Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Hari yang aneh


__ADS_3

Setelah dua hari bergelut dengan barang-barang dari kosan dan ahirnya selesai. Karena ngerjainnya juga dicicil. Kesibukan menjelang acara bakti sosial lumayan menyita waktu.


Rizon sudah berangkat pagi-pagi sekali kekantor, siangnya ada urusan ke kampus. Dan siang tadi aku ga melihatnya di kampus. Sudah hampir jam 6 dia belum juga pulang.


Me : *say**ank...kok blm pulang???


adek telp ga diangkat...🙁🙁🙁*


Tumben pesan dari tadi cuma centang satu. Dan tumben ga ada ngabarin setelah keluar dari rumah tadi pagi. Daripada berfikir yang aneh-aneh, aku memutuskan mandi. Badan rasanya lengket sedari tadi bersih-bersih.


Sebelum masuk kamar mandi langkahku terhenti dengan deringan ponsel.


"hallo Ca..." sapaku pada Caca


"Na, Dank mana??? aku ada perlu..."


"Dari tadi belum pulang Ca, ponselnya juga ga bisa ditelpon... Ada yang penting Ca???"


"Aku perlu uang Na, dan perlunya sekarang juga..."


"butuh berapa Ca?"


"15 juta..." ucap Caca dengan santai


"buat apa uang sebanyak itu, bukannya minggu lalu Rizon udah kirim buat bulanan kamu?" aku mulai curiga


"pokoknya aku perlu banget Na, plis jangan banyak tanya. ini penting banget..kalo ga ada dalam 30 menit aku akan pulang ke Manna dan kuliahku akan berahir" suaranya mulai memelas dan menunjukkan nada sedih.


"tunggu dulu ya...kamu tenang dulu, aku coba hubungi Rizon dulu..."


Panggilan berahir dan otakku mulai berfikir. Disaat-saat kayak gini Rizon entah kemana. Sementara hanya 30 menit.


"sebenarnya Caca perlu buat apa uang sebanyak itu???"


Segera aku cek isi tabunganku dengan banking dan hanya ada 6.5 juta dan itu kurang sekali.


"kalo ditambah saldo yang ada di atm yang dikasi Rizon kayaknya cukup." batinku langsung menghubungi Caca.


"Ca, sebenarnya uangnya untuk apa???"

__ADS_1


"Pokoknya aku perlu Na... akan aku kembalikan kok..." Caca masih belum mau memberitahuku.


Aku benar-benar dibuat bingung. Sementara Rizon ga bisa dihubungi.


"apa yang harus aku lakukan..."


Tapi memikirkan Caca, entah apa yang akan terjadi setelah 30 menit kedepan jika uang yang dimintanya ga ada.


Me : Kakkk, km dmn siii...


Caca butuh uang banyak, adek bingung...!


Masih dengan centang satunya semakin membuatku bingung. Berusaha tenang, berfikir dengan konsekuensi atas keputusan yang aku buat.


Sepuluh menit berlalu aku masih belum melihat tanda-tanda Ruzon bisa dihubungi. Segera aku minta nomor rekening Caca.


"Apapun nanti yang terjadi yang penting saat ini Caca aman dulu... Meski dia belum cerita masalahnya, yang pasti aku berusaha percaya padanya" lirihku pada diri sendiri


Meraih ponselku dan menstransfer sebagian dari tabunganku sendiri. Sisanya aku pakai yang ada dikartu yang diberikan Rizon padaku.


"Masih ada 3 jutaan, bisalah dicukupkan untuk bulan ini..." fikirku setelah melihat sisa saldo yang ada.


Serta mengirimkan bukti transfer padanya.


Caca : Makasiii kk ipar...😊😊🙏🙏🙏


Me : Jangan pake buat yg aneh2 ya Ca...


I trust you!!!


Caca : 👍👍😊😊😊🙏🙏🙏


Pulang dari atm dengan langkah yang penuh tanda tanya. Berharap aku ga salah mengambil keputusan. Karena bagiku uang 15 juta bukan lah sedikit. Sisa tabunganku ketika belum menikah dan sisa-sisa uang belanja bulanan yang selalu aku berusaha atur agar bersisa tiap bulannya.


Mobil Rizon sudah terparkir, tandanya dia sudah pulang. Aku masuk ke rumah dengan perasaan sedikit takut.


"Dari mana dek..." suaranya membuatku kaget.


"dari atm..." jawabku singkat

__ADS_1


"kakak darimana aja, ponselnya ga bisa dihubungi...tumben ga kayak biasanya..." curigaku masih sambil menatapnya tajam.


"kak... tadi Caca telpon...minta uang 15 juta..."


"buat apa uang segitu banyak?"


"ga tau...adek udah tanya buat apa, dia bilang nanti aku jelasin..." Aku mencerikan detail Caca meminta uang.


"Adek udah kasi dari tabungan adek dan sisanya adek ambil dari atm yang kakak kasi..." jelasku membuat raut wajahnya berubah


"kenapa ga tunggu kakak??? adek mengambil keputusan sendiri. Untuk apa uang sebanyak itu??? paling ga adek tanyakan dulu sama kakak..." nada suaranya mulai meninggi


"maaf kak, adek udah coba hubungi kamu... sudah chat kamu... ga ada balasan..."


"Emang ga bisa tunggu kakak pulang???"


"Caca bilang waktunya mepet kak..."


Rizon tetap menunjukkan kemarahannya. Aku yang serba salah berusaha menahan air mataku yang keburu tumpah. Aku ga sanggup mendengar ocehan dengan nada tingginya. Aku hanya berusaha membantu adiknya yang sedang kesusahan. Malah dibilang aku egois dan tidak menghargai suami.


Sambil menahan rasa hatiku yang kelu, aku melangkah menuju dapur. Berniat menyiapkan makan malam. Bagaimanapun kesalnya aku harus melakukan tanggung jawabku. Rizon pasti sudah lapar, seharian diluar, entah dia sudah makan apa belum.


"kakak mau dibuatkan apa buat makan malamnya?"


"adek makan aja sendiri, udah ga mood lagi buat makan." ujarnya ketus menuju kamar.


Aku benar-benar sedih diperlakukan seperti itu, berhenti dari aktifitasku. Aku mengembalikan bahan-bahan yang sudah aku ambil kedalam kulkas. Rasa laparku seketika hilang dan hanya merasakan sesak didada yang sangat berat.


Dikamar mandi tangisku pecah. Kuhidupkan kran air agar isakku tidak terdengar.


"Sesalah itukah aku sampai marahnya segitunya?"


Rizon masih tidak keluar kamar, dan aku enggan untuk menyusulnya. Membaca buku dengan berbaring disofa berusaha mngalihkan kesedihanku.


Sampai mataku benar-benar mengantuk dia tak juga keluar dari kamar. Melihatnya yang sudah tertidur telentang ditengah kasur mengurungkan niatku untuk masuk.


Aku mencek pintu seperti yang biasa dia lakukan sebelum tidur. Mebaringkan tubuhku disofa depan tv. Memandang langit-langit yang tak bergeming.


Sampai selarut inipun dia masih mengabaikku. Dia tidak bertanya apa yang aku lukukan hari ini, apakah aku sudah makan apa belum. Air mata yang tak mau berhenti kubawa tidur dengan perasaan sedih.

__ADS_1


__ADS_2