Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Ga mau kecewa


__ADS_3

R-b : semangatttt hari senin yaghhh...


See u 😍😍😍


Chat disenin pagi membuatku tersenyum sendiri. Gimana ga, bertemu pria konyol yang belum aku tau asal usulnya tiba-tiba super protect kebangetan kayak udah mengenal berabad-abad.


Cukup hanya aku dan Rizon yang tau keadaan ini, masalah yang yang sudah muncul dan selesai biarlah menjadi rahasia antara aku dan dia. Itu janjinya sebelum aku siap untuk bilang "YA" atas hubungan ini. Soalnya bakalan rame. Gimana ga, masih terlalu dini.


***


Kelas udah rame saat aku dan Endah sampai di lantai 2 gedung "i". Masih menunggu jam perkuliahan, di sebrang sana, tepatnya di depan kelasnya Rizon sudah berdiri dengan senyum kasmarannya dimatanya. Aku yang berusaha menutupi bahagiaku membalas hanya dengan senyuman tipis.


R-b : kakak kesana ya???


Chat yang ternyata darinya membuatku langsung menggelengkan kepala tanpa membalas chatnya.


R-b : emang knp??? Kan ga ada yang tau juga" chat nya ngotot


Me : kk kan udah janji...🤐🤐🤐


Sambil menatab handphonenya, Rizon hanya tersenyum.


Rasanya gimana gitu kayak maling-malingan aja. Ada di depan mata tapi ga bisa leluasa.


"Ga apa deh, demi kebaikan juga" batinku seraya mengarahkan pandangan dan memberi isyarat pamit untuk masuk dalam kelas.


R-b : nanti kk tunggu di kantin yaghhh😍😍😍


Tanpa membalas chat darinya aku langsung memasukkan handphone kedalam tas, karna ibu cantik separuh baya dengan kaca mata sudah masuk kedalam kelas.


***


Perkuliahan berlangsung, tak terasa hampir 2 jam. Ibu dosen yang baik, lemah lembut dan tentunya ramah membuat perkuliahan pertamaku ga terasa sudah berahir.


"Semoga bisa bekerja sama selama satu semester kedepan yah" ucap sang ibu dosen menutup perkuliahan.

__ADS_1


Satu persatu penghuni kelas keluar ruangan.


"Kita ga usah pulang ya Na, naggung juga balik lagi untuk jam berikutnya. Kita nongki di kantin aja sambil nunggu, sekalian makan siang dulu" Endah


"Boleh aja" seruku mengiakan ajakannya.


***


"Ada kakak kakak tuhh, sana aja yukkk" Endah langsung menarik tanganku kearah kak Rizon dan kawan-kawan yang sedang menikmati makan siangnya.


Paling tidak Endah tau permasalahan hati kak Rizon makanya dia sengaja mengajakku untuk bergabung. Tapi dia ga tau kalo permasalahan itu sudah selesai dan dia ga tau kalo kemarin kami ketemuan tanpa direncanakan.


Aku duduk persis didepan kak Rizon yang mana hanya posisi itu yang tersisa.


"Mau makan apa, kak Rizon menyodorkan menu padaku.


Sambil melihat-lihat aku putuskan buat memesan siomay ditambah dengan air mineral botolan.


"Emang kenyang ga makan nasi dek?" Ucapnya sambil menatabku


"Masih ada kuliah nanti, jam brapa? Tanyanya ingin tau.


"Ada jam 1" jawabku sembari mengambil pesanan yang dibawakan mbak penjaga kantin


"Makasi mbak" ujarku sembari mbak itu meninggalkan tempat kami.


Aku mulai makan, sebenarnya belum begitu lapar karena emang biasa makan paling sekitar jam 2 or 3an gitu. Apalagi makan sambil diliatin.


Endah yang melihat kekakuan antara kami pun berdehem beberapa kali yang artinya menggoda. Karena dia tau persis gimana Rizon terhadapku.


"Duluan ya Bul." _Ibul_ adalah panggilan Rizon oleh teman-teman dekatnya. kak Baim beranjak meninggalkan meja di ikuti oleh kak Anton.


"Mau maen ke kandang dulu" jelasnya


"Kak, aku ikut dong" seru Endah ikut-ikutan

__ADS_1


"Kok pada kabur??" Ucapku berusaha menghalangi


"Ga papa Na, ada urusan sedikit" jelas kak Baim seraya mengajak Endah juga.


Aku yakin mereka sengaja meninggalkan aku dan Rizon yang tampak santai sepeninggalan mereka bertiga.


"Ini kakak yang rencanain ya?" Omelku setelah mereka pergi dan hanya dibalas dengan mengangkat kedua belah bahunya.


"Mereka ada urusan adek, masa kakak halangi"


Aku hanya manyun dengan penjelasan ga mutu gitu.


"Jadi gimana dek???"tanya nya tiba-tiba serius dan ini pasti menyangkut soal obrolan kemarin.


"Kak, jalanin aja dulu. Kita masih terlalu dini."


"Maksud adek tanpa status gitu"


"Bukan gitu kak, kita jalanin aja dulu....." bujukku hati-hati


Aku berusaha menjelaskan padanya. Banyak hal yang menjadi pertimbangan. Jujur aja, bukan karena tidak suka atau dia tidak baik, tapi ada ketakutan karena aku belum mengenalnya. Hanya itu.


"Kasi adek waktu yah kak" pintaku memberanikan diri menatap matanya yang tersirat kekecewaan.


"Apa bedanya dengan keadaan saat ini dek?" Matanya berusaha meyakinkanku.


"kapan kakak bisa dengar kata _IYA_"


Aku hanya bisa menghela nafas panjang.


"Segera adek jawab" ucapku tanpa memberikan waktu yang pasti.


Dengan wajah kecewa Rizon mengerti seraya tersenyum kearahku. Meski senyum itu terasa hambar.


"kakak ga siap kecewa ya dek..." serunya sembari kami berjalan menuju kelas selanjutnya.

__ADS_1


__ADS_2