Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Siapa aku???


__ADS_3

Nina POV


Menjalani hari tanpa ingatan membuatku seakan hidup segan mati tak mau. Kehampaaan yang aku rasakan benar-benar membuatku frustasi sejadi-jadinya.


Pagi yang cerah seperti biasa Rizon melakukan aktivitasnya. Membantuku mandi, menyiapkan segala kebutuhanku, menyiapkan makanan, kemudian memastikan ada orang yang akan menemaniku sepeninggalannya.


"Hari ini kakak ke kantor sampai siang aja. Selesai meeting kakak akan langsung pulang. Tadi mami telpon akan nemenin adek sampai kakak pulang. Semua keperluan adek sudah kakak siapkan. Ingat jangan memaksakan diri untuk melakukan sesuatu ya. Tunggu sampai kakak pulang. Love you sayang" jelasnya panjang


"Iya kak. Kamu hati-hati..."


"Kok lemas gitu? Adek ga enak badan atau ada sesuatu?" Selidiknya


"Ga ada apa-apa kok. Adek cuma sedikit pusing


"Kakak antar ke kamar ya..."


Aku hanya mengangguk menaggapi tawarannya. Kepalaku memang terasa sakit.


Dengan hati-hati Rizon membaringkanku diranjang. Meletakkan ponsel dan segala yang aku perlukan dibatas jangkauanku.


"Kakak berangkat dulu sayang..." pamitnya tak lupa mengecup lembut keningku.


Sepeninggalannya yang kulakukan hanya memejamkan mata. Berusaha berdamai dengan sakit kepala yang mendatangiku.


***


Entah sudah jam berapa dan entah berapa lama aku sudah tertidur. Yang pasti sosok mami menyapaku dengan senyumnya disaat aku membuka mataku. Mami membantuku duduk dan menambahkan bantal sebagai sandaranku.


"Kok ga bangunin Nina Mi!!"


"Ga papa nak... tidurmu nyenyak sekali..."


"Mami udah makan? Ini sudah jam berapa mi?"


"Udah nak...Nina mau makan?" Tanyanya yang hanya kujawab dengan gelengan kepala.


"Nina mau keluar Mi..." pintaku


Mami mendekatkan kursi roda yang beberapa bulan terahir ini menjadi pengganti kakiku. Pelan dia membantu memindahkan tubuhku. Dan mendorong perlahan ketaman belakang.


"Mi, aku merepotkan semua orang jadinya dengan keadaan seperti ini."

__ADS_1


"Jangan bicara seperti itu sayang. Ga ada yang direpotkan. Semua orang sayang sama Nina"


"Itu hanya karna kasian Mi..."


"Heiii... Ini bukan anak yang mami kenal loh. Nina yang mami kenal punya semangat yang besar, kuat dan ga cengeng kayak gini." Mami berusaha menguatkanku


"Tapi itu Nina yang dulu Mi, Nina yang tidak lumpuh seperti saat ini, Nina yang sekarang bukan Nina yang dulu. Bahkan siapa dirinya pun dia tidak ingat." ujarku tanpa bisa menahan air mata yang sudah menggenang.


"Sayang, kamu tidak lumpuh nak. Ini hanya proses pemulihan kamu. Percayalah, kamu akan sembuh seperti dulu. Nina yang ceria, Nina yang selalu menjadi panutan teman-temannya."


Pelukan hangat itu terasa menjalar keseluruh tubuhku. Ada sosok yang memberikan kehangatan yang sama dan aku belum bisa mengingatnya.


Suara pintu gerbang terdengar dibuka, dan suara mobil yang aku sering dengar memasuki halaman rumah. Itu pertanda suamiku sudah pulang.


Sosok itu langsung menghampiri kami yang sedang duduk diteras halaman belakang.


"Sayang..." sapanya tak lupa mengecup keningku dan meraih tangan mami dan mencium punggung tangan itu.


"Makasi dah nemenin Nina bu."


"Sama-sama sayang. Mumpung ibu lagi ga repot juga."


"Kita makan dulu yuk, tadi saya udah beliin makanan."


"Kok makanannya masih utuh dek?"


"Maaf kak, adek baru aja bangun. Tumben ga kerasa tidurnya lama baget. Mami datang aja adek ga sadar."


"Ya udah, berarti sekarang makannya harus double porsi ya"


Aku hanya mengkerucutkan bibir menanggapi kalimatnya yang berniat bercanda.


Kami menikmati makanan tanpa banyak bicara. Selera makanku seakan bertambah dengan menu yang dibawakan Rizon. Rasanya makanan itu sudah sering aku nikmati.


"Adek mau lagi kak..." Pintaku dibalas senyumnya


"Enak ya???"


"Lumayan, rasanya makanan ini ga asing..."


"Sayang, ini salah satu makanan kesukaan adek. Kalo kita ke jalan Suprapto adek pasti akan mampir. Nanti kalo ada waktu kakak ajak kerestorannya langsung ya..."

__ADS_1


Aku sedikit terdiam dengan penjelasannya. Berusaha mencerna dan mengingat sesuatu tentang makanan itu sembari perlahan melahap suapan terahir.


Mami masih menemaniku sembari menunggu Rizon merapikan dan membersihkan piring kotor makan tadi.


"Rizon kan udah pulang, jadi sebentar mami tinggal dulu ya..."


"Iya mi... maaf sudah merepotkan mami."


"Ga merepotkan sayang..."


"Nanti diantar sama kakak aja mi..."


"Sebentar papi jemput nak. Mami udah wa papi..."


"Mami ihhh..."


"Sekalian mami mau belanja juga" ucap mami beralasan


Ga lama suara sepeda motor didepan gerbang.Tanpa papi turun mami segera menghampiri pria berkumis tebal itu.


"Mampir dulu pi." Teriakku dari depan pintu


"Lain kali aja ya...Mau nganter mami belanja dulu."


Tanpa bisa menghalangi lagi ahirnya keduanya meninggalkan rumah dengan senyum mereka yang merekah.


***


Kembali menikmati suasana berdua dengan Rizon. Membaca buku dengan kaki selonjoran disofa ruang keluarga menjadi pilihanku. Posisi itu sedikit memberikan rasa nyaman. Sementara Rizon tampak sibuk dengan tablet kerjanya. Aku melihat keseriusan dengan ekpresinya tanpa menyadari aku memperhatikan setiap perubahan raut wajahnya.


Seketika pandangan kami bertemu. Dia menoleh kearahku yang sedang memandanginya. Seketika juga aku berpaling.


Senyumnya mengembang, dan mendekat sembari duduk ditepi sofa. Jemarinya membelai lembut wajahku, menyingkirkan helai rambut membawanya kebelakang telingaku. Tatapan itu sangat membuatku gugup. Tanpa ada aba-aba, bibirnya menyentuh bibirku, dan ada kehangatan disana. Pelan dan lembut menyapu setiap sisi wajahku.


Sadar tak ada penolakan dariku, ciuman itu lebih menuntut. Aku yang seperti terhipnotis tanpa penolakan membuatnya semakin berani dengan aksinya. Terhenti saat kami berdua merasakan sesak dan butuh asupan oksigen.


"Aku sangat merindukanmu sayang..." bisik Rizon masih menangkupkan tangan diwajahmu dengan jidat kami yang masih menempel.


Aku yang masih begitu banyak pertanyaan tentang kehidupanku tak bisa berkata banyak. Memejamkan mata berharap ingatan itu akan kembali.


Begitu besar cinta orang-orang sekitarku, sangat keterlaluan rasanya aku tak bisa mengingat sedikitpun dari begitu banyak kenangan yang mereka ceritakan. Bahkan suamiku sendiri hanya meyakininya karena akte nikah dan foto-foto yang ada.

__ADS_1


...Separah itukah kecelakaan itu sampai-sampai memori otakku terlempar entah terdampar dimana. Apakah aku harus memulai memori yang baru? Terlalu sakit jika aku berusaha mengingat semuanya. Atau apakah Tuhan sengaja membuatku lupa dengan masa laluku? Apa terlalu burukkah?...


__ADS_2