Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Menjemput restu


__ADS_3

Malam menjelang. Banyak keluarga dekat yang berdatangan membantu mempersiapkan segala sesuatunya. Tatapan mereka beraneka ragam. Ada yang ramah, ada yang kaku, ada yang kepo dan banyak lagi.


"Nina..." suara tante Wulan didepan pintu.


"Boleh tante masuk?" Ucapnya sambil membawa beberapa paper bag entah isinya apa.


"Silahkan tante..."


"Kamu suka yang mana??? Ucapnya mengeluarkan isi bawaannya tadi.


"Apa ini tan??" Yang hanya melihat tumpukan kain.


"Ini buat acara nanti. Masa kamu mau pake kaos sama celana pendek gitu" candanya.


Aku pun memilah dari beberapa jenis kain yang akupun tak tahu namanya. Aku hanya meminta tante Wulan yang seorang designer yang cukup dikenal di kota Manna memilihkan yang terbaik.


Segera tante mengambil alat ukurnya. Mengukur setiap bagian sisi tubuhku untuk membuatkan sebuah pakaian untuk acara bahagiaku.


"Ini rancangan kilat tante yang pertama...hanya ada kurang dari 5 hari harus sudah selesai... semoga nanti Nina suka hasilnya ya..."


"Maaf sudah merepotkan tante..."


"Sayang...jangan ngomong gitu. Ini ga seberapa dibandingkan dengan pengorbanan kamu... keluarga besar disini sangat beruntung kedatangan menantu seperti Nina."


Wanita cantik itu memelukku dengan penuh kasih sayang. Wajahnya yang terawat tampak begitu glowing dengan riasan yang sederhana.


***


Masih sangat gelap, sekitar jam 3 subuh mobil om Adi memasuki halaman rumah. Aku dan Rizon sudah bersiap untuk menjemput restu dari orang tuaku. Om Adi sebagai orang tua Rizon akan ikut bersama kami pulang ke Medan.


"Ibu, ayah, doakan kami ya... semoga semuanya di lancarkan" Rizon pamit.


"Hati-hati sayang" tak lupa wanita itu memelukku.


Mobil perlahan meninggalkan halaman rumah yang asri itu. Memasuki jalanan yang masih sepi. Mobil yang dikemudikan supir Om Adi melaju dengan kecepatan lumayan tinggi. Om Adi tampak melanjutkan tidurnya. Sementara Rizon tampak berfikir hanya memandang perjalanan panjang hari ini.


***


Perjalanan yang cukup melelahkan. Sesampainya dirumah sudah disambut dengan rentetan acara yang sudah menanti. Sebelum pulang semua sudah dibicarakan lewat telpon. Karena waktu juga ga memungkinkan untuk kami berlama-lama di rumah yang banyak memberikanku kenangan itu.


Pelukan ibu dengan wajah berkaca-kaca menyambutku. Bergantian dengan bapak dengan pelukan yang sama.


Tampak Rizon mengabari ibu dan ayah yang dari tadi menunggu kabar dari kami.


Pernikahan beda budaya itualah yang saat ini terjadi. Rizon dan om Adi sebagai wali yang menggantikan orang tua mengikuti setiap arahan didampingi oleh petua adat lingkunganku. Dengan kata lain acara ini mewakili lamaran yang seharusnya lebih rumit.


Satu demi satu Nasehat menuju kepada kami berdua. Semua nasehat yang terbaik.

__ADS_1


Acara demi acara terselesaikan. Dari acara adat yang serius, nasehat-nasehat, sampai acara obrolan bebas.


Malam ini menghabiskan waktu bersama keluarga sebelum besok pagi kami harus kembali kota yang sangat jauh.


Ibu dan ayah serta Rizon sebenarnya sudah menyiapkan tiket untuk ibu dan bapak dan beberapa keluarga untuk diajak, tapi kondisinya tidak memungkinkan untuk bapak perjalan jauh.


"Semua akan selesai disana meskipun tanpa kami" ucap ibu diluar harapanku dan itu membuatku mewek.


"Yang terpenting doa kami selalu yang terbaik buat kalian..."


"Nak Rizon, ibu percaya Nina akan bahagia dengan keluarga barunya di sana... dan titip anak ibu... jika ada masalah dalam rumah tangga jangan sesekali cepat mengatakan kata pisah... jangan pernah berlaku kasar atau maen tangan sama anak ibu...." nasehat ibu panjang lebar.


Dengan seksama Rizon menyimak kata demi kata yang terlontar dari bibir ibu. Tak sekali pria yang aku sayang itu menyeka air disudut matanya.


***


Rasanya malam sangat cepat berlalu... belum habis aku melepas kangen dengan orang-orang yang aku sayang, kami harus kembali karena banyak yang harus kami selesaikan.


"Ibuuuu..."pelukku yang rasanya tidak ingin kulepas. Dengan air mata yang cukup deras yang tidak mau terhenti. Tanpa mengiraukan tatapan banyak orang.


Rizon membiarkan hal itu berlangsung untuk beberapa saat. Dia paham keadaan calon pasangan hidupnya itu sangat-sangat sedih.


Bergantian dengan bapak. Sosok yang sangat tegar dan wajahnya yang sangar tetapi bisa menangis tersedu juga. Kali pertama aku melihat wajah yang dibentuk dari kerasnya jaman itu menitikkan air mata.


"Kalian baik-baik ya... jaga kesehatan" ucapku terbata masih dengan tangisan.


"Kita harus berangkat sekarang dek..."


Serasa air mataku tak bisa berhenti. Perasaan sangat berat. Mengingat wajah mereka, senyum mereka, aku benar-benar tak berdaya.


"Sayang... udah jangan menangis lagi. Masih banyak waktu untuk kita bisa berkumpul lagi. Mungkin saat ini ga bisa lama. Percaya sama kakak, kalo ada waktu kita akan berkunjung kerumah ibu sama bapak." Rizon berusaha menenangkanku.


***


Sepanjang perjalanan aku hanya bisa diam. Lelaki disampingku mengerti dengan perasaanku memberiku ketenangan, memberikan bahunya untukku bersandar.


Tidak butuh waktu lebih dari 2 jam ahirnya pesawat yang kami tumpangi sudah akan landing di bandara Fatmawati Soekarno.


Setelah pesawat benar-benar berhenti kami memilih untuk tidak lansung beranjak dari tempat duduk. Menghindari berdesak-desakan.


Supir om Adi yang sudah berada di bandara itu segera berdiri dari tempat duduknya setelah melihat kedatangan kami. Sebelumnya Rizon ijin ke bakery yang ada ada di sekitar bandara untuk membeli sesuatu yang bisa dimakan. Menyadari aku yang larut dengan kesedihanku dari rumah di Medan aku belum makan apapun.


Perlahan mobil melaju meninggalkan badara dan memasuki jalan kota yang lumayan ramai.


"Adek makan dulu ya..."ucapnya sambil membuka sebungkus roti keju kesukaanku.


Aku berusaha melawan rasa malas makanku. Menyadari kalo aku ga boleh sakit. Dan Rizon tersenyum saat aku tidak menolak.

__ADS_1


Minuman beraroma tiramisu memberikan rasa segar ditenggorokanku. Menikmati perjalanan yang masih lumayan panjang.


***


Suasana di rumah lumayan ramai saat mobil terparkir di depan gerbang. Dua hari kami tinggal persiapan sudah 80%.


Tidak melihat sosok ayah dan Caca Rizon langsung menemui ibu yang ada taman samping rumah.


Wanita itu memeluk Rizon dengan bahagianya. Bergantian denganku yang mengikuti dibelakangnya.


Tapi dia masih menoleh berharap masih ada yang ikut bersama kami.


"Ibu dan bapak gimana?" Ujarnya menanyakan orang tuaku.


"Mereka menolak untuk ikut bu, kondisi bapak sedang tidak bisa perjalanan jauh" jelas Rizon membuatku sedikit kelu. Dan ibu paham dengan suasana hatiku.


"Jangan bersedih sayang ya... ibu dan ayah ada di sini buat kamu" ujarnya menghiburku.


Tidak bisa dipungkiri kalo aku benar-benar sedih.


"Kalian pasti capek. Mending sekarang segarkan diri, biar lebih ringan. Nanti kita cerita ya"


Tanpa menunggu lama Rizon beranjak dan aku juga melangkahkan kaki menuju kamar.


***


Sambil menyisir rambutku yang masih basah, menatap diri yang tampak dicermin. Tiba-tiba muncul keraguan. Cerminanku seolah-olah mengejekku dengan keputusan yang aku ambil.


Masih terngiang wajah sedih ibu dan bapak melepasku. Bisa kurasakan sedikit kekecewaan hati mereka dengan keputusanku.


Dan ini hukuman bagiku, mereka tidak ada dalam hari bahagiaku.


"Adek..." panggil Rizon di depan pintu dan mendekat kearahku. Dia berdiri persis dibelakangku. Menatapku dicermin.


"Apa yang adek fikirkan?" Tanyanya


Aku hanya menggeleng menjawab pertanyaan itu.


"Mata adek ga bisa bohong sama kakak."


"Semuanya kak, serasa kayak mimpi. Baru tadi pagi kita ada di Medan, sekarang sudah disini" ucapku membuatnya tersenyum.


"Kita jalani sama-sama, pasti bisa sayang." Serunya meyakinkanku


Tak lama suara ceria Caca terdengar mendekati pintu kamar.


"Ternyata calon pengantin prianya ada di sini. Belum sah ga boleh ketemu-ketemu dulu. Apalagi berduaan" celotehnya sambil menarik Rizon keluar dari kamar.

__ADS_1


Aku hanya tersenyum dan berfikir lirih.


"Masih zaman di pingit-pingit segala?"


__ADS_2