
Dari malam dimana Caca menarik Rizon dari kamar, benar-benar tak terlihat batang hidungnya. Sudah sampai siang belum juga datang mencarinya. Ponselnya juga mati.
"Benar-benar dipingit ceritanya" batinku
Dan artinya peraturan itu berlaku sampai besok.
Ada kerinduan tidak melihatnya.
Dikamarnya Rizon tampak uring-uringan. Satu rumah tapi ga boleh ketemu. Melewati hari sampai besok rasanya membuatnya gila.
"Mungkin begini rasanya orang dalam tahanan" batinnya berontak.
Hanya berbaring dan sesekali tampak dia tersenyum sendiri. Di awal memang berat sampai ketitik ini. Tapi hari ini membuktikan kalo dia begitu mencintai gadis yang sedang dipingit dikamar Caca. Baru sehari tidak bertemu dia sudah sangat merindukan wajah lembut dan senyumannya, celotehnya, kecengengannya, perhatiannya dan banyak hal yang membuatnya rindu pada calon pendampingnya itu.
"Ca, kembalikan ponsel dank" pinta Rizon memohon
"Ga boleh dank... cuma sampai besok aja kok. Sabar dikit"
"Dank cuma mau tanya kabarnya aja"
"Ga dank... sudah dipastikan Nina baik-baik aja. Okee" ujarnya seraya meninggalkan kamar Rizon
Caca dengan sengaja mengambil ponsel kakaknya itu dan mematikannya. Kesempatan besar dia menggoda habis-habisan kakak kesayangannya.
Benar-benar keduanya diuji tanpa ada komunikasi sama sekali. Tanpa bertemu.
"Hhuhhh" desah Rizon melepas beban hatinya.
Mencoba memejamkan mata, wajah Nina memenuhi bayangannya. Hari yang benar-benar panjang untuk dilewati.
***
Acara mengikat janji suci pernikahan benar-benar membuat keduanya dag dig dug.
Aku menatap diriku dicermin, dimana seorang ala-ala MUA sedang mendandaniku. Makeup minimalis sederhana menjadi pilihanku.
"Emang sudah bawaan orok cantik mahhh mau digimanain juga udahh cantik yee mak" ucap sang MUA pada tante Wulan yang sedang menyiapkan pakaianku.
Mereka adalah patner kerja yang saling membutuhkan.
"Mantu siapa dulu..."suara tante Wulan ga mau kalah.
Aku hanya tersenyum lucu mendengar celotehan mereka berdua.
Menatap diriku dicermin dengan kebaya berwarna putih dihiasi payet yang senada. Karya yang luar biasa dari seorang tante Wulan yang rela memprioritaskan waktu untuk membuatnya.
"Mudah-mudahan kamu suka modelnya ya..."ucapnya setengah berbisik ditelingaku.
__ADS_1
"Ini bagus banget tante...maksiii" seraya memandang ke arah matanya.
"Sama-sama sayang..."
Kebaya yang melekat pada tubuh Nina, mengikuti setiap lekulannya. Dengan riasan sederhanapun sudah tampak glamour.
"Bisa nie nanti sekali-kali sesi photo untuk model rancangan tante..."
"Tante bisa aja..."
Aku sudah siap, masih menunggu.
Kuraih ponsel dan mencari nama "my mom" dan menekan tombol video... menunggu dengan hati yang gundah, ahirnya tampak wajah ibu yang aku ingin berada disini menemaniku dilayar ponselku.
"Ibuuu... Bapak..." ucapku menahan air mataku.
"Jangan menagis nak... makeup nya nanti belepotan" ujarnya menghiburku
"Anak ibu sudah dewasa ternyata...sangat cantik" pujinya
Jelas terlihat pandangan sendu di raut wajah mereka, tapi demi aku mereka berusaha menghiburku.
"Semoga hari ini lacar ya, doa ibu dan bapak selalu bersama kamu. Ingat selalu pesan ibu" ujarnya panjang lebar mengingatkanku.
***
Tampak Rizon sudah menunggu dengan gelisah di altar yang sudah disiapkan sebelumnya...
Aku berjalan menuju altar dimana Rizon sudah menungguku. Diantar oleh salah satu keluarga yang ditunjuk sebagai waliku. Tatapan semua terarah kepadaku. Semua bergumam kagum dan wajahnya terlihat bahagia.
"Nina...you are beautiful" teriak Caca mengundang tawa semuanya...
Lelaki yang sudah ada didepanku tak lepas memandangku penuh takjub...
"Adek cantik sekali..."bisiknya kagum.
Ayah ,ibu yang melihatku sangat-sangat bahagia. Meski tampak diwajahnya menahan sesuatu yang sakit.
Acara demi acara berlangsung hikmat. Ada kebahagian dengan keharuan menyelimuti suasana di rumah itu.
Saat aku dan Rizon duduk berlutut dihadapan orang tua berharap restu dan doa mereka selalu menyertai pernikahan kami. Ibu memelukku sambil berurai air mata. Tapi air mata kebahagiaan yang tidak dapat ia tahan.
Ucapan selamat dan doa-doa memberikan kami kekuatan dan apa yang menjadi harapan terkabulkan. Hari dimana awal hubungan baru dimulai.
***
Disela-sela tamu yang kebanyakan adalah saudara. Baik dari ibu maupun dari ayah. Sebagai raja ratu sehari yang menjadi pusat perhatian. Serasa bibirku sudah capek harus menunjukkan senyuman terbaik sepanjang masa.
__ADS_1
Tapi setelah sungkem tadi aku tidak melihat ibu. Berusaha menebar pandangan kesegala sisi tapi aku ga menemukannya.
"Kak, adek kedalam dulu ya...sebentar aja..." ijinku pada Rizon yang masih ngobrol bersama salah satu kerabat.
Benar dugaanku ibu terlihat lemas berbaring diatas tempat tidurnya.
"Ibuuu..."sedikit kuatir akan keadaannya.
"Ibu cuma capek aja sayang... istirahat sebentar aja kok..." ucapnya tak berdaya.
"Ibu pasti belum minum obat yah?"sembari men cek obat yang ada diatas meja.
Aku beranjak menuju dapur, mengambil beberapa makanan yang bisa di makan oleh ibu sebelum dia meminum obatnya.
"Ibu makan sedikit ya... biar ada isi perut... ibu harus minum obat"
Tanpa banyak protes ibu yang saat ini telah sah menjadi ibu mertuaku menuruti apa yang aku katakan.
"Apanya yang sakit bu???" Tanyaku disela-sela suapan makanannya
"Kepala ibu berat sekali... mungkin karena capek... tapi ibu baik-baik aja sayang..." ucapnya agar aku tidak kuatir.
Tak lama setelah selesai meminum obat, ibu ahirnya tertidur sambil masih menggenggam tanganku.
Perlahan aku menarik tangan dengan sangat hati-hati agar ibu tidak terbagun. Dengan berat hati aku meninggalkannya yang sedang tertidur.
"Mbok Inah, minta tolong ibu di lihat sesekali ke kamarnya ya. Barusan minum obat dan sekarang lagi tertidur" pesanku pada mbok Inah yang sedang beberes didapur.
"Kok lama sayang?" Tanya Rizon setelah aku kembali.
"Kuatir sama ibu... tadi sehabis sungkem adek ga lihat sama sekali. Makanya ngecek, ternyata lagi dikamar. Tadi habis makan dan minum obat. Dan sekarang ibu lagi tidur... adek udah titip sama mbok Inah sambil dengar-dengar siapa tau ibu manggil" jelasku panjang lebar sambil tidak lupa menebar senyum.
***
Beberapa dari keluarga sudah ada yang pulang. Sementara Yang paling terdekat masih berada dirumah.
Sore sudah menjelang malam masih banyak kesibukan dirumah sisa-sisa acara tadi.
Kakiku kram, sangat sakit. Efek heels yang seharian ini menjadi alas kakiku. Tumben berlama-lama dengan benda itu. Setelah melepasnya kaki terasa ringan. Tapi kaki masih sakit efek berdiri yang terlalu lama.
Seketika langkahku terhenti disaat memasuki kamar Caca. Yang mana sedang asik bercanda dengan beberapa sepupunya. Barang-barangku semua ga ada di kamar itu.
"Sekarang kamar kamu bukan disini lagi kakak ipar. Sudah aku pindahin di kamar dank" serunya setengah menggodaku.
" ga papa udah sah kok" tambah yang lainnya membuatku ingin cepat-cepat keluar dari kamar itu.
Aku baru menyadari kalo aku sekarang adalah istri Rizon. Berusaha menahan diri, dan berusaha untuk tenang aku memasuki kamar yang wangi dan penuh dengan hiasan bunga. Suasana yang sangat romantis benar-benar kamar pengantin baru.
__ADS_1
Tapi pernikahan ini punya kesepakatan. Dan aku berharap Rizon tidak melupakannya.