
Bahagia melihat wanita yang menerimaku apa adanya ahirnya bisa pulang. Hawa rumah sakit sedikit membuatku trauma. Enggan rasanya berlama-lama di tempat itu.
Ayah sudah duluan sampai ke rumah dengan sepeda motornya. Saat kami memasuki halaman tampak Caca dengan wajah tidak sabar bertemu dengan sosok yang sangat dia kuatirkan itu. Membantuku menuntun ibu keluar dari mobil menuju kamarnya yang sudah di bersihkan mbok Inah.
"Sudah enakan bu??" Caca dengan kuatirnya..
"Udah nak.. ibu sudah baikan...ibu bahagia kalian semua ada di sini.
"Ayah, dank mana??" Tanyanya pada sosok lelaki yang sangat dia cintai itu
"Ada di luar bu..." jawab ayah lembut
Tak hilang-hilang senyuman itu. Sepertinya dia sangat bahagia.
Tubuhku benar-benar lelah. Kasur adalah tempat yang aku inginkan saat ini. Setelah pamit kekamar Caca aku meninggalkan ayah, ibu , dan Caca yang masih berbagi cerita.
"Kak, adek mau istirahat dulu ya..." pintaku pada Rizon yang berpapasan saat dia mau ke kamar ibu. Pria itu mengiakan karena hal yang sama juga dia rasakan. Lelah badan lelah hati.
***
Setelah membersihkan diri aku mencoba memejamkan mata. Tapi rasa kantuk serasa hilang dikalahkan oleh fikiranku yang sedang bimbang. Sambil membuka ponsel yang sedang aku pegang, teringin menelpon ibuku.
"Hallo ibu..." sapaku tak lama tersambung
"Ibu sehat???" Tanyaku
" sehat sayang, kamu gimana kabarnya nak? Kuliahnya lancar??"
"Baik ibu... ini lagi jeda semester"
Banyak yang ibu tanyakan dan obrolan seperti biasa akan panjang jika sudah tersambung. Sesekali aku menanyakan kabar bapak, yang terbilang jarang ngobrol di telpon denganku.
"Bu..." panggilku ragu
"Kenapa nak??"
"Pernah ga ngebayangin kalo Nina akan menikah muda???"
Ibu di sebrang sana terdengar tak bergeming
"Kenapa kamu ngomong kayak gitu?? Ada masalah nak??? Atau ada yang kamu sembunyikan dari ibu???" Selidiknya penuh curiga.
"Aku ingin menikah bu..."ucapku hati-hati
"Maaf ibu, tapi bukan karena Nina melakukan hal yang seharusnya belum boleh dilakukan, Nina masih menjaga diri bu...ceritanya rumit" jelasku berusaha menenangkan ibu yang mulai berfikir aneh-aneh.
Aku menceritakan sedikit inti dari permasalahan yang sedang aku alami. Perlahan nada bicara ibu kembali normal.
"Apa yang harus ibu perbuat nak??"
"Ibu maafin Nina... bukan maksud hati mengecewakan kalian... Semua ini diluar kendali Nina sendiri...Nina juga bingung dan takut bu..." ujarku tak bisa menahan air mataku.
"Dalam waktu dekat Nina akan pulang. Nina akan jelaskan semuanya. Tapi Nina ga akan pulang sendiri bu... tolong kasi pengertian pada bapak...biar nanti dia ga terkejut bu..."
__ADS_1
Perlahan ibuku mulai luluh. Tapi aku yakin fikirannya masih penuh dengan tanda tanya. Meskipun beberapa poin pentingnya sudah aku ceritankan.
"Kok adek nangis???" Seru Rizon tiba-tiba sudah dibelakangku. Sambil mengusap air mataku yang tersisa aku berbalik menatapnya.
"Ga papa kak..." jawabku singkat seraya berbaring.
"Adek menyembunyikan sesuatu dari kakak?" Selidiknya penuh tanya.
Aku terus memejamkan mata, tapi air mata ga bisa di kasi pengertian. Membayangkan ibu yang sedang berfikir tentangku di sini.
Rizon tampak bingung melihat keadaanku saat itu yang hanya ingin diam dan diam, menikmati setiap problem dihatiku.
"Adek pengen sendiri" pintaku yang ahirnya dia mau mengerti
"Cerita sama kakak kalo adek sudah tenang ya" ucapnya mengecup keningku dan berlalu dari kamar itu.
***
Suara azan magrib dari masjid yang tidak jauh dari rumah membangunkanku. Entah kapan aku tertidur, akupun sudah tidak sadar lagi. Langsung kekamar mandi mencuci muka. Rambut yang lumayan acak-acakan kusisir dan mengikatnya tinggi keatas.
Rizon sedang menonton tv di ruang keluarga. Tampak Caca sedang menikmati makanan di meja.
"Udah bangun Na,,,sini lanjut makan yuk" ucap Caca
"Nanti aja Ca, masih ngumpulin nyawa, tolakku halus
Aku menghampiri Rizon yang dari tadi menatapku dan duduk sedikit menjauh darinya.
Aku hanya tersenyum menanggapi godaan itu.
Selesai makan Caca ikutan duduk bersama kami di depan tv. Sepertinya akan ada pembicaraan yang cukup serius.
"Makasi Na udah bantu ngerawat ibu selama kamu disini. Niat liburan malah kayak gini jadinya" ucap Caca menyesal.
"Ga papa Ca, selagi aku bisa" jawabku singkat
Rizon hanya diam. Karena dia tau saat ini aku benar-benar rapuh. Pembicaraannya dengan Caca sebelum aku datang belum mendapatkan titik terang.
Rizon menarikku keluar, sembari menyambar kunci mobil yang ada diatas meja.
"Kita cari angin segar dulu Ca" ucapnya benar-benar membawaku entah kemana akupun hanya pasrah.
"Hati-hati" teriak Caca yang paham benar apa yang sedang dialami oleh keduanya.
***
Taman kecil yang disebut taman kota, masih tampak ramai dengan berbagai aktifitas. Ada yang hanya sekedar duduk sendiri, berjalan santai mengitari taman, ada yang berkumpul sambil bercanda ceria. Aku dan Rizon memilih duduk di tepi taman dengan hamparan rumput hijau didepan mata.
"Adek..."panggilnya membuka pembicaraan, dan aku hanya menoleh sesaat memastikan kalo aku mendengar panggilannya.
"Kita akan lewati semua ini sama-sama ya..."ujarnya berusaha memberiku kekuatan
"Apa adek mampu kak??" Seruku seakan tidak yakin akan menjalin hubungan dengan ikatan pernikahan secepat ini.
__ADS_1
"Adek percaya sama kakak? Jika kita saling mendukung, kakak yakin kita akan kuat... Meski kita baru dipertemukan, tapi kakak ga ragu sama adek. Adek bisa mengerti kakak sepenuhnya. Ga pernah menaruh curiga. Cara adek memnyelesaikan masalah sudah cukup membuat kakak yakin kalo adek cukup dewasa menjalani hubungan ini dan kakak percaya adek adalah jodoh dari Tuhan" serunya meyakinkanku.
Cukup lama berada di taman itu, berkeluh kesah, mencari solusi terbaik untuk hubungan kami. Masa-masa yang benar sulit untuk dilewati.
***
Di ruang keluarga masih tampak ayah sedang menonton berita. Yang artinya ibu sudah tertidur. Caca masih terlihat sibuk dengan laptopnya menyadari kepulagan kami.
"Ibu udah tidur???" Tanya Rizon
"Belum dank, ada tante Wulan dan wak putri.
Rizon mengajakku menemui orang yang Caca sebutkan namanya.
Ibu yang melihat kedatangan kami tersenyum seraya memanggilku untuk mendekatinya.
"Kenalin ini Nina" ucap ibu sembari aku mengulurkan tangan dan salam pada keduanya.
"Pintar juga milihnya dank..." suara tante Wulan melirik dan menggoda Rizon.
"Tantee bisa aja. Yang penting hatinya tante..." balasnya ga mau kalah.
"Ngambil jurusan apa Nina" tanya tante Wulan
"Jurusan yang sama tante. Peternakan juga..."
"Oooo... pantesan...ternyata cinta lokasi tahhh" tante Wulan benar-benar menyerang habis-habisan.
"Smoga cepat berjodoh ya... biar ibu ada temannya" wak putri menimpali.
" ya udah, mampir ke rumah tante ya Nina. Sebelum pulang harus mampir lohhh, tante tunggu." Ancamnya pada Rizon yang hanya tertawa menaggapinya.
Kedua wanita itu ahirnya pamit meninggalkan kamar ibu dan menolak untuk kami antar sampai depan.
Tak lama ayah dan Caca ikut nimbrung masuk kekamar ibu.
"Ibu istirahat ya sekarang...obatnya udah diminum??"tanyaku pada ibu.
"Udah nak..."
"Caa.. tolong ambilkan kotak merah yang ada di lemari ibu yang paling atas" serunya pada Caca yang masih berdiri.
"Dank... sini" serunya meminta Rizon duduk didekatnya. Tanpa banyak bertanya Rizon menuruti perintah ibunya.
"Hari ini benar-benar mujizat buat ibu, bisa pulang ke rumah, berkumpul bersama ayah, anak-anak ibu."
"Nina,,, ibu tau sebenarnya kamu berat mengatakan akan mengabulkan permintaan ibu. Itu keputusan yang tidak gampang nak. Tapi kamu berani mengambil sikap membuat ibu bahagia. Mengingat usia kalian juga masih sangat jauh ke tahap itu. Tapi ibu bangga sama kamu nak, kamu tidak egois hanya peduli pada diri sendiri."
"Jangan bicara seperti itu ibu... saya tulus mengatakannya... Kak Rizon dan Nina sudah memikirkan ini...kalo memang ini sudah jalan jodoh untuk kami, kami iklas menjalaninya." Ucapku sedikit parau
Sembari menahan air disudut mataku agar tidak jatuh.
Berat memang cukup berat bahkan sangat berat. Dan akupun tak mampu membendung air mataku lagi.p
__ADS_1