Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter66


__ADS_3

Suara azan yang begitu jelas terdengar membangunkan Rizon yang sangat terlelap tidurnya. Nina masih tertidur dengan manisnya dipelukannya. Pelan dia menggeser badannya agar tidak membangunkan sang istri.


Beranjak menuju kamar mandi dan membersihkan diri.


Tampak ayah sudah berada diruang keluarga sambil menonton berita.


"Ayahhh... udah pulang dari tadi?"


"Ga dari tadi banget. Ayah baru selesai mandi juga."


"Emang kemana tadi yah?"


"Tadi ke om kamu. Kok ga ngabarin kalo mau pulang?"


"Emang belum rencana pulang yah... Tapi adek minta, katanya kangen pengen kemakam ibu. Tadi udah langsung kesana. Kayaknya ada yang baru ziarah deh yah, soalnya masih ada bunga segar."


"Siang tadi ayah habis ke makam ibu kamu."


"Bisa jadi, ayah pulang terus kita datang"


Disela-sela obrolan ayah dan anak itu, Nina datang sudah terlihat segar langsung meraih tangan ayah mertuanya dan mencium punggung tangan itu.


"gimana acaranya tadi Na?" tanya ayah


"Lancar yah... Yang penting sudah kelar..." balas Nina menimpali pertanyaan ayah tentang acara wisudanya.


"Apa rencana kamu kedepannya?"


"Masih belum tau nie yah. Sebenarnya ada tawaran pekerjaan cuma Nina masih belum bicarain sama kak Rizon."


Percakapan panjang berlanjut kemeja makan karna sudah waktunya makan malam. Makan malam santai yang sudah lama mereka tidak lakukan. Karena semenjak Nina sedang skripsi mereka jarang pulang.


***


Rizon masih lanjut ngobrol bersama ayah diruang keluarga, sementar Nina memilih kekamar untuk merebahkan diri. Kegiatan plus perjalanan pulang ke Manna cukup menguras tenaganya. Ditambah lagi dengan pertempuran siang mereka.

__ADS_1


"Kok tumben udah mau tidur aja sayang?" kata Rizon tak lama masuk kekamar.


"Pengen rebahan aja kak, adek rasanya capek banget"


"Perlu kakak carikan obat?"


"Ga perlu kak, mungkin cuma kecapean aja."


Rizon ikut membaringkan tubuhnya disamping Nina. Tangannya meraih istrinya kedalam pelukannya, hingga Nina membaringkan kepalanya di dada lelakinya itu.


"Sayang..." ucap Rizon sambil mengecup lembut pucuk kepala Nina


"Hhmm..."


"I love you..." ucapnya membuat telinga Nina sedikit geli mendengarnya.


Jarang-jarang suaminya itu mengeluarkan kata cinta cintaan gitu.


Sambil menengadahkan wajahnya Nina tersenyum.


Tanpa permisi Rizon mengecup lembut bibir istri terkasih. Penuh kelembutan tanpa nafsu yang menggebu.


"Kakak ingin segera punya anak sayang... Rumah kita akan ramai, membayangkannya saja kakak sudah bahagia. Kalau dia cowok dia pasti tampan seperti papanya, kalau dia cewek pasti akan cantik seperti mamanya. Perpaduan cantik dan tampan pasti anak-anak kita akan menjadi anak yang luar biasa.


"Sayang, jangan berhayal gitu. Kalo sudah ijin Tuhan pasti akan segera dikasi."


"Tapi kan kita harus usaha sayang..." ucapnya tersenyum nakal pada Nina


"Tuhhh kan, ujung-ujungnya..."


"Boleh ya???"


"Tadi kan udah kak..." protes Nina


Tanpa menghiraukan protesan Nina, tangan Rizon sudah mulai berkelana menjelajahi tempat-tempat favoritnya. Bibirnya membungkam bibir Nina yang baru saja ingin melancarkan aksi protesnya.

__ADS_1


"Kakak!!!" Nina mendorong tubuh suaminya agar memeberikan jarak diantara mereka.


"Adek mau ambil air minum dulu ya..." Nina beranjak tanpa menghiraukan tatapan suaminya yang ingin menerkamnya. Tapi tangan kekar itu lebih sigap menahan.


"Alasan deh..."


"Beneran sayang, adek haus..."


"Ya udah, adek tunggu disini aja, kakak yang ambilin."


Rizon beranjak keluar kamar tanpa menunggu Nina menjawab. Nina hanya bisa menghela nafasnya kasar.


Tak membutuhkan waktu lama, Rizon sudah membawa satu botol air mineral dan menyerahkannya pada istrinya. Sekali teguk air di botol itu sudah tandas hampir setengahnya.


Nina meletakkannya diatas nakas disamping ranjang dan kembali berbaring disamping Rizon.


Rizon tampak memejamkan mata dengan kedua tangannya dijadikan bantal.


"Sayang, jangan ngambek dong..." ucap Nina sambil membaringkan kepalanya didada bidang suaminya, sambil mengelus wajah Rizon yang masih memejamkan matanya.


"Kita istirahat yuk..." kata Rizon


"Kenapa?


Tanpa menjawab dia terus menutup matanya. Nina melepas pelukannya, berbalik memunggungi Rizon. Diam hanya itu yang mereka lakukan. Suasana hening seketika.


Nina memejamkan mata tapi tidak tidur. Fikirannya masih menerawang. Suara nafas halus terdengar, itu menandakan kalau suaminya itu sudah tidur. Tapi Nina yakin itu belum tidur sepenuhnya. Alias dia masih ngambek.


"Sayang..." Nina berbisik tepat di telinga Rizon. Dan lelaki itu membuka matanya karena rasa merinding akibat hembusan nafas Nina yang hangat.


Nina mencium lembut bibir Rizon, pelan namun mampu membangkitkan gairah Rizon yang sempat tertahan tadi.


Pangutan demi pangutan yang berubah menjadi nafsu yang liar. Keduanya menumpahkan gairah dimalam yang dingin tapi penuh kehangatan itu.


Kedunya berusaha saling mengimbangi hingga berjam-jam mereka bertempur dan mencapai puncak kenikmatan dan ahirnya terkulai dengan senyuman dibibir keduanya.

__ADS_1


__ADS_2