
Dengan telaten dan penuh cinta Rizon menemani hari-hari berat yang dijalani sang istri. Hidup tanpa ingatan masa lalu membuatnya sangat tak berdaya. Benar-benar linglung penuh pertanyaan.
Memandangi wajahnya didepan cermin yang kini duduk dikursi roda. Hidupnya kini tergantung sepenuhnya pada Rizon. Tidak bisa melakukan kegiatan seperti orang normal. Kondisi itu sering membuatnya merasa tak berguna, hidup hanya menjadi beban bagi Rizon.
"Kenapa masih disini dek?" suara Rizon menyadarkannya. Dengan lembut pria itu memeluknya dari belakang. Membenamkan wajahnya di leher jenjangnya, menghirup aroma rambutnya yang terurai menyebarkan aroma yang menyejukkan.
Rizon mensejajarkan wajahnya, memandang kearah cermin hingga mata mereka bertemu dengan pantulan wajah mereka.
"Kak, maaf adek jadi merepotkanmu, menjadi beban hidup kamu, maaf..."
"Tak ada yang menjadi beban sayang. Aku mencintai kamu dalam kondisi apapun. Dulu, sekarang, ga akan pernah berubah. Kamu nyawaku."
"Tapi adek benar-benar ga ingat apapun"
"Meski adek melupakan segalanya, tapi memori kakak sudah menyimpan segalanya."
"Ceritakan semuanya kak. Adek ingin mendengarnya." Pinta Nina dengan wajah ingin tau yang sangat besar.
__ADS_1
Dengan senyum Rizon menanggapi semangat istrinya yang ingin mengetahui ingatannya yang hilang.
"Kakak menyukai adek pada saat pertama kali ketemu. Tepatnya digedung rektorat. Berharap bisa ketemu lagi, dan takdir berpihak pada kakak. Kita ketemu lagi diospek kampus. Dan yang paling bikin kakak sangat bahagia dan lagi-lagi takdir berpihak pada kakak, kita satu jurusan."
"Makin dekat saat adek pingsan waktu ada acara di jurusan."
"Sejak pertama kali ketemu, bukan kenalan loh ya. Kakak sudah merasa ada sesuatu sama adek."
"Karena kita satu jurusan, jadi sering banget bisa ketemu. Kakak semakin suka dengan semua yang berhubungan dengan adek. Adek itu anak yang ceria, supel, humble, dewasa dan banyak hal yang buat kakak benar-benar jatuh hati."
"Hubungan kita mengalir seperti air. Tanpa ada kata-kata tembak menembak kayak ABG. Kita sama-sama menemukan kenyamanan. Hari-hari yang benar-benar kakak nikmati dan syukuri bisa dipertemukan dengan gadis se-perfect adek."
"Ibu mulai penasaran dan berharap adek bisa bertemu dengannya."
"Ibu yang jarang meminta sesuatu dan kondisi ibu saat itu memang tidak baik. Bertahun-tahun melawan sakit yang dideritanya. Kakak dengan segala usaha gimaa caranya biar adek mau ikut pulang ke Manna biar bisa bertemu ibu. Dengan alasan libur jeda semester kita pada saat itu sangat dekat, ahirnya adek mau ikut kakak pulang."
"Intinya ibu suka dengan wajah, kepribadian saat pertama kali bertemu."
__ADS_1
"Dalam tenggang waktu yang ga lama kita mengambil keputusan menikah. Dan itu murni hanya untuk ibu. Kakak tau adek mengambil keputusan menikah dengan kakak dengan dasar hati kemanusiaan adek. Karena itu benar dadakan sekali, bahkan kakak ga menyangka kali adek bisa berkorban sebesar itu pada keluarga kakak."
"Bahagia. Yahhh kita sangat bahagia. Meski sempat setelah menikah kita masih tinggal terpisah tapi kita menjalaninya dengan bahagia."
"Bahagia bersama ibu ga bertahan lama. Dengan bahagianya ibu meninggalkan kita semua, sembuh dari sakit untuk selamanya."
"Kita berusaha bangkit dari duka. Ga lama adek memutuskan untuk tinggal bersama dengan kakak. Awalnya kita sangat menikmati, lama kelamaan banyak sekali permasalahan yang datang silih berganti. Kita sering salah paham."
"Beban kakak sangat berat dek, urusan kantor semua dilimpahkan pada kakak, belum lagi saat itu kakak harus menyelesaikan skripsi. Kakak mengaku salah terlalu egois dengan diri sendiri. Sedikit gesekan kita jadi ribut besar. Sering terjadi seperti itu dan kakak sadar adek pasti menderita." Rizon tak mampu menahan isak penyesalannya
"Hubungan kita renggang, belum lagi banyak pihak-pihak yang memanfaatkan situasi. Tapi adek masih setia mendampingi kakak. Kakak salah, kakak sudah jahat selama ini."
"Terahir hari seharusnya kakak berbagi kebahagiaan bersama malah memberikan adek keadaan seperti ini. Kakak suami yang jahat dek, kakak ga pantas untuk dimaafkan. Semua keadaan ini karena kakak. Adek bisa hukum kakak dengan segala hukuman yang adek mau. Kakak pantas untuk dibenci." Suara Rizon semakin parau sembari menggenggam erat tangan Nina dan menagkupkan wajahnya dipangkuan sang istri.
Air mata tak terbendung membanjiri wajah keduanya. Nina menengadahkan wajahnya menatap langit-langit. Rizon bangkit meraih tubuh tak berdaya itu kedalam pelukannya. Tangis Nina pecah dipelukan suaminya.
"Maafin kakak...kakak benar-benar minta maaf dek.."
__ADS_1
Nina masih diam dalam isaknya. Berusaha mencerna semua yang baru didengarnya. Memejamkan mata menahan sakit yang mulai menyerang kepalanya.