Takdir Cinta Nina

Takdir Cinta Nina
Accident


__ADS_3

Matahari yang menggantung di barat mulai manampakkan senjanya. Menyusuri pantai dengan pelan dan sesekali air laut menyapu langkah kaki yang tertinggal dibelakangku. Sementara Rizon masih asik bermain sepak bola bersama teman-temannya.


Aku tersenyum sendiri mengingat pertemuanku bersamanya. Tak disangka hanya hitungan bulan mengenalnya dia menjadi suamiku. Perkenalan yang cukup singkat, dengan pertemuan yang sangat bisa dihitung. Jalan jodoh yang rumit, yang kadang sebagai manusia sulit untuk menebaknya.


"aaawwwhhhh..."


Sesuatu yang sangat tajam terasa sakit seakan menembus kakiku. Sebuah karang besar dengan carang yang sangat tajam menancap dikaki ku. Sangat sakit dan kakiku benar-benar sakit ketika digerakkan, karena karangnya masih menempel. Darah mulai mengalir. Jarak Rizon cukup jauh untuk diteriaki. Tak terasa air mataku sampai menetes menahan sakit.


"Heiii kaki kamu kenapa???" sapa seseorang yang aku ga kenal


Tanpa menunggu jawabanku dia membantuku untuk melepas karang yang masih menempel di kakikuft


"lukanya lumayan besar ni..."


"kamu kesini sama siapa??? rumah kamu dimana... aku antar pulang ya...???


"minta tolong panggilin yang namanya Rizon disana..." sembari menunjuk kearah anak-anak yang sedang bermain bola.


Pria yang menolongku tadi berlari kearah yang aku tunjuk. Tampak Rizon berbincang padanya dan tangannya menunjuk ke arahku. Tanpa menunggu lama, Rizon berlari kearahku. Dengan wajah kuatir dia menghampiriku. Diikuti beberapa temannya yang juga ikut kuatir.


"Adekkk..."


"Sakiiittt kak"


"kita kedokter sekarang...lukanya lumayan dalam ini"


Melihatku yang kesulitan melangkah dengan satu kaki, tanpa bertanya dia langsung menggendongku. Darah dari kakiku lumayan menyisakan tetesan disepanjang jalan.


"Baimmm...kunci motor" teriaknya pada Baim. Karena kami memang tidak membawa kendaraan. Niat hati untuk olah raga jalan sore malah kayak gini.


"Minta tolong ambilin dompet ya Don, ini kunci rumah. Dompetnya kalo ga salah ada ditas kuliah, ada dikamar.


Permainan bola mereka ahirnya terhenti karena musibah yang menimpaku. Sambil menahan rasa sakit kaki, aku memeluknya yang terlihat kuatir.

__ADS_1


Untung praktek diklinik dokter Sam sudah buka. Didepan seorang perawat di klinik dokter Sam membantu memapahku menuju ruang periksa.


"ini kenapa?" tanya doktet Sam yang sedikit agak kemayu


"tadi lagi jalan dipantai dok, keinjak karang yang lumayan besar." jelas Rizon


Benar-benar sakit luar biasa disaat doktet Sam membersihkan bagian dalam lukanya untuk menghindari infeksi. Wajah Rizon ikut seperti meringis saat melihatku menahan sakit. Masih terasa nyut-nyut yang luar biasa meskipun lukanya sudah diperban.


Setelah memberikan obat penghilang rasa sakit dan antibiotik Rizon menyelesaikan pembayaran dan kami ahirnya meninggalkan tempat itu.


"Sementara adek dirumah dulu."


"adek ga papa kak..."


"jangan membantah kakak..." ucapnya tegas


Kak Doni dan Baim sudah sampai dirumah Rizon saat kami sampai. Rizon memapahku pelan karena aku menolak digendongnya. Membantuku duduk di sofa depan tv.


"ga tau kak... Nina lagi jalan tiba-tiba keinjak. karangnya lumayan tajam"


"gitu tuuuhhh, lebih sayang sama sepatu dari pada sama kaki" omel Rizon yang baru keluar dari kamar setelah mengganti pakaiannya.


"namanya juga dipantai, kan ga lucu ya..." aku masih ngeles.


"kakak ambil keperluan adek dulu kekosan, sekalian bilang sama ibu kos. Mumpung ada Doni sama Baim nemenin disini"


"Adek pulang kekosan aja kak..."


"Masih bawel aja" ucapnya menjitak jidatku sembari melangkah keluar.


Doni dan Baim hanya tertawa melihat tingkahnya.


"Nina ga tau tadi dia kuatirnya kayak kamu dimakan sama hiu aja" canda Doni

__ADS_1


"kadang-kadang super lebai kak..."


"Dia emang penyayang Na...orang lain aja dia peduliin apa lagi bini nya ... Banyak loh yang pengen dekat sama Rizon tapi sejauh ini ga ada yang digubrisnya. ga usah jauh-jauh diangkatan kita aja ada yang patah hati semenjak tau kalian udah merried."


"kakak serius apa lagi manas-manasin Nina nihh??"


"beneran... dulu sempat mikir Rizon ga suka perempuan malah... malahan cewek-cewek yang ganjen sok akrab sama dia... tapi seperti biasa no respon dari dia."


"Sekedar Nina tau aja. Biar kamu makin cinta sama Rizon" suara kak Baim setengah menggoda.


"jujur ya, pas ngeliat kamu dirumah Rizon di Manna bingung jadinya. Yang kakak tau dia kan masih dalam masa pendekatan."


"yang namanya jodoh kak...Semuanya kami lakukan awalnya hanya untuk ibu" gumamku mengingat ibu yang menbuatku sedikit mewek.


Tumben bisa ngobrol selepas ini dengan teman-teman Rizon. Ternyata banyak hal yang aku ga tau tentang suamiku sendiri. Apakah aku terbilang beruntung mendapatkannya atau???


Suara sepeda motor terdengar memasuki halamam. Ternyata kak Udan dan pacarnya yang datang.


"Gimana Na???" serunya masih baru masuk sembari melihat kakiku yang sudah diperban


"ga papa kak, udah aman"


"kamu nie bikin lakimu bingung aja..."


"namanya juga accident kak..." balasku singkat


Mereka semua sangat mengkuatirkanku. Begitu banyaknya orang-orang yang peduli pada Rizon. Begitu banyak yang peduli padanya. Bisa dikatakan dia orang baik dimata teman-temannya.


"Na, kok masih tinggal ngekos sie? kan Rizon sudah ada rumah?" Baim dengan penasarannya


"makanya kita-kita ga curiga kalo mereka udah married ya karna itu, masih ga tinggal bareng."


"menghindari hal-hal yang diinginkan kak" jawabku spontan membuat yang lainnya manyun.

__ADS_1


__ADS_2