Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Chapter63


__ADS_3

Setelah kejadian yang tidak mengenakkan yang menimpa istrinya ahirnya suasana damai dan tenang dirumah bisa dinikmati. Nina yang baru saja sampai lansung beristirahat dikamar. Rizon dengan lembut merebahkan tubuh mungil itu.


"Makasi kak..."


"Adek istirahat dulu. Kakak akan kekantor polisi dulu, ada beberapa keterangan yang diminta pihak kepolisian."


"Tapi kak...???" Nina tampak takut


"Kakak sebentar aja sayang. Ada mbok Inah yang nemenin kok..."


Mendengat nama mbok Inah, Nina ahirnya menunjukkan wajah lega.


Sepeninggalan Rizon, Nina memilih mengistirahatkan tubuhnya. Berusaha memejamkan matanya yang terasa berat efek mengkonsumsi obat penenang yang diresepkan dokter.


***


"Jangannnn....jangannn...toloong lepasiiinnn...Ttiiidakkk aauuuwww...."


Teriak Nina dengan mata masih terpejam. Mbok Inah yang mendengar teriakan dari dalam kamar segera berlari...


"Nonnn... buka matanya..." mbok Inah berusaha membangunkan Nina, tapi tak berhasil.


Segera dia mengambil air yang yang ada diatas nakas samping tempat tidur. Memercikannya beberapa kali dan ahirnya Nina langsung terbangun.


"mbokkk...."

__ADS_1


Panggilnya seraya memeluk wanita separuh baya yang duduk ditepi ranjang dengan keringat dan airmata yang membasahi wajahnya.


"Mbok Inah ada disini non. Itu cuma mimpi..."


"Saya takut mbok... Jangan tinggalin saya sendiri..." Nina memelas


Wanita itu tersenyum sembari membelai lembut rambut Nina dan berahir mengusap lembut punggungnya dengan lembut.


Setelah Nina tampak lebih tenang, dia kembali berbaring. Seperti permintaannya mbok Inah tidak keluar dari kamar.


Tak lama Rizon telah kembali dari kantor polisi setelah urusannya selesai. Tampak Nina yang masih dengan mata terpejam. Mbok Inah bangkit menyadari tuannya sudah kembali.


"Adek tidurnya tenang mbok?" Tanya Rizon


"Tadi sempat histeris dank. Makanya mbok ga berani tinggal. Masih ketakutan gitu..."


"Jangan seperti itu dank... Non Nina pasti akan segera sembuh"


"Sakit kecelakaaan itu saja belum sembuh mbok, Sekarang sudah ditambah dengan sakit psikisnya..."


"Yang sabar ya... Semua akan membaik seperti dulu lagi."


"Makasi mbok..."


" Mbok tinggal kebelakang dulu ya... kalo ada perlu panggil mbok Inah aja..."

__ADS_1


"Iya mbok..."


Mbok Inah meninggalkan Rizon yang melangkah mendekati ranjang dimana istrinya sedang tertidur. Tubuhnya yang juga merasa lelah ikut berbaring disamping Nina. Dengan memriringkan tubuhnya meraih tubuh istrinya kedalam pelukannya. Berusaha memberikan kenyamanan pada sosok yang dicintainya.


"Terlalu berat semua ini untuk adek alami. Terlalu beruntun kejadian yang membuatmu merasakan sakit yang luar biasa. Lukamu luar dalam sayang. Kakak yang bersalah dalam hal ini. Adek sangat menderita, wajah ceriamu hilang dengan beban yang menyakitimu. Maafkan suamimu ini sayang. Maafin kakak yang tidak becus menjagamu." Batin Rizon sambil mengecup pucuk kepala Nina.


Air matanya yang menetes jatuh di wajah Nina, membuatnya terbangun.


"Kakak??? Udah pulang...?"


"Iya dek... baru aja sampai. Kenapa bangun?"


"Kakak kenapa menangis???" Selidik Nina sambil menengadahkan wajahnya kearah Rizon yang buru-buru mengusap air mata yang tersisa.


"Ga, kakak cuma kelilipan aja..." ujarnya berbohong


Nina yang menatapnya tersenyum dengan kebohongan suaminya.


"Kalo mau bohong pintaran dikit napa kak..." Nina masih dengan senyumnya.


"Maaf sayang, kakak cuma merasa sangat bersalah dengan semua yang terjadi yang menimpa adek. Maafin kakak yang tidak bisa menjaga adek dengan baik."


"Jangan bicara seperti itu sayang. Semua ini hanya musibah. Kalo memang harus terjadi ga akan bisa kita hindari. Jangan pernah merasa bersalah seperti itu..."


Nina mempererat pelukannya. Dada pria itu menjadi bantalan kepalanya, dan menemukan kedamaian disana.

__ADS_1


Rizon tak hentinya mengecup pucuk kepala istrinya, memberikan kenyamanan hingga keduanya terlelap masih dengan pelukan hangat yang mendamaikan.


__ADS_2