Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Terbaik


__ADS_3

Pembahasan dimobil masih seputar cake dan puding buatanku. Ibu sangat senang mendengar segala pujian yang menuju padaku, dan yang pasti satu kebanggan positif buat keluargaku. Membuat keluarga bahagia ga harus dengan sesuatu yang mahal.


"Makasi sudah memberikan yang terbaik buat keluarga ini ya sayang...cantikmu memang luar dalam" ibu mulai dengan kelebaiannya


Berusaha menutupi rasa sakit yang semakin tak tertahan. Ibu mulai curiga dengan perubahanku menjadi diam dengan wajah pucat. Dan keringatku mulai menyerang.


"Sayang kenapa???" Seru Rizon yang sedang menyetir.


"Perut adek kayak kram gitu kak?"


"Kita ke dokter??" Ujar ibu mulai kuatir


"Ga bu... kayaknya Nina mau tamu bulanan" jawabku memberi alasan.


Sampai dirumah aku memilih langsung ke kamar, di temani Rizon yang masih bingung. Setelah berbaring dia mengambilkan air hangat untuk kuminum.


Sedikit mengurangi rasa sakit setelah berbaring dan meminum air hangat.


"Istirahat dulu ya..." ujarnya masih kuatir.


***


Terbagun dari tidurku yang masih dengan pakaian dari acara tadi. Masih dengan wajah belum dibersihkan dan itu membuatku tidak nyaman.


Rizon masih tampak menonton tv sambil berbaring di sofa.


"Kok belum tidur kak?"


"Belum bisa tidur, takut adek kenapa-kenapa..." jawabnya yang menyadari kehadiranku.


"Adek ga papa, udah biasa kalo adek mau datang bulan..."ujarku seraya menuju kamar mandi untuk ganti pakaian.


Dan benar dugaanku tamu bulanan sudah datang. Sudah menunjukkan tandanya.


"Beneran adek dapet kak..." seruku padanya


"Menstruasi maksudnya?"


"Iya lahhh, emang dapet undian gitu maunya?" Petanyaan konyol yang ga penting.


"Berarti..."


"Mulai dehhh..."seruku yang mengerti arah ucapannya.


Rizon hanya tertawa ringan sembari mengacak rambutku dan berbaring diatas tempat tidur. Masih memandangiku yang membersihkan wajah didepan kaca.


"Kakak ga serumit adek ngurusin muka tetap cakep aja kok" ujarnya mulai menggodaku


"Kulit cowok kan beda kak, kayak kulit buaya, keras tahan banting. Namanya juga cewek, lebih sensitif" balasku ga mau kalah


"Ga juga tuh, kulit wajah kakak halus tuh" sembari sedikit konyol mengusap wajahnya sendiri.


Aku yang melihat ulahnya dari cermin hanya bisa tersenyum dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan.


Segera sesudahnya aku menuju tempat tidur dan berbaring disampingnya yang langsung memelukku.


"Saat ini hanya boleh peluk ya??"


Aku hanya memejamkan mata tanpa membalas kaimatnya. Menyambung tidurku tadi. Rasa kram perutnya sudah mendingan, meskipun masih ada sisa-sisa sakitnya.


***


Mbok Inah sudah sibuk didapur ketika aku bangun. Suasana masih sangat sepi. Penghuni rumah masih terlelap dalam tidurnya.


"Kok udah bangun non" sapanya pelan


"Iya mbok, udah biasa bangun pagi soalnya. Lagian kemarin tidurnya lumayan cepat" jawabku sembari menoleh ke arah jam yang masih pukul 05.06.


Sibuk dengan beberapa menu hari ini. Sederhanya dan mudah-mudahan orang rumah suka. Tempe bacem, sayur lodeh, dan gurami goreng, dan sambal yang menjadi kesukaan semua.


Ibu yang baru keluar dari kamarnya mencium aroma makanan masakan mantunya.


"Wanginya menggelegar... masakannya serius banget ini..."

__ADS_1


"Masak biasa aja kok bu... mudah-mudahan pada suka."


"Gimana perutnya masih kram" tanya ibu


"Udah mendingan bu...biasa sakit PMS" jelasku mengurangi rasa kuatirnya.


Hampir finish pekerjaan didapur saat Rizon keluar dari kamar.


"Istriku rajin sekali, pagi-pagi udah bikin lapar..."


"Mau dibikinin teh dulu?"


"Ga dek, kayaknya mau makan aja... ibu dan ayah udah bangun?" Tanyanya


"Udah...lagi didepan."


Yang lagi ditanyain panjang umur. Menuju meja makan. Semangat pagi yang terpancar dari semua wajah.


"Semoga senyum ini selalu menyertai keluarga ini Tuhan" doaku dalam hati


"Kita sarapan sama-sama yuk..." ujar ayah sembari duduk.


Ibu yang langsung melayani keinginan ayah menyiapkan piring dan mengisinya dengan nasi.


Aku juga melakukan hal yang sama pada suamiku yang sudah merasa lapar sejak tadi.


"Adek ga suka tempe tapi kok malah masak tempe?" Suara Rizon sambil menikmati tempe bacem kesukaannya.


"Adek ga suka bukan berarti semua ga makan tempe kan!"


"Bisa masak tempe seenak ini ,kok malahan ga suka?" Ujar ibu


"Ga tau bu... dari kecil emang ga suka. Padahal di rumah semua suka banget. Nina sendiri yang ga doyan..." jawabku sembari menyelesaikan suapan terahirku.


***


Sebelum pulang ke Bengkulu, siang itu ibu memintaku membuatkan banana cake lagi... masih teringat rasanya yang membuatnya ketagihan. Aku membuatkan dua sekaligus, untuk teman ngeteh atau ngopi mereka setelah kami tinggal pulang.


Pembahasan dimobil masih seputar cake dan puding buatanku. Ibu sangat senang mendengar segala pujian yang menuju padaku, dan yang pasti satu kebanggan positif buat keluargaku. Membuat keluarga bahagia ga harus dengan sesuatu yang mahal.


"Makasi sudah memberikan yang terbaik buat keluarga ini ya sayang...cantikmu memang luar dalam" ibu mulai dengan kelebaiannya


Berusaha menutupi rasa sakit yang semakin tak tertahan. Ibu mulai curiga dengan perubahanku menjadi diam dengan wajah pucat. Dan keringatku mulai menyerang.


"Sayang kenapa???" Seru Rizon yang sedang menyetir.


"Perut adek kayak kram gitu kak?"


"Kita ke dokter??" Ujar ibu mulai kuatir


"Ga bu... kayaknya Nina mau tamu bulanan" jawabku memberi alasan.


Sampai dirumah aku memilih langsung ke kamar, di temani Rizon yang masih bingung. Setelah berbaring dia mengambilkan air hangat untuk kuminum.


Sedikit mengurangi rasa sakit setelah berbaring dan meminum air hangat.


"Istirahat dulu ya..." ujarnya masih kuatir.


***


Terbagun dari tidurku yang masih dengan pakaian dari acara tadi. Masih dengan wajah belum dibersihkan dan itu membuatku tidak nyaman.


Rizon masih tampak menonton tv sambil berbaring di sofa.


"Kok belum tidur kak?"


"Belum bisa tidur, takut adek kenapa-kenapa..." jawabnya yang menyadari kehadiranku.


"Adek ga papa, udah biasa kalo adek mau datang bulan..."ujarku seraya menuju kamar mandi untuk ganti pakaian.


Dan benar dugaanku tamu bulanan sudah datang. Sudah menunjukkan tandanya.


"Beneran adek dapet kak..." seruku padanya

__ADS_1


"Menstruasi maksudnya?"


"Iya lahhh, emang dapet undian gitu maunya?" Petanyaan konyol yang ga penting.


"Berarti..."


"Mulai dehhh..."seruku yang mengerti arah ucapannya.


Rizon hanya tertawa ringan sembari mengacak rambutku dan berbaring diatas tempat tidur. Masih memandangiku yang membersihkan wajah didepan kaca.


"Kakak ga serumit adek ngurusin muka tetap cakep aja kok" ujarnya mulai menggodaku


"Kulit cowok kan beda kak, kayak kulit buaya, keras tahan banting. Namanya juga cewek, lebih sensitif" balasku ga mau kalah


"Ga juga tuh, kulit wajah kakak halus tuh" sembari sedikit konyol mengusap wajahnya sendiri.


Aku yang melihat ulahnya dari cermin hanya bisa tersenyum dengan tingkahnya yang kekanak-kanakan.


Segera sesudahnya aku menuju tempat tidur dan berbaring disampingnya yang langsung memelukku.


"Saat ini hanya boleh peluk ya??"


Aku hanya memejamkan mata tanpa membalas kaimatnya. Menyambung tidurku tadi. Rasa kram perutnya sudah mendingan, meskipun masih ada sisa-sisa sakitnya.


***


Mbok Inah sudah sibuk didapur ketika aku bangun. Suasana masih sangat sepi. Penghuni rumah masih terlelap dalam tidurnya.


"Kok udah bangun non" sapanya pelan


"Iya mbok, udah biasa bangun pagi soalnya. Lagian kemarin tidurnya lumayan cepat" jawabku sembari menoleh ke arah jam yang masih pukul 05.06.


Sibuk dengan beberapa menu hari ini. Sederhanya dan mudah-mudahan orang rumah suka. Tempe bacem, sayur lodeh, dan gurami goreng, dan sambal yang menjadi kesukaan semua.


Ibu yang baru keluar dari kamarnya mencium aroma makanan masakan mantunya.


"Wanginya menggelegar... masakannya serius banget ini..."


"Masak biasa aja kok bu... mudah-mudahan pada suka."


"Gimana perutnya masih kram" tanya ibu


"Udah mendingan bu...biasa sakit PMS" jelasku mengurangi rasa kuatirnya.


Hampir finish pekerjaan didapur saat Rizon keluar dari kamar.


"Istriku rajin sekali, pagi-pagi udah bikin lapar..."


"Mau dibikinin teh dulu?"


"Ga dek, kayaknya mau makan aja... ibu dan ayah udah bangun?" Tanyanya


"Udah...lagi didepan."


Yang lagi ditanyain panjang umur. Menuju meja makan. Semangat pagi yang terpancar dari semua wajah.


"Semoga senyum ini selalu menyertai keluarga ini Tuhan" doaku dalam hati


"Kita sarapan sama-sama yuk..." ujar ayah sembari duduk.


Ibu yang langsung melayani keinginan ayah menyiapkan piring dan mengisinya dengan nasi.


Aku juga melakukan hal yang sama pada suamiku yang sudah merasa lapar sejak tadi.


"Adek ga suka tempe tapi kok malah masak tempe?" Suara Rizon sambil menikmati tempe bacem kesukaannya.


"Adek ga suka bukan berarti semua ga makan tempe kan!"


"Bisa masak tempe seenak ini ,kok malahan ga suka?" Ujar ibu


"Ga tau bu... dari kecil emang ga suka. Padahal di rumah semua suka banget. Nina sendiri yang ga doyan..." jawabku sembari menyelesaikan suapan terahirku.


***

__ADS_1


Sebelum pulang ke Bengkulu, siang itu ibu memintaku membuatkan banana cake lagi... masih teringat rasanya yang membuatnya ketagihan. Aku membuatkan dua sekaligus, untuk teman ngeteh atau ngopi mereka setelah kami tinggal pulang.


__ADS_2