduanya sangat jelas dengan senyuman yang tak lepas dari bibir mereka.


"Selamat ya bro... Langgeng terus sampai kakek nenek."


"Selamat Nissa dan kak Doni ya..." Ucapku memberikan selamat


Setelah berbasa-basi Nissa dan Doni mempersilahkan kami untuk menikmati pesta, sementara mereka harus menyapa tamu-tamu yang masih berdatangan.

__ADS_1


"Kalian nikmati pestanya ya Bul, Nin...Kita keliling dulu..."


"Siap bro..."


"Iyaaa kak..."


Balasku dan Rizon hampir bersamaan.


"Adek disini sebentar, kakak ambilkan makanan dulu ya..." Ujar Rizon sembari menunjuk meja prasmanan.


Sambil menunggu suamiku aku membuka sosmed dan mulai asik dengan postingan teman-teman di IG ku. Tempat yang sedikit mojok membuatku sedikit menghilangkan rasa risih dengan pandangan orang yang datang.


Aku yang terlalu asik dengan ponselku merasa kursi rodaku didorong. Sesaat aku menoleh tapi ga berani mengeluarkan suara karena dibelakangku sudah tertodong benda tajam. Dan kalau aku berteriak benda itu akan segera membawaku pada kematian.


Dalam shock aku terdiam dengan apa yang dilakukan gadis yang sedang mendorong kursi rodaku menuju pintu disamping gedung yang bisa digunakan akses keluar.


"Tolong berhenti, siapa kamu dan untuk apa kamu membawaku"


"Kamu diam aja, ga perlu cerewet banyak tanya kalo masih mau hidup..." Ujarnya penuh penekanan


Aku benar-banar merasakan takut yang luar biasa.


"Aku mau dibawa kemana? tolong lepaskan aku. Ini penculikan namanya, kalian akan diburon sama polisi... Suamiku akan mencariku..." Aku mulai histeris dan putus asa.


"Bisa diam ga sieee..." Bentak gadis itu sembari membekap mulutku.


"Kayaknya nie manusia dibius aja kali ya... Sakit telinga denger ribut bangettt"


Dengan satu gerakan yang tak bisa aku hindari sebuah sapu tangan singgah di wajahku dan aku tak ingat dan merasakan apa-apa.


***

__ADS_1


Digedung resepsi...


Rizon dengan sebuah piring dan minuman ditangannya bingung tak menemukan sang istri ditempat dimana dia meninggalkannya. Wajahnya semakin gusar setelah berkeliling masih juga tak menemukan Nina. Sampai ke toilet tempat yang tak mungkin untuk Nina pergi seorang diri sudah dicari tapi tetap tidak ada. Bertanya pada setiap orang yang berada di rempat itu, masih tetap tidak membuahkan hasil.


"Don, Nina ga ada... Sudah keliling nyari tapi ga ada..."


Wajah sang mempelai pria ikut gusar dengan ketidakberadaan Nina.


"Ga mungkin dia tiba-tiba menghilang dengan kondisi ga bisa jalan Don..." Rizon menjambak rambutnya sendiri mulai frustasi.


"Sabar bro, Keamanan sedang mencari..."


Keadaan sebelumnya aman-aman aja. Tidak ada wajah-wajah yang mencurigakan karena tamu-tamu yang datang kebanyakan kerabat dan teman-teman yang sudah dikenal.


"Maaf Don, merusak.moment bahagiamu" Ucap Rizon penuh penyesalan


"Ini acaraku Bul, yang terjadi ini tanggung jawabku. Tolong sabar dan percaya Nina akan baik-baik saja."


"Sayang...kamu dimana???" Teriak Rizon dalam hati.


Suasana pesta resepsi seketika berhenti, semua fokus mencari keberadaan Nina. Semua sisi gedung sudah disisir tak sedikitpun terlewatkan. CCTV sudah dicek, tapi tidak ada gerakan-gerakan mencurigakan.


Penculikan ini benar-benar sudah direncanakan dengan mateng dan tidak menyisakan sedikitpun celah untuk mendapatkan informasi.


Mobil dari kepolisian sudah tiba setelah papa Nissa menghubungi dan melaporkan kejadian.


Kembali pihak kepolisian menyisir setiap sisi gedung dan mencek ulang CCTV. Masih sama hasinya nihil. Hal itu semakin membuat Rizon marah dan mulai emosi.


"Bul, sabar... Jangan kebawa emosi seperti ini..." Bujuk Baim sahabatnya


"Seharusnya aku nurut saat istriku menolak untuk datang Im..."

__ADS_1


"Tenang dulu, Biarkan pihak polisi melakukan tugasnya Bul" Kalimat Baim semakin membuat Rizon histeris dan menangis meratapi nasib istrinya.


Semua hanya bisa menguatkan tanpa bisa melakukan banyak hal. Pesta yang tadinya bahagia berubah seketika. Kekuatiran tampak dari wajah semuanya.


__ADS_2