Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Begadang cantik


__ADS_3

Sore itu Rizon mengantarku pulang ke kosan. Banyak yang harus aku selesaikan malam ini. Sesampainya di kosan mami memelukku, kayak setahun ga pulang aja.


"gimana kabar kalian nak???" ujarnya


"baik mami..." balasku


Sambil membuka kamar, Rizon masih ngobrol dengan ibu kosku. Pasti yang dibicarakan adalah soal ibu. Aku membuka jendela, mulai membersihkan kamar yang sudah seminggu aku tinggalkan.


Selesai beberes aku membuka laptop untuk mengerjakan tugas-tugas yang harus segera aku selesaikan.


Rizon masuk kekamar melihatku yang sudah sibuk dengan tugas-tugas.


"Banyak banget ya tugasnya? Ada yang bisa kakak bantu?" ucapnya menawarkan bala bantuan.


"ga sayang... Trimakasi" jawabku tanpa masih tetap dengan mata memandang laptopku.


Rizon setengah berbaring sambil membaca sebuah buku ditangannya. Ga banyak perbincangan kami, asik dengan tugas masing-masing.


Lelaki disampingku terlihat sudah tertidur pulas. Masih dengan buku yang dipegangnya. Artinya dia benar-benar sangat lelah sampai membaca bukupun membuatnya tertidur. Aku manarik selimut dan menutupi tubuhnya. Beranjak keluar menemui mami.


"mami... Rizon nginap disini ga papa ya??? kasian udah tertidur" aku meminta ijin mami


"ga papa nak, dari dulu juga mami ga pernah melarang. kalian kan sudah suami istri juga."


"makasi mami..." seraya meninggalkannya dan melanjutkan pekerjaanku.


Masih berkutat dengan tugas-tugasku yang berharap bisa selesai dan besok bisa diserahkan. Pukul setengah 12 masih tersisa dua tugas lagi. Dan aku harus semangat.


Pria diatas kasur benar-benar dengan lelapnya, sampai istri yang masih begadang dia ga sadar. Untuk menghilangkan rasa berat dimataku secangkir coklat hangat rasanya menggugah seleraku.


Finishhhh...


Legaku sembari tersenyum sendiri, sembari melirik jam di laptopku.

__ADS_1


"adekkk... jam brapa ini?" Suara Rizon terdengar sambil mata masih terpejam.


"udah jam 4 kak"


"apaa...?" kagetnya seraya duduk


"adek masih buat tugas dari tadi? belum istirahat sama sekali???"


"udah selesai kok..."


"maaf, niatnya mau nemenin adek malah kakak tidur pulas" suaranya terdengar menyesal.


"ga papa kak... kakak kan juga capek..."


"ibu kos adek tau kakak masih disini?"


"tadi adek udah kasi tau..."


"Dek... mau sampai kapan adek akan tetap tinggal dikosan ini? apa belum ada keinginan untuk tinggal dirumah bersama kakak?" tanya Rizon penuh hati-hati.


"ga perlu dijawab kalo memang hati adek belum siap...kakak paham" ujarnya cepat tanpa menungguku menjawab pertanyaannya.


Entah kenapa masih ada beban untuk tinggal bersama. Meskipun sudah tidak ada batasan antara aku dan Rizon tapi masih ada ketakutan. Karena saat ini hanya ingin fokus menyelesaikan kuliah dengan cepat. Dengan tinggal terpisah mungkin pilihan terbaik untuk saat ini. Rumah tangga baru yang masih seumur jagung, apalagi kita masih sama-sama kuliah. Emosi dan tingkat salah paham peluangnya akan lebih besar jika kita tinggal bersama.


***


Pagi di gedung "i" aku mendapatkan pandangan yang tak biasa. Baik dari kakak kelas maupun teman-teman sekelasku. Wajah-wajah menginginkan penjelasan. Aku rasa masalah pernikahanku dan Rizon sudah menjadi topik hangat saat itu.


Aku berusaha bersikap biasa. Karena memang tidak ada yang dirahasiakan tapi tidak juga mempublikasikannya.


"Na, turut berduka ya" suara Hery menyapaku


"makasii Ri..."

__ADS_1


"boleh nanya Na???"


"apaan?"


"apa benar soal pernikahan kamu?"


Dan aku hanya mengangguk mengiakan


"benar Ri, dan yang meninggal itu adalah ibu mertuaku" jelasku singkat


Tanpa banyak tanya Hery paham dengan jawabanku yang singkat menunjukkan kalo aku ga nyaman dengan berbagai pertanyaannya.


Sehabis mata kuliah pertama, aku beranjak dari kelas untuk menemui beberapa dosen yang memberikan tugas mandiri sewaktu berada di Manna. Gedung jurusan menjadi tujuanku. Melangkahkan kaki dengan berat ke tempat itu.


Dengan mempercepat langkahku untuk menemui pak Hadi yang sedang berjalan menuju lab untuk menyerahkan tugasku.


Masih dengan tatapan yang sama dari mereka yang melihatku berlari kecil mengejar pak Hadi.


"adekkkk..." teriak Rizon dari depan pintu basecamp yang kubalas hanya dengan melambaikan tanganku sambil memberi isyarat mau menemui pak Hadi. Dan hanya dibalas dengan acungan jempolnya.


Setelah urusan dengan pak Hadi selesai aku menghampiri suamiku yang sedang bersama teman-temannya. Sebelum aku sampai tampak sosok Ayu buru-buru melangkah meninggalkan basecamp itu. Aku berusaha berfikir positif mungkin dia ada kegiatan lain.


"bukannya kakak ada kuliah?"


"seharusnya ada, tapi dosennya ga ada hari ini." jawabnya sembari membukaan minuman dingin ditangannya dan memberikannya padaku.


"kalian emang benar-benar ya..." suara kak Baim langsung menodong.


"ga ada dirahasiakan kak... cuma kita ga gembar gembor juga... masalahnya waktunya juga mepet, cuma ada keluarga dekat aja" aku berusaha menjelaskan


"berarti harus ada acara niehhh..." teriak Doni dari pojok.


Rizon hanya senyam senyum menaggapi segala todongan para sahabatnya itu. Mencari titik aman dia memilih ga begitu menaggapi.

__ADS_1


__ADS_2