
Masih dalam pelukannya didalam selimut. Suara azan membangunkanku yang lelah setelah pertempuran tadi malam. Sudah cukup pelan aku melepaskan diri dari pelukannya, dia tetap terbangun dan menghalagiku.
"Kakak, adek mau mandi dulu." Pintaku agar dia melepasku
"Biar kakak peluk dulu, kakak ga ingin melepaskan adek" sambil tangannya mulai nakal didalam selimut.
"Kak, jangan begini. Kita harus safety.."ujarku mengingatkannya
Ahirnya mengerti dan melepaskan aku keluar dari cengkramannya. Dengan tersenyum dia menatapku menuju kamar mandi.
Guyuran air hangat menyegarkan tubuhku yang terasa ngilu. Selangkanganku terasa sakit dan perih. Dan aku juga ga tau kenapa begitu.
Keluar dengan handuk yang menggulung dikepalaku. Masih dengan berbaring dia menutup mata tapi bukan tidur.
"Kakak bangun, mandi gih...kita berangkat pagi."
Tanpa banyak protes dia bangkit dan spontan aku mengalihkan pandanganku. Pagi ini sangat jelas melihat lekuk tubuhnya yang berotot tanpa tertutup apapun.
"Kok berpaling gitu" ucapnya menggoda dan sambil mendekatiku yang sedang mengeringkan rambutku.
"Kakak... sana gihhh" sambil mendorongnya ke kamar mandi dengan malu.
Rambut panjangku ahirnya kering. Saatnya merapikan kamar sebelum berangkat pulang ke Manna. melipat selimut tebal sudah tak berbentuk dan aku benar-benar tetkejut dengan noda bercak darah yang mengotori sprai berwarna abu itu. Segera aku membukanya.
"Kok diganti dek...baru dua hari yang lalu kakak ganti."
"Kak...maaf sprainya ada noda darah" ucapku seraya menunjukkan padanya.
Dia malah memelukku erat dan mengecup lembut keningku.
"Makasi sudah memberikan kakak yang paling berharga buat adek. Itu tandanya belum ada orang lain yang melakukannya pada adek. Itu darah perawan adek. Dan semua lelaki sangat mengharapkan itu disaat pertama kali melakukannya dengan istrinya. Kakak bahagia sayang...Trimaksi ya...semoga kedepannya kita bisa menjalani rumah tangga ini lebih baik lagi... "
***
Setelah yakin ga ada yang ketinggalan, Rizon merangkulku menuju garasi rumah dimana mobilnya terparkir. Perjalanan menuju rumah ibu dan ayah yang sudah biasa kami lakukan. Baru akan jalan "ibu sayang" di layar ponsel Rizon memanggil
"Halloo bu..."sapaku
"Kalian jadi pulang???"
"Jadi bu...ini baru mau jalan... kenapa bu? Ada yang mau dititip??"
"Nanti mampir di toko kue langganan ibu.. dank udah tau kok...nanti ibu chat apa yang mau dibeli ya... soalnya sore ini wak Putri ada acara dirumahnya" jelas ibu
Setelah panggilan berahir, chat ibu pun masuk.
Ibu : banana cake 2, brownies 2, puding coklat 2" (beserta gambarnya)
R-b : siap bu 👍👍👍
Semua yang ibu mau padahal aku bisa membuatnya. Soalnya pernah memakan cake dari toko kue itu menurutku rasanya biasa aja.
"Kak, kita nanti mampir ke TBK aja ya. Maaf aja, cake yang ibu pesan rasanya biasa aja kok...nanti adek yang buat... lagian peralatan ibu juga lengkap. Beli mahal tapi rasanya ga sesuai... kalo bikin sendiri dapatnya bisa dua kali lipat"
"Emang bisa bikin kue???" Tanyanya meragukanku.
Hal yang dia belum tau tentangku. Aku suka memasak apalagi urusan cake bukan hal yang baru bagiku.
"Yakin mau bikin sendiri??" Dia masih memastikan niatku sesampainya di depan toko bahan kue.
"Yakinlah kak... jangan iri kalo ibu nanti memujiku ya" ucapku bercanda seraya keluar dari mobil.
Sambil membawa keranjang, Rizon hanya menatapku dengan belanjaan yang aku ambil. Masih meragukan kemampuan sang istri.
__ADS_1
Merasa semua lengkap, mebayar dikasir dan melanjutkan perjalanan yang tidak jauh lagi.
Ibu sedang didepan saat mobil memasuki halaman rumah. Senyumnya mengembang menyambut kepulangan kami.
"Sehat sayang...".sambutnya sambil memelukku.
"Seperti yang ibu lihat" balasku
"Ga jadi ketoko kue bu, mantu ibu bilangnya ga enak. Nanti dia buatin yang lebih enak..." jelas Rizon pada ibu yang heran melihat belanjaan bahan kue.
Sosok wanita itu tersenyum tapi raut wajahnya masih ragu.
Kami menuju ruang keluarga, dimana ada ayah yang masih sibuk dengan korannya. Weekend benar-benar dinikmati di rumah ala keluarga ini. Setelah memberinya salam aku langsung ke dapur untuk membuatkan suamiku secangkir teh.
"Ini tehnya kak..." sembari meletakkan secanggkir teh kesukaannya.
"Ke kamar dulu bu... mau ganti baju." Pamitku pada ibu
Mata wanita itu sangat memperhatikan Nina yang berjalan meninggalkan mereka menuju kamar. Ada yang berbeda dengan langkah menantunya itu.
"Dank, Nina baik-baik aja kan? Tanya ibu curiga.
"Baik bu... emang kenapa ibu tanya kayak gitu?"
"Langkahnya seperti berat. Apa perasaan ibu aja ya?"
Perbincangan mereka terhenti ketika melihatku sudah keluar kamar dengan pakaian yang lebih santai.
"Acaranya jam brapa bu?" Tanyaku sembari mulai sibuk dengan bahan-bahan kue ku. Mbok Inah membantuku mengeluarkan peralatan yang aku butuhkan.
"Kita jalan jam 5an aja..."
Yang pertama aku akan membuat puding coklat, sesuai dengan apa yang dipesan ibu.
"Kakak bantu ya?" Rizon menawarkan diri.
Satu rumah penuh dengan aroma cake yang sedang dipanggang didalam oven. Ibu yang mencium aroma enak itu penasaran dan menghampiriku di dapur.
"Wangi sekali nak..."
Sambil mengangkat banana cake yang sudah matang sempurna. Mengeluarkannya dari loyang.
"Penampakannya cantik sekali" ujar ibu memuji.
"Ibu cobain ya..." sembari memberikan sepotong pada ibu.
Perlahan wanita itu menyicipinya dan wajahnya tampak puas dengan rasanya.
"Ini benar-benar enak... cobain dank...ini ayah juga harus coba..."
Ibu dengan semangatnya.
Aku bahagia melihat kepuasan dan kebahagian yang terpancar dari mata kedua orang tua itu. Tidak butuh mahal untuk membuat mereka tersenyum.
Ahirnya semua selesai. Aku senang mereka suka dengan buatan tanganku. Mereka memuji setiap rasa dari yang aku buat. Saatnya membersihkan diri dan istirahat sebelum nanti berangkat.
***
Aku berbaring disamping lelakiku yang sudah tertidur dari tadi setelah membersihkan diri dari aroma cake.
Dan ternyata dia belum sepenuhnya terlelap.
Menyadari aku disampingnya, tangannya yang kokoh memelukku.
__ADS_1
"Kirain udah tidur"
"Masih ngebayangin yang tadi malam sayang" ucapnya sambil mengelus-elus nakal.
"Boleh kakak minta lagi?" Bisiknya ditelingaku.
"Sakit kak" keluhku jujur
"Mungkin karena baru pertama sayang" Lirihnya membuatku malu
"Masih terasa perih kalo dibawa jalan..." aku berusaha jujur
Dan dia tersadar pertanyaan ibu tadi yang melihat jalan adek terlihat berat.
Mengerti istrinya sedang lelah, tanpa banyak menggoda dia membiarkanku tertidur dipelukannya.
Bunyi alarm dari ponselku memaksa mataku untuk bangun. Rizon yang sudah bangun duluan sudah tampak segar sehabis mandi.
"Kok ga bangunin adek" ucapku masih malas untuk bangun
"Kakak tau, adek udah buat alarm. Makanya kakak biarin aja."
Segera bergegas kekamar mandi dan bersiap untuk berangkat.
***
Ini kali pertama aku ikut acara kumpul keluarga. Bertemu dengan keluarga besar setelah acara pernikahan kami.
"Kak, rambut adek bagusnya diikat apa di gerai aja ya?" Tanyaku meminta pendapat.
"Mau di ikat atau di gerai sama cantiknya kok" ucapnya no solusi
Suara ketukan pintu ahirnya kuputuskan hanya menjepit rambutku. Sedikit parfum dan ga lupa tas sandang kebangsaanku.
"Kita berangkat???"seru ibu sembari berjalan menuju mobil.
Bahagia itu melihat kesehatan ibu yang semakin hari semakin membaik. Bisa menikmati kebersamaan bersama keluarga besar. Membuat senyuman tak pernah hilang dari wajahnya.
Suasana rumah wak putri sudah ramai. Emang hanya acara ulang tahun. Tapi kali ini lumayan special. Ulang tahun pernikanan perak yang yang direncanakan anak-anaknya.
Keluarga yang sudah berkumpul menyambut kedatangan kami. Masih banyak yang aku belum kenal.
"Ini mantunya ya?" Suara seorang wanita dengan dandanan menor menegur ibu.
"Iya mbak... kenalkan" seru ibu memperkenalkanku
"Pintar juga dank milihnya ya...cantiknya alami..."lajut wanita itu memujiku
"Makasihhh tantee..." balasku dengan senyum.
Rizon datang setelah memarkir mobil dengan kotak-kotak berisi makanan. Dan menyerahkannya pada wak Putri yang menyambutnya.
"Buatan istri dank semua nie wak..." ujarnya pamer
"Masaaa... wanginya aja udah menggoda... harus segera kita coba buatan istri tercinta dank." Wak Putri membawa kotak-kotak itu kedalam.
Rizon menghampiriku yang sedang bersama ibu. Dan ikutan ngobrol.
"Hayooo nie di coba...buatan istri dank Rizon loh..." suara wak Putri sembari membawa cake dan puding yang sudah dipotong-potong.
"Kakak nie pasti pamer-pamer" sedikit kesal aku mencubit pahanya.
"Auuggghhh" rintihnya pelan
__ADS_1
"Kan emang buatan istri kakak" balasnya di telingaku
Sedikit lebay mendengar pujian yang menurutku berlebihan. Apalagi ibu yang dengan bangganya dengan hasil buatan tangan mantunya itu. Tapi selagi itu positif meskipun sedikit malu, aku hanya berusaha tersenyum berterimakasih menerima pujian dari mereka. Hal yang positif untuk nama baik keluarga juga.