Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Selamat jalan ibu


__ADS_3

Acara demi acara terlewati pada penghormatan terahir buat ibu. Samar wajah yang tertutupi kain putih yang sedikit transparan itu seperti hidup kembali. Melemparkan senyumnya pada detik-detik terahir peti itu akan ditutup untuk menuju tempat peristirahatan terahir ibu.


Menutup mataku, menarik nafas panjang, berharap tangisku akan tertahan. Namun sia-sia, air mata itu malah terasa hangat membasahi wajahku. Aku dan Rizon berusaha menenagkan Caca yang belum rela melepas ibu. Berusaha menahan tutup peti.


"Jangannnn bawa ibukuuu... ibuuuu...jangan tinggalin Caca... ibuuuuu...." jeritnya semakin menjadi.


Aku memapahnya yang jatuh tersungkur.


"Cacaaa...jangan seperti ini..." bentakku menyadarkannya


"Iklasss Caaaa..." sembari memeluknya. Rizon yang berusah tegar memeluk adiknya itu juga...


"Dankkkk...ibuuuu..."


"Dengerin dank... ibu sedih melihat kamu seperti ini Ca... lihat ayahhh, seharusnya kita mendukungnya..."


Keharuan itu mengundang tangis dari yang lainnya.


***


Dalam masa duka yang sedang dilihatnya, Ayu masih dengan berbagai pertanyaan tentang Nina.


Gadis yang diam-diam menyimpan rasa pada Rizon itu memang tau kedekatan Nina dan Rizon, tapi dalam hatinya masih menyimpan harapan. Sebelum kehadiran Nina, dia sangat dekat dengan Rizon bahkan teman-teman mereka sudah mendukukung dan sering menggodanya. Berharap mereka bisa berjodoh. Teman dekat Ayu bahkan tau perasaan Ayu pada Rizon dan selalu berusaha memberikan perhatian lebih. Berharap ada setitik harapan hati Rizon bisa menyadarinya.


Kehadiran Nina merupakan ancaman bagi perasaannya. Bahkan sakit hati ketika Rizon pernah mengatakan kalo dia benar-benar suka pada adik kelasnya itu. Tapi berusaha menahan diri dan lebih memilih memendam perasaannya. Berharap jodoh akan mempersatukan mereka.


Harapan Ayu sirna disaat mendengar kata-kata terimakasih dari ayah Rizon tentang status Nina. Dan bukan hanya Ayu yang terkejut bahkan teman-teman dekat Rizon saling berpandangan satu sama lain.


"...semua atas kehendak Tuhan atas berpulangnya istri saya tercinta, ibu dari anak dan menantu saya. Untuk semua ucapan, doa, dan segala bantuan yang diberikan saya dan keluarga besar sangat-sangat berterimakasih. Semoga diterima disisiNYA, saya mohon maaf sebesar-besarnya jika ada kesalahan yang istri saya perbuat, mohon untuk dimaafkan. Sekarang dia sudah sembuh, sudah bahagia. Semoga kedepannya saya mampu menjadi ayah dan ibu bagi Rizon, Raisya, serta mantu saya Nina..."


"Rizon benar-benar ya...mereka bisa merahasiakan hal sebesar ini... padahal setiap hari bertemu mereka, kita ga ada yang sadar." ucap Baim masih ga yakin dengan status sahabatnya yang sudah beristri itu.


Ayu benar-benar harus bisa menerima kenyataan dan mengubur rasanya dalam-dalam. Jodoh sudah tak berpihak padanya. Dari SMA dia memendam rasa itu. Sampai dia mengikuti kuliah dipeternakan karena tau Rizon mengambil jurusan itu. Berharap Rizon akan ada rasa padanya karena dekat dengannya.


Sahabatnya Novi mengerti akan rasa kecewa Ayu. Tapi waktunya belum tepat membahas itu semua. Mereka datang untuk turut berduka dan Ayu benar-benar berduka dengan hatinya saat itu.

__ADS_1


***


Acara penghormatan terahir sangat mengharukan bagi semua yang ada di pemakaman saat itu. Lagi-lagi Caca tak mampu mengontrol diri. Ayah hanya mampu memeluk anak gadisnya itu yang beberapa kali pingsan. Disampingnya Rizon yang berusaha tampak tabah tak lepas menggenggam tanganku. Ada getaran beban kesedihan yang tak mampu dia tanggung. Wajahnya tegar tapi air matanya tak bisa membohongi kesedihannya.


Peti yang sudah turun keliang lahat perlahan tertutup tanah. Segala doa buat ibu.


"Cinta ibu akan selalu menjadi kenangan yang ga akan bisa kami lupakan. Damai di sisiNYA bu..." bisikku lirih di pusaranya...


Melangkahkan kaki dengan berat dari tempat itu. Sedih meninggalkan kubur yang penuh dengan bunga itu, dimana aku membayangkan ibu akan sendiri di sana. Tapi kami harus melanjutkan hidup.


Satu persatu meninggalkan pemakaman. Dengan perasaan yang berat, aku mengikuti langkah Rizon yang merangkulku. Caca masih dengan isaknya.


Mobil membawa kami pulang kerumah dan membawa segala kenangan ibu. Senyuman cantik yang kini tinggal bayangan yang selalu akan aku rindukan.


***


Sesampainya dirumah Rizon meluangkan waktunya untuk para sahabatnya yang sudah jauh-jauh datang memberikan dukungan padanya.


"Maaf baru ada waktu buat kalian" ucapnya duduk bersama teman-temannya.


"maaf ga semua bisa ikut..." ucap Baim mewakili


Sembari mereka ngobrol aku membawakan teh buat mereka.


"Ternyata kaliia..." belum sempat Alifa melanjutkan kalimatnya Ayu langsung menyikutnya. Artinya pembahasan tentang Nina jangan dibahas sekarang.


"Ohhh soal Nina..." ucap Rizon melanjutkan kalimat Alifa.


"Kami sudah menikah hampir 6 bulanan... bukan maksud merahasiakannya...sebenarnya kalian aja yang ga sadar... buktinya cicin nikah ga pernah tak buka...tapi semua serba tak terduga dan prosesnya sangat cepat. Pernikahan ini permintaan terahir dari ibu." Jelas Rizon sambil tertunduk mengingat permintaan terahir ibunya


"Jangan diceritain sekarang bul..." cegah Doni yang melihat perubahan raut wajahnya.


"Iya bro...hidup harus berlanjut...meski belum sepenuhnya iklas, kami harus bengkit" ucap Rizon seraya merangkulku yang tadi hanya diam di sampingnya.


Aku merasa ada perubahan dengan sikap kak Ayu. Tidak seramah sebelumnya. Banyak diam dan terkesan tidak ramah.

__ADS_1


"Kak, adek tinggal kedalam dulu ya..." ucapku yang juga pamit pada yang lain.


Aku menuju dalam rumah yang banyak sodara dengan berbagai aktifitas. Aku menyiapkan makanan untuk teman-teman Rizon agar makan dulu sebelum melanjutkan perjalanan pulang ke Bengkulu. Dibantu tante Wulan yang paham aku benar-benar lelah.


"Nina, istirahat dulu sayang... dari kemarin kamu ga dapat istirahat sama sekali loh."


"Ga papa tante...Nina masih kuat kok... nie mau bawain makan Caca dulu. Dari kemarin dia belum makan"


Aku mengetuk kamar Caca yang kebetulan ga dikunci. Gadis itu duduk termenung memandangi foto ibu sambil menangis.


"Ca, kamu makan dulu ya..."


"Nanti aja Na... aku belum lapar."


"Jangan kayak gitu. Dari kemarin kamu ga makan sama sekali."


"Aku belum lapar Na... ngerti ga... jangan paksa-paksa ngapa siiihhh... nggak usah sok perhatian sama saya... ibu udah g ada bukan berarti kamu bebas mengatur kehidupan saya" bentak Caca sontak membuatku kaget...


Rasanya sedih sangat sedih. Aku ga bisa menyembunyikan rasa kecewaku. Aku menuju kamar dan mengeluarkan dengan tangis yang ga bisa aku tahan.


Aku bukan sok perhatian, tapi aku benar-benar peduli padanya. Dia adalah adik iparku meski kami seumuran. Tapi kata-katanya menyakitkan untuk didengar.


"Adekkk... kenapa nangis??? Bukannya tadi bilang mau nyiapin makan, kok malah ada disini???


Ayoo kita makan sama-sama, adek juga belum makan apa-apa dari kemarin...teman-teman kakak dah nungguin...kita makan sama-sama ya."


"Kakak ajak teman-temannya duluan makan ya. Perut adek rasa kram lagi... barusan tadi adek udah makan roti" ucapku berbohong pada Rizon.


"Bener ga papa ni?"


"Iya kak..."


Rizon meninggalkanku dikamar tanpa banyak bertanya... sebenarnya perutku juga lapar, tapi benar-benar ga nyangka akan sikap Caca yang membuat niat makanku hilang seketika.


"Entah apa yang terjadi padanya"

__ADS_1


__ADS_2