Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter68


__ADS_3

Seperti pembicaraan mereka sebelum tidur malam kemarin, hari ini Rizon akan mengantar Nina ke dokter dengan keluhan sakit yang sempat datang ga hanya sekali. Durasi sakit yang sering dalam seminggu terahir dan dia baru mengetahuinya sangat membuatnya kuatir.


"Dank, sebenarnya sekarang udah ga sakit kok perutnya. Adek udah baikan. Dank kan banyaj urusan dikantor. Mending langsung antar adek terus dank ke kantor. Gimana?" bujuk Nina saat diperjalanan


"Ga, dank udah kosongin jadwal untuk hari ini. Jadi ga usah tawar menawar ya sayang. Kita ga lagi dipasar..." Jawab Rizon membungkam Nina yang terpaksa menurut.


Mobil sudah terparkir dengan sempurna. Keduanya berjalan memasuki rumah sakit. Sepanjang jalan Rizon tak melepaskan genggamannya. Dokter Hasan, menjadi tujuan mereka setelah Rizon membuat janji dengan sang sahabat, kakak, plus sepupu yang tertaut 7 tahun lebih tua darinya.


Tanpa banyak basa basi dokter Hasan langsung melakukan pemeriksaan. Karena sebelumnya Rizon sudah banyak menceritakan keluhan sang istri. Untuk itu hanya sekedar memastikan keluhan Nina, dia pun langsung melakukan peneriksaan.


"Selain sakit dibagian perut bawah apa yang Nina rasakan?" Dokter Hasan melanjutkan bicara setelah selesai memeriksa.


"Ahir-ahir ini saya suka tiba-tiba ngantuk dok. Pusing juga..."


"Dari hasil pemeriksaan kemungkinan Nina hamil..."


"Seriusss???" Rizon tampak antusias


"Tapi belum begitu yakin Rizon, soalnya ada sesuatu yang masih butuh pemeriksaan lebih lanjut. Mungkin lebih jelas bisa kedokter Obgyn."


Wajah Rizon sedikit kecewa dengan penjelasan yang belum memuaskan dari dokter Hasan. Kini sedang melakukan panggilan telpon dengan seseorang.


"Saya antar ke dokter Dian. Dia akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Barusan saya sudah telpon beliau ada waktu sekarang."


Tanpa membuang waktu Rizon dan Nina mengikuti langkah dokter Hasan menuju ruangan pemeriksaan dokter Dian.


Sambutan ramah dokter cantik memberikan aura yang menyejukkan hati. Dokter Hasan bicara panjang lebar. Tampak wajah cantik itu menunjukkan ekspresi yang berubah-ubah diiringi anggukan yang menyataka dia mengerti.


"Mari silahkan ibu Nina. Kita cek dulu ya..."


Sedikit ada rasa kuatir dalam benak Nina yang berjalan mengikuti dokter Dian. Wajah Rizon tak kalah kuatirnya. Berbagai rasa yang saat ini belum bisa diungkapkannya.

__ADS_1


Nina berbaring dan seorang perawat membantu dokter dian. Mengoleskan gel diatas perut rata Nina. Sebuah alat mulai menari-nari bergerak pelan menyusuri sekitar perut.


Tangan dokter Dian terus bergerak, tapi matanya fokus pada monitor yang ada di samping brankar tempat dimana Nina berbaring.


"Gimana dok?" Rizon tampak tak sabar


Dokter Dian hanya tersenyum simpul. Meletakkan peralatannya dan duduk dikursi kebanggaannya. Mempersilahkan Rizon dan Nina untuk duduk di kursi yang ada didepannya.


Dokter Hasan masih menunggu sambil mengamati perubahan raut wajah dokter Dian.


"Rizon ini sepupu dokter Hasan ya?" Tanyanya diluar apa yang ingin didengarnya.


"Iya dok..."


"Begini, ini ada dua kabar yang saling bertolak belakang. Ada berita baik, dan ada buruknya."


"Maksudnya dok?" Nina mulai penasaran


"Istri bapak hamil dan ini saya yakin hal yang kalian nantikan. Tapi disamping itu ada sesuatu yang yang tidak kita harapkan tumbuh berdampingan dengan si jabang bayi."


"Ini adalah jabang bayi yang sudah berumur 3 minggu, sementara ini adalah miom yang bisa kita lihat pertumbuhannya lebih besar dari pada janinnya." Dokter Dian menjelaskan dengan menunjukkan hasil USG.


"Kehamilan ini sangat beresiko bagi bayi terlebih bagi ibunya, karena kondisi rahim ibu Nina tergolong lemah"


Nina benar-benar terpukul dengan penjelasan dokter Dian. Seharusnya kehamilan ini adalah kebahagian baginya dan bagi suaminya.


"Sebaiknya apa yang harus dilakukan dok?" Rizon berusaha tenang.


Tangannya dapat merasakan kegetiran hati Nina dari genggaman tangan yang sedari tadi tidak terlepas.


"Jika saya boleh saran untuk tidak melanjutkan kehamilan ini dulu. Karena kondisi rahim istri bapak yang lemah. Kita selesaikan dulu miom nya setelah itu bisa direncanakan untuk kehamilan berikutnya. Jika tetap dipertahankan ini akan beresiko tinggi dan dampak yang menyakitkan bagi ibunya."

__ADS_1


"Tidak dok, kamu fikir kamu Tuhan bisa menerka seperti itu. Ini anak saya, dan saya yang punya hak..." Nina mulai histeris tidak bisa terima.


" Bukan maksud saya seperti itu ibu. Ini demi kebaikan ibu juga..."


"Kamu bukan Tuhan yang bisa menentukan..."


"Sayang tenang dulu..." Rizon menenangkan Nina.


Tangisnya pecah terdengar pilu.


"Dia anakku dank, anak yang kita tunggu-tunggu..."


"Iya sayang, dank tau. Tenangkan diri adek dulu." Rizon membawa Nina keluar dari rruangan itu setelah memberi kode pada dokter Hasan.


"Biarkan dia tenang dulu dok..." ucap dokter Hasan pada rekan sesama dokternya itu.


"Saya paham Hasan, ini pilihan yang berat. Tapi kondisi Nina tidak memungkinkan melanjutkan kehamilannya. Itu bisa fatal loh..."


"Tolong kamu kasi pengertian pada Rizon sepupu kamu..."


"Saya akan coba bicara pada mereka."


"Okee makasi atas waktunya ya, saya temui mereka dulu. Mudah-mudahan Nina bisa dikasi pengertian." Dokter Hasan meninggalkan ruangan dengan beban dihatinya menemui Rizon yang masih menenangkan Nina yang masih sesenggukan.


"Tenangkan Nina dulu Zon. Lebih baik ajak pulang dulu. Aura rumah sakit ini mungkin tidak baik baginya. Kalau dia sudah tenang nanti kita bicarakan lagi. Tapi harapanku jangan mengambil keputusan yang bisa berdampak buruk bagi istrimu. Ini ada resep obat dari dokter Dian tadi."


"Makasih... maaf sudah merepotkan"


"Santai bro, jangan terlalu formal kayak gitu. Gimanapun kamu adalah sepupuku..." Dokter Hasan memberikan dukungan semangat pada sepupunya itu.


Setelah menebus resep yang diberikan Rizon langsung menuju parkiran dimana Nina sudah menunggunya disana.

__ADS_1


__ADS_2