Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Ada apa dengan ibu???


__ADS_3

Di ruang keluarga


***


"Selera kamu tinggi juga" seru ibu menggoda anaknya. Rizon pun mendekati ibunya yang sedang menghangatkan makanan. Sesekali mencomot kerupuk yang selalu standbye ada di toples diatas meja.


"Pandangan pertama Ibu suka, cantiknya alami. Bukan karena makeup. Bahkan wajahnya polos sekali."


"Tapi dia belum bilang iya bu... masih menjalani seperti saat ini aja"


"Bagus dong... itu tandanya dia dewasa. Cinta itu ga harus diucapkan sayang. Tapi perlakuannya ke kamu kan menunjukkan kalo dia nyaman sama kamu. Ga mungkin dia mau kamu ajak kemari kalo dia ga punya perasaan yang sama. Intinya pesan ibu, jaga perasaan perempuan sama halnya kamu menjaga perasaan ibu." Ceramah ibu panjang lebar.


"Iyaaa bu... jujur pertama ketemu Rizon udah suka. Padahal belum kenal. Senengnya minta ampun pas tau kalo dia satu jurusan. Anaknya pintar bu, rajin, ga neko-neko. Satu lagi pintar masak." Jelasnya antusias meyakinkan ibunya.


"Jangan permainkan hati perempuan ya nak. Ingat kamu punya ibu yang seorang perempuan, kamu punya adik juga seorang perempuan."


Ibunya bisa melihat betapa anaknya itu sedang dimabuk cinta. Semua hal baik tentang Nina diceritakannya dengan teliti. Kebahagian seorang ibu ga lain adalah untuk kebahagian keluarganya, anak-anaknya.


***


Pemandangan yang indah, melihat ibu dan anak sangat dekat tanpa batasan. Asik ngobrol mereka ga sadar kalo aku sudah ada diantara mereka.

__ADS_1


Sepintas mendengar pembahasannya yang ga lain adalah aku.


"Sini sayang..." panggil ibu yang menyadari kedatanganku. Kali ini dengan pakaian santai dan rambut kuikat tinggi ke atas.


"Makan tengah malam ceritanya bu... kasian ibu loh kak udah malam gini"


"Ga papa nak, tadi mbok Inah masak banyak dan udah sisain karena tau kalian akan pulang. Tinggal ngangetin aja.


Tanpa bertanya banyak tentang mbok Inah bisa kusimpulkan mungkin orang yang membantu ibu.


Ibu ahirnya ikutan makan bersama kami sambil bercerita panjang lebar tentang Rizon dan keluarganya.


Malam semakin larut mendekati subuh. Tanpa terasa sudah pukul 2 dan jujur aku merasa lelah dan mataku benar-benar mengantuk.


"Ibu tidur dulu yah... besok kita lanjutin lagi" ucapnya meninggalkan aku dan Rizon yang masih berbaring di sofa.


"Iya bu.."jawabku dan Rizon hampir bersamaan.


Untuk beberapa saat aku dan Rizon masih berada di ruangan itu, meski mataku rasanya berat.


Dia menatapku penuh arti dan tersirat kebahagiaan dimatanya.

__ADS_1


"Makasiii ya, udah hadir dalam hari-hariku"


"Apaan sih kak, kok tiba-tiba melow" ujarku


"Ibuku bahagia bertemu kamu. Dan semoga itu bisa memberikan umur yang panjang baginya"


"Jangan ngomong gitu ahhh...kelahiran kematian jodoh itu semua udah diatur sama Tuhan kak. Jalanin aja apa yang saat ini, lebih banyak bersyukur. Karena ga semua orang bisa menikmati apa yang kakak miliki saat ini."


Ada tersirat kesedihan setelah bercerita tentang ibu. Tapi entah apa itu aku masih enggan untuk bertanya lebih dalam. Intinya saat ini, dia ingin melihat ibunya bahagia.


Tak pernah kulihat dia sesendu itu. Hari-harinya selalu menunjukkan tanpa beban dan hidup apa adanya. Tapi hari ini kulihat ada mendung dimata itu. Bahkan tadi di depan ibunya dia sangat terlihat sangat bahagia.


"Cerita kalo memang kakak merasa ada beban." ucapku mengundang senyumnya.


"adek selalu paham meski kakak belum cerita" tangan nakal itu mulai gemas dan mengelus lembut pipiku untuk yang pertama kalinya.


"ayo kakak antar ke kamar, adek harus istirahat."


"selamat istirahat sayang" ucapnya meraih tubuhku dan mengecup lembut keningku. sontak saja aku kaget dan berusaha menyembunyikan wajah merahku.


"kakak..." spontan aku mendorong tubuhnya hingga keluar pintu.

__ADS_1


Aku mengunci pintu dan segera berlabuh ke kasur empuk dengan sprai warna putih berbunga kecil. Masih terbayang dan kantukku serasa hilang.


__ADS_2