
6 jam berlalu...
Rasanya untuk hari ini ga mungkin bisa mendapatkan informasi keluarga gadis ini. batin Arman
Setelah melewati operasi yang panjang, Nina terbaring lemah di ruang ICU. Wajah pucat dan perban yang membalut kepalanya dengan beberapa alat bantu yang menempel ditubuhnya. Arman memandangnya lekat sebari duduk disampingnya.
Kemana aku harus mencari keluargamu gadis cantik...batin Arman
Bahkan namanya saja Arman tidak tahu.
Seorang perawat dengan dengan papan clipboard ditangannya memasuki ruangan. Sudah pasti dia akan meeriksa keadaan gadis tak berdaya itu.
"Maaf pak, saya periksa dulu ya..." ucapnya sopan.
Arman hanya megangguk mengiakan.
Deggg...
Caca menatap pasien dengan wajah tak percaya...
"Nina..." Gumamnya sambil memeriksa keadaan Nina yang terbaring tak berdaya. Setelah selesai memeriksa, Caca buru-buru menghampiri Arman.
"Maaf pak, boleh saya tanya sesuatu. Bagaima gadis yang didalam sana bisa bersama anda?"
"Emmm... Sebenrnya saya bukan kerabatnya, bahkan saya tidak kenal. Dia korban kecelakaan dan saya hanya berusaha memberikan pertolongan"
"Terimaksih banyak sebelumnya, dia kakak ipar saya"
Arman sedikit lega mendengar penjelasan Caca.
Caca segera mengambil ponselnya dan menghubungi Rizon.
"Dank... lagi dimana ini?" ujar Caca to the point
"Lagi dijalan Ca, Nina belum pulang dari tadi. sedikit ada salah paham dan sekarang dank bingung mau cari dimana. Ponselnya mati ga bisa dihubungi."
"Sekarang juga ke RSUD dank, Nina kecelakaan. Sekarang dia masih di ICU belum sadar"
Tanpa membalas ucapan Caca, Rizon lagsung putar balik menuju rumah sakit dengan fikiran kalut bercampur rasa bersalah yang sangat dalam.
Dengan langkah seribu Rizon menuju ruang ICU yang disebutkan Caca, dan mendapati Caca di depan ruangan bersama Arman yang sedang duduk disampingnya.
"Gimana keadaan Nina, Ca?"
"Masih belum sadar dank..."
__ADS_1
"Dia siapa?"
"Maaf, saya Arman. Saya kebetulan lewat sehabis mengajar. Saya yang membawa gadis itu kesini. Maaf sudah lancang mengambil keputusan atas tindakan yang sudah diambil..."
"ohhh...tidak masalah. Saya sangat berterimaksi atas kebaikannya pak..."
"Berarti bapak salah satu dosen di UNIB?"
"Benar... saya mengajar di Fakultas Ekonomi..."
"ooo...pantesan ga pernah lihat pak. saya mahasiswa Fakultas pertanian, baru diwisuda, gadis itu istri saya..." jawab Rizon perlahan.
"Sekali lagi terimakasi banyak pak atas bantuannya. Saya mau lihat istri saya dulu" pamit Rizon yang dibalas senyum yang masih dalam tanda tanya.
"ternyata dia sudah menikah" batin Arman sedikit kecewa.
***
Kaki Rizon terasa berat. Beban berton-ton serasa menimpanya. Sosok terkasih terbaring lemah tak berdaya karenanya.
"Maafin kakak sayang, semua karena kakak..." Rizon penuh penyesalan menyalahkan dirinya sendiri sembari menggenggam tangan Nina. Wajah sendu yang tak sadarkan diri menambah luka penyesalan yang mendalam.
Caca yang tugas malam sangat prihatin dengan kondisi Rizon menghampirinya.
"Kenapa harus seperti ini dank? aku merasa kalian ahir-ahir ini semakin jauh. Ingat janjimu pada ibu. Bukankah sebelumnya dank sangat mencintainya?"
"Mungkin kalo Caca jadi Nina mungkin akan melakukan hal yang sama dank. Malah dia terbilang cukup sabar menghadapi kamu. Kalo sudah seperti ini mau gimana lagi coba?"
Rizon hanya bisa meremas rambutnya sendiri menahan kekesalan pada dirinya sendiri.
Hubungan mereka ahir-ahir ini sedikit merenggang. Lebih sering bertengkar. Dan pernah satu waktu sampai Rizon menyuruh Nina untuk meninggalkannya.
Flashback on
"Darimana sayang, udah larut sekali baru pulang? tanya Nina yang masih menunggu kepulangan Rizon
"Habis dari bantuin Baim. Ada revisi yang dia ga ngerti."
"Bener dari Baim? tadi adek abis chatt an sama kak Baim katanya lagi di kandang."
"Adek ga percaya sama kakak?"
Nina diam tak menjawab karena memang merasa ada yang aneh dan berlalu kedapur untuk memanaskan makanan sementara Rizon masuk kekamar. Seberapa kesalnya dia, perut suami tidak boleh ditelantarkan.
Makanan sudah dihangatkan menyiapkannya dimeja. Karena dia sendiripun masih belum makan berharap Rizon akan pulang cepat.
__ADS_1
"Sayang, makannya sudah adek hangatkan. Kita makan yuk..."
"Kakak ga lapar..." jawabnya masih berkutat dengan latopnya
Nina yang tak mampu menahan sedih hatinya hanya bisa berbalik, melangkahkan kaki dan hanya duduk menatapi makanan yang tethidang diatas meja.
Kenapa jadi seperti ini? kesalahan apa yang sudah aku perbuat? apa hatinya bukan milikku lagi? apa aku sudah tak berharga lagi baginya? apakah cintanya secepat itu hilang? Aku seperti tidak mengenalnya saat ini. Suamiku seperti orang asing bagiku. Apakah sikap manisnya dulu hanya terpaksa?
Bodoh sekali kau Nina.
"Kenapa ga makan dek?" Rizon memecah lamunan
Tanpa menjawab Nina membereskan makanan yang ada diatas meja.
"Adek kok kayak gini ya? sedikit-sedikit marah, ngambek, tiba-tiba nangis, kakak capek tau..." nada bicara Rizon mulai meninggi
"Jangan membalikkan fakta. Bilang aja sudah bosan denganku" balas Nina ga kalah tinggi
"Yahhh kakak bosan dengan kekanak-kanakan kamu. Tolong mengerti keadaan"
"Keadaan seperti apa yang kamu maksud. Kurang mengerti apa lagi?"
"Jangan terlalu cemburu dek..."
"haahhh..."
Tangis Nina yang semakin menjadi membuat Rizon semakin emosi.
"Perempuan taunya hanya menangis..." ucap Rizon ketus
"Kamu memang sudah berubah..." lirih Nina
"Selalu kakak yang dikambing hitamkan, selalu bilang kakak yang berubah..."
"Emang kenyataannya seperti itu"
Bak berbalas pantung, pertengkaran mereka tak kunjung berahir. Nina yang terbawa perasaan, Rizon yang tak bisa menahan emosi.
"Kalo adek sudah bosan, kalo adek sudah tak sanggup silahkan memilih jalan yang kamu inginkan"
Kalimat terahir yang sangat menghujam hati Nina yang berusaha menahan isaknya. Seperti kalah dari perang.
Flashback off
Semenjak pertengkaran itu keadaan sangat berubah. Rumah yang dulu sangat hangat, tempat yang sangat dirindukan kini seperti kuburan yang sepi.
__ADS_1
Rizon yang sibuk dengan skripsinya, Nina selalu berusaha mengalihkan fikiran dengan kegiatan-kegiatan dikampus. Setidaknya beberapa jam dia terlepas dari beban fikiran dari masalahnya.