
Setelah selesai makan, keduanya memilih duduk santai diteras belakang rumah. Nina dengan bacaannya, sedangkan Rizon menikmati sore dengan berbaring sembari diam-diam googling masalah kehamilan disamping Nina. Sedikit banyak mulai memahami perubahan sikap Nina yang sangat sensitif dan perubahan-perubahan lainnya.
"Adek ga kepengen apa-apa gitu?" ucapnya tiba-tiba sembari menonggakkan kepala melihat Nina yang duduk sembari bersandar.
"Maksudnya???"
"Yaghh apa aja. Misal pengen makan sesuatu, atau pengen jalan, atau... Apa aja yang adek pengen"
"Kok pertanyaannya tiba-tiba aneh gitu?" Nina balik bertanya
Rizon hanya nyengir menanggapi pertanyaan istrinya.
"Dank baca, biasanya ibu hamil itu banyak maunya. Misalnya rujak lah, pokoknya yang aneh-aneh. Tapi adek kok ga?"
"Owww, maksud dank kayak orang ngidam gitu???"
"Yaghh, apalah itu istilahnya"
"Setiap orang itu kan ga sama dank. Mudah-mudahan anak kita ga rewel banyak maunya ya..."
"Iya sayang. Apapun itu yang terbaik akan dank lakukan untuk adek."
Masih menikmati sore, sambil Rizon bermanja-manja dengan sang istri.
***
Hari semakin senja. Malam sudah menunjukkan kegelapannya.
Setelah menyegarkan diri, Nina mendekati Rizon yang masih berkutat dengan laptopnya.
"Dank mandi dulu gih..."
"Sebentar sayang, ini ada sedikit yang harus dank selesaikan." ujarnya tanpa menoleh pada Nina
"Ya udah, adek buat jus dulu ya..."
Nina beranjak menuju dapur. Mengambil beberapa buah dikulkas dan mulai mengupasnya.
"Adughhh..." Nina merasa sakit diperutnya kembali datang.
__ADS_1
Prrannggg...
Suara benda jatuh membuat Rizon kaget dan segera beranjak meninggalkan pekerjaannya.
"Sayang...!!!"
Teriaknya dengan wajah mulai panik melihat sang istri tergeletak sambil memegangi perutnya. Tampak diwajahnya menahan rasa sakit yang teramat sangat.
"Kita ke rumah sakit..."
Tanpa menghiraukan penolakan Nina, Rizon langsung memopong tubuh yang lemah itu masuk ke dalam mobil. Membawanya dengan sangat kuatir.
"Tahan sayang, sebentar kita sudah sampai..."
"Sakit dank..." keluh Nina membuat Rizon semakin panik.
Sambil menyetir, Rizon berusaha menghubungi dokter Dian yang sudah menangani kandungan Nina.
"Halooo..." suara dokter Dian sudah terdengar diseberang
"Dokter, perut Nina sakit lagi. Saya sedang on the way menuju rumah sakit.
Pembicaraan terputus, Rizon dengan maksimal berusaha secepat mungkin.
Di lobby rumah sakit beberapa perawat sudah menunggu dengan brankar.
Mereka membantu mengangkat Nina yang kondisinya sudah sangat lemah.
" Kami akan membawa ibu Nina pak, bapak bisa mengurus administrasinya. Dokter Dian sudah menyiapkan segala sesuatunya." ucap salah satu perawat yang diutus oleh dokter Dian.
Dengan berusaha yakin Rizon mengiakan ucapan perawat itu untuk mengurus administrasi.
***
Selang infus sudah terpasang. Nina sedang terbaring lemah di kamar perawatan yang tampak serba putih. Dengan bantuan oksigen yang terpasang dihidungnya.
"Dank..." panggilnya lemah pada sosok yang duduk disampingnya.
"Iya sayang...Adek sudah bangun."
__ADS_1
"Adek dimana???"
" Kita dirumah sakit sayang. Tadi adek kesakitan sampai terjatuh di rumah."
"Jatuh???"
"Sudah jangan banyak berfikir, sekarang adek istirahat dulu. Anak kita baik-baik aja. Dia kuat kok. Sekarang mama nya harus kuat yahh! Demi anak kita"
Rizon berusaha memberikan semangat pada istrinya, berusaha menunjukkan raut positif, padahal didalam hatinya sangatlah berat melihat keadaan Nina.
flashback on
"Ini terlalu beresiko pak, untuk melanjutkan kehamilan istri bapak. Bisa berakibat fatal untuk ibunya" Kalimat dokter Dian berusaha memberikan penjelasan.
"Saya sudah berusaha dok, tapi Nina terlalu berkeras hati untuk tetap mempertahankannya. Bahkan sebelum ini dia pernah pergi dari rumah karena saya membicarakan masalah ini."
"Saya minta tolong sekali dok. Apapun saya akan lakukan agar tidak melukai istri saya." Rizon memohon dengan wajah yang sangat sulit untuk digambarkan
Setelah beberapa waktu dokter Dian terdiam, dengan helaan nafas yang berat.
"Baiklah, kalo begitu ibu Nina harus Bed rest. Saya tidak mau menjadi dokter yang dianggap lalai pak. Untuk sementara ibu Nina harus Bed rest dirumah sakit ini, agar saya benar-benar bisa mengawasi dengan total. Kasus seperti ini sangat berat buat saya sebagai dokter, karena ini menyangkut 2 nyawa" jelas sang dokter
pop
"Lakukan yang menurut dokter terbaik buat istri dan anak saya"
"Baiklah pak, kita sama-sama berusaha dan berdoa buat yang terbaik"
flashback off
Masih dengan menggenggam erat tangan Nina, berusaha mengalirkan kekuatan, Rizon dengan setia menenangkan istrinya yang sedang berjuang untuk anaknya.
***
Hari-hari berlalu dengan segala perjuangan. Setiap hari harus melihat Nina menahan rasa sakit. Itu sangat menyakitkan buat Rizon.
Rumah yang sudah berpindah ke rumah sakit. Segala urusan kantor, urusan pekerjaan semua dilakukannya dari rumah sakit. Sebisa mungkin Rizon tidak akan meninggalkan Nina, apapun dia akan lakukan sebisa mungkin tanpa meninggalkan sang istri.
Yaghh... Semua hanya demi istri dan anaknya.
__ADS_1